Warga berkumpul di dekat mural yang menggambarkan Diego Maradona, di Napoli, Italia, Rabu (25/11) malam. Maradona sukses mengantarkan Napoli meraih gelar juara Liga Italia saat membela klub tersebut. | Fabio Sasso/LaPresse via AP
27 Nov 2020, 03:00 WIB

Mengenang Sang Seniman Bola Maradona

Para mantan pemain timnas Indonesia memuji Maradona yang telah berpulang.

 
 
NAMA TOKOH
 

OLEH FITRIYANTO

Pemain sepak bola biasanya menceritakan kekalahan dengan muram. Tak begitu dengan Mundari Karya, salah satu penggawa lawas timnas Indonesia, saat bertutur pada Republika, Kamis (26/11).

Dengan penuh semangat, pria berusia 61 tahun itu menuturkan kekalahan 5-0 Garuda Muda dalam ajang Piala Dunia KU-17 pada 1979 di Tokyo, Jepang. Kala itu, Indonesia tergabung dalam Grub B bersama Argentina, Polandia, dan Yugoslavia. Indonesia menjalani pertandingan perdana melawan Argentina pada 26 Agustus 1979 di Stadion Omiya, Tokyo.

Menjelang pertandingan tersebut, bahkan sejak di Jakarta, Mundari sebagai bek sudah diwanti-wanti oleh pelatih Sucipto Suntoro soal seorang pemain yang kabarnya spesial. Bernomor punggung 10, namanya Diego Armando Maradona.

Terkait

"Betul saya ditugasi menjaga Maradona. Saya bahkan mendapat porsi latihan tambahan untuk menjaga Maradona. Saya diminta ke mana pun Maradona bergerak untuk selalu menjaganya dengan ketat," ia berkisah kepada Republika, kemarin.

Singkat kata, tugas Mundari hanya satu: membuat Maradona tidak bisa leluasa mengobrak-abrik pertahanan timnas saat itu.

Namun, saat pertandingan berlangsung, seluruh rencana di kepala Mundari berantakan. Ia kesulitan menahan laju gerak Maradona yang lincah. "(Selain itu) ternyata ada dua pemain Argentina lainnya (Ramon Diaz dan Juan Barbas) yang wajah dan bodinya juga mirip dengan Maradona. Saya sering salah orang karena memang mirip wajahnya."

Tubuh Maradona memang tak tinggi untuk ukuran pemain bola, hanya 165 sentimeter. Tapi, bagi dia, pusat gravitasi yang rendah itu menjadi keuntungan untuk melesat cepat dan meliuk-liuk.

"Maradona juga berkali-kali melewati saya. Tetapi, bukan hanya saya. Dua gol yang dicetaknya adalah hasil dari gocekan bola dari separuh lapangan yang melewati para pemain kita. Skill dan kecepatan Maradona luar biasa," kata Mundari mengenang.

Pada menit ke-19, jauh dari kotak penalti, Maradona menggocek bola melewati beberapa pemain hingga tiba di depan gawang. Belum puas, kiper pun ia gocek pula, lalu memasukkan bola ke gawang kosong.

Kemudian pada menit ke-39, ia menggocek satu bek Indonesia di depan kotak penalti, lalu melepaskan tembakan dengan kaki terkuatnya, kaki kiri, menyarangkan bola di pojok gawang yang dijaga Endang Tirtana. "Kalau melihat gerakan Messi (megabintang FC Barcelona Lionel Messi) itu kan hebat. Tapi, Maradona sudah melakukan itu sebelumnya, bahkan dengan skill yang lebih baik."

Mundari terkesan. Tak hanya di dalam lapangan, juga saat latihan. Saat itu, timnas Indonesia dan Argentina berada dalam satu hotel yang sama di Tokyo. "Saya lihat Maradona selalu ada latihan khusus sendiri. Dia sangat disiplin," tuturnya.

photo
Diego Maradona dijegal pemain Italia Claudio Gentile dalam pertandingan di Piala Dunia 1982 di Stadion Sarra, Barcelona, Spanyol.  - (AP Photo)

Pesebakbola nasional lainnya, Bambang Nurdiansyah yang bermain sebagai penyerang kala itu mengamini pandangan Mundari.

Banur, sapaan akrap pria yang kini melatih itu, menambahkan meski ketika itu main di timnas junior, namun Maradona sebelumnya sudah tampil bersama timnas senior Argentina. Jadi semua sudah tahu potensi Maradona. "Sehingga sejak di Jakarta pun kita sudah antisipasi Maradona. Bahkan pelatih Timnas Indonesia, Sucipto Suntoro sudah menugaskan secara khusus Mundari Karya untuk menjaga Maradona." Ujarnya.

Apa mau dikata, Garuda Muda memang kalah kelas kala itu. "Babak pertama kita ketinggalan 0-5. Babak kedua sepertinya Argentina sudah mengendorkan permainan. Kalau tidak salah Maradona mencetak dua gol dalam laga tersebut."

Maradona walau tidak tinggi dan berbadan gempal, menurut Banur memilik skill yang luar biasa. Skill itu tidak hanya menyihir penonton, namun juga lawannya. Ia punya kemampuan mengangkat tim semenjana jadi kekuatan yang diperhitungkan. "Begitulah Maradona. Skill-nya dia seakan memiliki Ruh. Berbeda dengan yuniornya Lionel Messi, walau skill hebat tapi tidak ada ruhnya. Pemain seperti Maradona tidak bisa dibentuk oleh manusia. Dia terlahir menjadi bintang karena dilahirkan begitu oleh Tuhan," kata Banur.

Hal yang dialami Mundari serta Banur dan seluruh lawan-lawan Argentina dalam kompetisi tersebut semacam pertanda bagi kejayaan Maradona yang berpulang akibat serangan jantung pada Rabu (25/11). Selepas menjuarai kompetisi itu, Maradona merangsek jajaran top dunia dan perlahan berubah jadi legenda.

Pada 1982, dua tahun setelah menjuarai Piala Dunia KU-17 pada 1979, ia bergabung dengan klub elite Argentina Boca Junior. Hanya setahun, ia lalu bergabung dengan klub papan atas Spanyol FC Barcelona dengan mahar fantastis, 3 juta poundsterling.

Dua tahun kemudian, ia bergabung dengan klub dari selatan Italia, Napoli, dengan harga 5 juta poundsterling. Saat tiba di San Paolo, kandang Napoli, stadion tersebut sudah dipenuhi 80 ribu penggemar yang menyambutnya bagai juru selamat.

Hanya dua tahun, ia jadi fondasi kokoh yang mengantarkan Napoli meraih scudetto alias juara Liga Italia perdana pada 1987, kemudian pada 1990. Ia juga mendatangkan Piala UEFA pada 1989. Capaian tersebut tak biasa karena Liga Italia biasanya dikuasai klub-klub kaya dari bagian utara, seperti Juventus, AC Milan, dan Inter Milan.

Namun, panggung sebenarnya tersaji bagi kejeniusan Maradona pada Piala Dunia 1986 di Meksiko. Dunia menyaksikan bagaimana Maradona demikian ligat jadi komando lapangan tengah. Bola seperti melekat di kakinya. Umpannya akurat dan visioner, kreativitasnya di lapangan hijau kerap mengejutkan lawan.

Dan, pada pertandingan melawan Inggris di semifinal, dunia menyaksikan dua sisi Maradona. Gol pertama yang dicetak dengan tangan kiri, tetapi disahkan wasit adalah sisi gelap Maradona.

Sementara gol kedua, ia berlari sendirian membawa bola dari tengah lapangan, kemudian melewati lima pemain Inggris, termasuk kiper. "Gol pertama ilegal. Tapi, gol kedua? Itu benar-benar sebuah keajaiban," kata Sir Bobby Robson, dikutip BBC Sport.

Sayangnya, selepas menjuarai Piala Dunia 1986 tersebut, di luar lapangan hijau, Maradona terjebak ketenarannya. Ingar-bingar panggung sepak bola membuatnya berkenalan dengan obat-obatan terlarang. Setelah takluk 0-1 dari Jerman dalam Piala Dunia 1990, ia dinyatakan positif menggunakan doping.

Setelah bertahun-tahun berjibaku dengan kasus narkotika, Maradona kemudian memutuskan pensiun dari dunia sepak bola pada usia 37 tahun. Maradona juga sempat divonis dua tahun 10 bulan penjara karena menodongkan senjata kepada wartawan. Kebiasaannya mengonsumsi kokain dan alkohol membuatnya terjerat masalah kesehatan.

Berat badan yang sempat menyentuh angka 128 kilogram menyebabkan jantungnya bermasalah. Namanya sempat kembali menjadi sorotan saat menangani timnas Argentina pada Piala Dunia 2010 dan terhenti di perempat final. Hingga akhirnya, pada 25 November 2020, tepat dalam usianya yang ke 60 tahun, Maradona meninggalkan para penggemar untuk selamanya.

Terlepas dari sisi gelap tersebut, penampilannya di lapangan hijau terus menjadi inspirasi. "Saya mengenal Maradona sejak 1982. Waktu Maradona tampil di Piala Dunia. Saat itu, saya masih kecil. Dia yang membuat saya ingin menjadi pemain sepak bola," ujar mantan striker andalan timnas Indonesia Kurniawan Dwi Julianto kepada Republika.

Sementara itu, mantan penyerang timnas Indonesia Peri Sandria merengkuh “kenakalan” Maradona. Ia mengaku banyak mempelajari teknik diving dari Maradona. “Maradona juga salah satu pemain yang memiliki aksi diving yang baik. Yang tidak terlihat oleh wasit. Salah satunya yang sangat terkenal, tentu saja gol tangan Tuhan ke gawang Inggris."

Di mata palang pintu legendaris Persib Bandung Robi Darwis, Maradona adalah seniman lapangan hijau yang luar biasa. “Maradona begitu istimewa karena memiliki ciri khas dan juga kehadirannya memberi pengaruh, baik bagi klub maupun negaranya. Kita semua sangat kehilangan." 


×