Kanselir Jerman Angela Merkel selepas menggelar rapat terkait Covid-19 di Berlin, awal November ini. | EPA-EFE/FILIP SINGER

Kisah Mancanegara

'Pemalas' Jadi Pahlawan di Jerman

Para pahlawan di Jerman itu adalah orang yang hanya duduk di sofa dan menonton televisi seharian.

OLEH LINTAR SATRIA

Bagi Pemerintah Jerman, 'pemalas' pun bisa menjadi pahlawan. Laman Deutsche Welle edisi Senin (16/11) melaporkan kampanye berjudul #pahlawanspesial -Bersatu Lawan Korona dalam video berdurasi 1 menit 35 detik. 

Dalam video itu, Pemerintah Jerman mengajak masyarakat mengikuti pahlawan virus korona. Para pahlawan itu adalah orang yang hanya duduk di sofa dan menonton televisi seharian. Mereka dikenal dengan istilah the couch potato.

Video pendek itu dimulai seorang laki-laki tua yang mengenang kembali 'pengabdiannya' kepada negara pada gelombang kedua wabah virus korona. Ia mengingat saat itu ia masih menjadi mahasiswa berusia 22 tahun. 

"Pada musim dingin 2020, ketika pandangan seluruh negeri mengarah pada kami, saya baru berusia 22 tahun dan belajar teknik," kata narator. "Pada usia itu, kita ingin pesta, belajar, mengenal orang, minum bersama teman-teman tapi nasib memiliki rencana lain untuk kita," tambahnya. 

Dengan musik yang dramatis adegan pindah ketika narator masih seorang laki-laki muda. Wajah laki-laki muda menghadap kamera, tiba-tiba ada ledakan di matanya. 

photo
Billboard di salah satu bioskop di Stuttgart menyindir pandemi yang memaksa penutupan bioskop-bioskop tersebut, Kamis (13/11). 

"Tiba-tiba nasib negara berada di tangan kami. Jadi kami mengerahkan semua keberanian kami dan melakukan apa yang diharapkan dari kami, satu-satunya hal yang benar," kata narator. "Yaitu kami tidak melakukan apa pun, benar-benar tidak melakukan apa pun. malam seperti rakun," tambah narator dengan nada serius. 

"Siang dan malam, kami tetap diam di rumah dan kami bertempur melawan penyebaran virus," lanjutnya. 

Adegan bolak balik antara narator yang sudah tua dengan masa mudanya. Saat masih muda narator hanya tiduran di sofa, mengunyah cemilannya dan terus-menerus memandang televisi. "Sofa kami adalah garis depan dan kesabaran adalah senjata kami," kata narator. 

Iklan itu berakhir saat narator mengatakan, "Mengingatnya lagi, itu nasib kami, itulah bagaimana kami menjadi pahlawan."

Dunia masih terus bertarung melawan Covid-19 dan penyebarannya. Kasus Covid-19 bahkan telah menerobos ke dalam Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Jenewa. WHO mengatakan sejak pandemi Covid-19 ada sekitar 65 staf mereka di kantor pusat Jenewa yang terinfeksi virus korona. Kini mereka menyelidiki klaster tersebut.

Kepala teknis WHO untuk Covid-19 Maria Van Kerkhove mengatakan, pada satu pekan terakhir ada lima staf WHO yang positif Covid-19. "Kami semua baik-baik saja, gejala kami ringan atau tidak ada gejala sama sekali," katanya, Selasa (17/11). 

Laman Johns Hopkins University melaporkan, ada lebih dari 55 juta kasus Covid-19 secara global dan lebih dari 1,3 juta pasiennya meninggal dunia. Kasus terbanyak masih dihadapi di Amerika Serikat, yaitu lebih dari 11,2 juta kasus. Berikutnya adalah India yang menghadapi lebih dari 8,8 juta kasus.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat