KH Mas Alwi atau Sayyid Alwi Abdul Aziz az-Zamadghon merupakan pengusul nama Nahdlatul Ulama. | DOK NU
29 Nov 2020, 04:45 WIB

KH Mas Alwi, Sosok di Balik Nama NU

Kiai Mas Alwi termasuk generasi awal yang membesarkan NU dan pengusul nama NU.

OLEH MUHYIDDIN

 

Sebagai salah satu organiasi masyarakat (ormas) Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) banyak melahirkan tokoh. Mereka berjuang tidak hanya untuk kemaslahatan Muslimin, tetapi juga bangsa dan kemanusiaan umumnya.

Di antara berbagai ulama yang berkiprah melalui jam’iyah NU adalah Sayyid Alwi Abdul Aziz az-Zamadghon. Sang alim lebih akrab dengan panggilan KH Mas Alwi.

Terkait

Akan tetapi, namanya barangkali tidak begitu populer di kalangan umat Islam. Bahkan, belum tentu warga Nahdliyin sendiri mengenal atau mengenang kiprahnya. Padahal, Kiai Mas Alwi termasuk generasi awal yang membesarkan NU. Nama organisasi itu pun bersumber dari pemikirannya.

Seperti tampak dari gelarnya, tokoh ini termasuk keturunan Nabi Muhammad SAW atau kalangan habib. Ayahnya bernama Sayyid Abdul Aziz Az-Zamadghon, seorang mubaligh masyhur. Bila ditelusuri silsilahnya, Kiai Mas Alwi juga termasuk keluarga besar Sunan Ampel, salah seorang wali songo yang begitu dihormati masyarakat Jawa.

Tahun kelahirannya tidak diketahui secara pasti. Berbagai sumber menyebutkan, ketika NU berdiri pada 1926, Kiai Mas Alwi telah berusia 35 tahun. Maka, dapat diperkirakan bahwa sang habib lahir sekitar tahun 1890-an.

 
Bila ditelusuri silsilahnya, Kiai Mas Alwi juga termasuk keluarga besar Sunan Ampel, salah seorang wali songo yang begitu dihormati masyarakat Jawa.
 
 

Sejauh ini, belum ada data yang cukup mendeskripsikan masa kecil Kiai Mas Alwi. Yang pasti, rihlah keilmuan yang pernah dijalaninya tak begitu berbeda dari umumnya ulama Nahdliyin. Ia belajar dari satu pesantren ke pesantren lainnya demi menuntut ilmu-ilmu agama. Kedua orang tuanya juga berperan penting dalam menumbuhkan kecintaannya terhadap agama.

Sebelum dewasa, Mas Alwi pernah nyantri di Bangkalan, Pulau Madura, tepatnya pada pondok pesantren yang dipimpin Syaikhona Kholil. Hal yang sama juga dilakukan KH Mas Mansur. Mas Alwi merupakan sepupu dari tokoh Muhammadiyah yang juga pahlawan nasional itu. Di bawah bimbingan waliyullah tersebut, dua orang “mas” ini mendapatkan banyak pelajaran dan hikmah mengenai Islam dan kehidupan.

Usai dari Madura, Mas Alwi meneruskan perjalanannya ke Pesantren Siwalan Panji, Sidoarjo, Jawa Timur. Masa belajarnya di sana dilaluinya dengan penuh ketekunan dan kesungguhan. Peluang besar datang kepadanya setelah itu. Ia dapat menunaikan ibadah haji ke Baitullah.

Kesempatan itu juga dimanfaatkannya untuk menuntut ilmu-ilmu agama kepada para syekh dan ulama di Tanah Suci. Bahkan, selang beberapa waktu kemudian dirinya berkesempatan untuk keliling Eropa. Di Benua Biru, mubaligh keturunan Nabi SAW itu mendalami topik pembaruan Islam dan respons masyarakat Barat terhadap agama ini.

 
Peluang besar datang kepadanya setelah itu. Ia dapat menunaikan ibadah haji ke Baitullah.
 
 

Setelah puas mendalami ilmu di perantauan, maka saatnya kembali. Begitu sampai di Tanah Air, KH Mas Alwi tidak hanya sibuk dengan aktivitas mengajar, tetapi juga berdagang. Ia membuka sebuah toko kelontong di Jalan Sasak Ampel, Surabaya. Di kawasan tersebut, cukup banyak keturunan hadrami yang berprofesi sebagai saudagar. Tak sedikit pula yang sukses secara finansial.

Bagaimanapun, keseriusan Kiai Mas Alwi dalam mencerdaskan kehidupan masyarakat begitu besar. Ia pun mendirikan sekolah Nahdlatul Wathon di Surabaya. Demikianlah sepak terjangnya sebelum turut mendirikan organisasi NU. Memang, ketokohannya sudah dikenal luas kalangan ulama yang berhaluan tradisionalis, khususnya Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari.

Sosok Kiai Mas Alwi dapat digolongkan sebagai generasi yang mendirikan NU. Ulama Nusantara keturunan Hadramaut, Yaman, ini turut berperan serta dengan KH Hasyim Asy’ari, KH Abdul Wahab Hasbullah, KH Ridlwan Abdullah, dan lain-lain untuk mewujudkan jam’iyah bagi kalangan Islam-tradisionalis.

 
Sebelum NU didirikan, Kiai Mas Alwi bersama Kiai Wahab Hasbullah dan Kiai Ridlwan Abdullah sudah bergerak secara aktif di masyarakat.
 
 

Sebelum NU didirikan, Kiai Mas Alwi bersama Kiai Wahab Hasbullah dan Kiai Ridlwan Abdullah sudah bergerak secara aktif di masyarakat. Ketiganya telah bersahabat setidaknya sejak sama-sama belajar di pesantren yang diasuh Syaikhona Kholil Bangkalan. Bahkan sejak masih berstatus santri, mereka sudah terlihat hebat, baik kecerdasan maupun kepandaiannya.

Ketiga kiai tersebut juga tidak terlalu jauh jarak usianya. Boleh dikatakan, mereka sebaya. Setelah terjun ke masyarakat, Kiai Mas Alwi bersama Kiai Ridlwan Abdullah dan Kiai Wahab Hasbullah turut membidani berdirinya sekolah Nahdlatul Wathon. Ketiganya juga didukung KH Mas Mansur, yang kemudian menjadi kepala sekolah tersebut.

Waktu terus berjalan, Kiai Mas Mansur lantas tertarik pada gagasan modernisme Islam. Hal itu antara lain timbul dari kegemarannya membaca berbagai risalah atau buletin yang berasal dari Mesir. Akhirnya, Kiai Mas Mansur menjadi kader organisasi Muhammadiyah.

Mengusulkan nama

Situasi politik di Makkah berubah sejak awal abad ke-20. Setelah berbagai dinamika, Ibnu Saud akhirnya menjadi raja yang menguasai Hijaz. Lantas, penguasa tersebut menerapkan asas tunggal, yakni mazhab wahabi di Tanah Suci.

Imbasnya, para pendukungnya hendak menghancurkan semua peninggalan sejarah Islam maupun pra-Islam, yang selama ini banyak diziarahi. Mereka menilai ziarah ke situs-situs itu sebagai bi'dah.

Gagasan kaum wahabi mendapat sambutan hangat dari kaum Islam-modernis di Indonesia kala itu. Sebaliknya, kalangan pesantren yang selama ini membela keberagaman, menolak asas tunggal wahabi yang diberlakukan di Tanah Suci. Penolakan juga dialamatkan kepada tindakan menghancurkan warisan peradaban, yakni situs-situs ziarah tersebut.

Dalam Kongres Al Islam di Yogyakarta pada 1925, kalangan pesantren tidak diajak serta. Akhirnya, kelompok Islam-tradisionalis itu berada di luar delegasi yang hendak dikirim ke Mu'tamar 'Alam Islami (Kongres Islam Internasional) di Makkah.

Menghadapi keadaan demikian, KH Abdul Wahab Hasbullah mengusulkan agar kalangan pesantren membuat delegasi sendiri. Dibentuklah Komite Hejaz.

Berangkat dari itu, para ulama tradisionalis lantas merasa perlu untuk membentuk sebuah organisasi. Inilah cikal bakal NU yang berdiri pada 16 Rajab 1344 H atau bertepatan dengan 31 Januari 1926. Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari duduk sebagai Rais Akbar.

Sebelum tanggal bersejarah itu, Kiai Hasyim mengundang berbagai alim ulama untuk mengutarakan pendapatnya. Menurut penuturan KHR As'ad Syamsul Arifin, para kiai pada saat itu mengusulkan beberapa nama yang dirasa pas untuk organisasi tersebut. Turut hadir dalam pertemuan ini, Kiai Mas Alwi lantas mengusulkan nama Nahdlatul Ulama.

 
Turut hadir dalam pertemuan ini, Kiai Mas Alwi lantas mengusulkan nama Nahdlatul Ulama.
 
 

Kiai Hasyim bertanya, “Mengapa harus pakai nahdlatul, kok tidak jam'iyah ulama saja?”

“Karena tidak semua kiai memiliki jiwa nahdlah (bangkit). Ada kiai yang sekadar mengurusi pondoknya saja, tidak mau peduli terhadap jam'iyah,” jawab Kiai Mas Alwi.

Mendengar jawaban yang mantap itu, sang hadratussyekh pun menyatakan setuju. Maka diputuskanlah bahwa nama organisasi ini adalah Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama). Kisah tersebut juga sesuai dengan riwayat dari H Solahuddin Azmi, putra KH Mujib Ridlwan yang tidak lain merupakan cucu pencipta lambang NU, KH Ridlwan Abdullah.

Belakangan ini, nama KH Mas Alwi diusulkan sebagai pahlawan nasional. Menurut Wakil Sekretaris Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur KH Syukron Dosi, pihaknya sudah mengajukan beberapa kiai dan pejuang NU untuk dijadikan sebagai pahlawan nasional. Di antaranya adalah Kiai Mas Alwi.

Sebab, lanjut dia, sang inisiator nama NU itu berperan besar dalam sejarah kemerdekaan negeri. “PWNU sebenarnya sudah mendorong beberapa nama kiai-kiai, khususnya yang pendiri awal (NU) untuk diusulkan jadi pahlawan nasional. Salah satunya, Kiai Mas Alwi,” ujar Kiai Syukron kepada Republika, baru-baru ini.

Bagaimanapun, ia mengakui bahwa referensi tentang kehidupan dan rekam jejak perjuangan Kiai Mas Alwi masih sedikit. Bahkan, tahun wafatnya pun masih belum diketahui secara pasti karena terdapat banyak versi.

“Karena sumber di keluarga dengan sumber yang bersebaran di beberapa warta NU itu berbeda. Maka kita mau mendudukkan itu,” katanya.

Salah satu kontribusi nyata Kiai Mas Alwi, lanjut dia, ialah dalam bidang pendidikan. Ia menerangkan, sang habib telah mendirikan sekolah Nahdlatul Wathon bersama KH Abdul Wahab Hasbullah—sosok yang sudah mendapatkan gelar pahlawan nasional.

“Dimulai dari proses mendirikan Nahdlatul Wathon, salah satu embrio berdirinya NU. Jadi sangat luar biasa kontribusinya di bidang pendidikan,” tutup dia.

photo
ILUSTRASI Suasana kota di Belanda. Seorang pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Mas Alwi pernah menghabiskan waktu belajar di Belanda dan Prancis, antara lain, untuk mengkaji gagasan Renaisans. - (DOK WIKIPEDIA)

Mencari Arti Renaisans Hingga ke Eropa

Sayyid Alwi Abdul Aziz az-Zamadghon merupakan salah seorang tokoh yang mendirikan Nahdlatul Ulama (NU) pada 1926. Mubaligh yang akrab disapa KH Mas Alwi itu dikenang, antara lain, sebagai pemberi nama bagi organisasi tersebut. Berbagai sumber menyebutkan, pribadinya yang tawaduk dan cermat.

Pada awal abad ke-20, kaum Muslimin sedunia sedang menghadapi tantangan serius dari kolonialisme Barat. Sebagian kalangan meresponsnya dengan mengajukan gagasan modernisme Islam. Kontestasi wacana itu pun sampai ke Nusantara, antara lain, melalui jaringan haji atau para pelajar yang pernah merantau ke Haramain dan Mesir.

KH Mas Alwi termasuk kelompok alim yang pernah menimba ilmu di Tanah Suci. Ia pun turut merasakan, bagaimana sebagian Muslimin menyambut gegap gempita gagasan modernisme, seperti yang dicetuskan akademisi Universitas al-Azhar (Mesir) Muhammad Abduh. Salah seorang yang terpesona pada ide ini ialah KH Mas Mansur, yang masih berkerabat dengan Kiai Mas Alwi.

Akan tetapi, ada yang sedikit membuatnya penasaran. Mengapa Kiai Mas Mansur pergi ke Mesir untuk mempelajari gerakan pembaruan Islam? Bukankah gagasan pembaruan itu ada di Eropa dengan gerakan Renaisans?

Maka dari itu, Kiai Mas Alwi pun berpikir keras agar dapat sampai ke Benua Biru. Maka ia memilih untuk bekerja di kapal yang berlayar ke Eropa, khususnya Prancis dan Belanda.

Kabar ini sampai ke pihak keluarga di Tanah Air. Mereka sempat kecewa. Sebab, waktu itu ada kesan bahwa mengikuti bekerja di kapal sarat dengan kegiatan negatif. Di atas kapal, ada perjudian, zina, mabuk, dan tindak asusila lainnya.

Sejak itu, keluarga Kiai Mas Alwi di Indonesia mengeluarkannya dari silsilah keluarga. Bahkan, ada rencana mengusirnya dari rumah begitu kembali pulang. Setelah sekian lama, ia pun berhasil mendapatkan jawaban dari kegelisahannya.

Setiba di Tanah Air, orang-orang banyak mengucilkannya. Tidak hanya tetangga, melainkan juga para sahabat dan rekan sejawatnya. Tak patah arang, Kiai Mas Alwi kemudian membuka warung kecil di Jalan Sasak, dekat wilayah Ampel, Surabaya.

Setelah mengetahui Mas Alwi pulang, Kiai Ridlwan pun mengunjungi warungnya pada suatu hari. “Kenapa sampeyan datang ke sini, Kang? Nanti sampeyan dicuci pakai debu sama para kiai lain, sebab warung saya ini sudah dianggap najis mughalladzah?” kata Kiai Mas Alwi.

“Dik Mas Alwi, sebenarnya apa yang sampeyan lakukan sampai pergi berlayar ke Eropa?” tanyanya.

“Begini Kang Ridlwan. Saya ingin memahami, apa sih sebenarnya Renaisans itu? Lah, Dik Mansur (KH Mas Mansur –Red) mendatangi Mesir untuk mempelajari Renaisans, itu salah. Sebab, tempatnya ada di Eropa,” jawabnya.

“Renaisans di Mesir itu sudah tidak murni lagi, Kang Ridlwan, sudah dibawa makelar. Lah orang-orang itu mau melakukan pembaruan apa dalam tubuh Islam? Agama Islam sudah sempurna. Tidak ada lagi yang harus diperbaharui,” sambung Kiai Mas Alwi lagi.

Ia pun menambahkan, Renaisans yang diupayakan ada dalam dunia Islam merupakan upaya pecah belah yang dihembuskan dunia Barat. Kiai Ridlwan lantas bertanya, “Dari mana sampeyan tahu?”

“Karena saya berhasil masuk ke banyak perpustakaan di Belanda,” jawabnya.

“Bagaimana caranya sampeyan bisa masuk?”

Kiai Mas Alwi kemudian menuturkan bahwa selama di Belanda dirinya menikah dengan seorang perempuan setempat yang sudah diislamkannya. Istrinya itu kemudian mengantarkannya ke banyak perpustakaan.

Setelah Kiai Mas Alwi mengisahkan perjalanannya ke Eropa secara panjang lebar, Kiai Ridlwan pun berkata, “Begini, Dik Alwi, saya ingin menjadi pembeli terakhir di warung ini.”

“Ya jelas terakhir Kang Ridlwan, karena ini sudah malam.”

“Bukan begitu. Sampeyan harus kembali lagi ke Nahdlatul Wathon. Sebab sudah tidak ada yang membantu saya sekarang. Kiai Wahab lebih aktif di Taswirul Afkar. Sampeyan harus membantu saya,” jelas Kiai Ridlwan.

Keesokan paginya, Kiai Mas Alwi ternyata sudah tiba di Nahdlatul Wathon sebelum sebelum Kiai Ridlwan sampai.

Kok sudah ada di sini?”

“Iya Kang Ridlwan, tadi malam ternyata warung saya laku dibeli orang. Uangnya bisa kita gunakan untuk sekolah ini,” jawab Kiai Mas Alwi. Demikianlah kedua kiai muda tersebut membesarkan sekolah Nahdlatul Wathon.


×