Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir. | Republika/ Wihdan
17 Nov 2020, 03:00 WIB

Milad Muhammadiyah Suarakan Persatuan

Resepsi Milad ke-108 Muhammadiyah akan digelar secara virtual di tiga titik.

JAKARTA –- Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah bakal memperingati 108 tahun berdirinya perserikatan tersebut. Pada tahun yang penuh tantangan ini, penguatan persatuan dinilai mendesak guna menghadapi persoalan-persoalan bangsa pada masa pandemi.

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof Haedar Nashir mengatakan, tema milad tahun ini untuk mempertegas gerak, sikap, dan kebijakan Muhammadiyah, terutama dalam menghadapi keragaman paham, pandangan, dan orientasi keagamaan yang tumbuh dan berkembang.

Namun, ia menekankan, pada saat yang sama Muhammadiyah senantiasa memberi solusi terhadap masalah negeri, termasuk selama masa pandemi. Dengan kata lain, walau sarat beban, Muhammadiyah berazam terus memancarkan semangat untuk terus berbuat.

"Kenyataannya, sejak masa awal wabah Covid-19 menyapa negeri, Muhammadiyah telah berbuat yang terbaik dan maksimal. Baik dalam aspek ibadah dan keagamaan maupun masalah sosial dan kesehatan, bahkan yang menyangkut aspek ekonomi," kata Haedar dalam konferensi pers virtual, Senin (16/11).

Terkait

Sejalan dengan itu, Muhammadiyah sadar masalah-masalah negeri ini, masalah-masalah kebangsaan baik politik, ekonomi, budaya, maupun keagamaan yang dihadapi bangsa ini sangat kompleks sehingga tidak mungkin bisa diselesaikan hanya satu pihak.

"Insya Allah Muhammadiyah akan mampu dan memberi kontribusi bagaimana menghadapi pandemi dan menyelesaikan masalah negeri dengan spirit dakwah dan tajdid," ujar Haedar.

Dengan demikian, Haedar melanjutkan, gerakan Islam Muhammadiyah akan selalu hadir bertumpu di atas semangat menjadi syuhada'a alannas. Menjadi saksi sejarah yang membawa kemajuan bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan semesta yang rahmatan lil 'alamin.

"Muhammadiyah memandang, salah satu ancaman bangsa kita ke depan itu soal persatuan nasional, persatuan Indonesia. Politik yang makin bebas, kalau tidak berpijak pada nilai-nilai agama, Pancasila, dan kebudayaan luhur bangsa, itu akan makin mengarah pada setiap orang bebas untuk melakukan apa pun," kata Haedar Nashir dalam konferensi pers virtual, Senin (16/11).

Haedar juga menyebut model ekonomi saat ini cenderung liberal sehingga hanya berpihak pada siapa yang kuat dan berkuasa. Begitu pun kehidupan sosial budaya, terutama pada era media sosial yang membuat banyak orang cenderung bebas berbuat apa saja.

Adanya perbedaan politik tak lepas dari sorotan Haedar. Menurut dia, perbedaan politik merupakan dinamika berdemokrasi. Namun, dia mengingatkan, keselamatan dan masa depan bangsa ada di pundak setiap masyarakat Indonesia. Pemerintah, DPR, dan semua institusi kenegaraan pun memiliki tanggung jawab politik yang besar.

Haedar menyadari, masalah yang berat tentu bisa terjadi. Namun, jika tetap berada dalam semangat persatuan Indonesia, tidak ada masalah yang tidak bisa terpecahkan.

Sebaliknya, bila bercerai-berai, saling berhadapan satu sama lain, pemerintah berhadap-hadapan dengan rakyat, masyarakat saling berselisih, masalah ringan pun menjadi berat. "Di sinilah pentingnya jiwa kenegarawanan yang berdiri di atas prinsip persatuan Indonesia," ujarnya.

Masalah yang menimpa negeri ini, Haedar menerangkan, makin lama makin kompleks. Ketika persoalan itu tidak bisa ditemukan solusinya, lalu akan mengakumulasi masalah yang ada. Karena itu, diperlukan gerakan kolektif untuk berikhtiar menyelesaikan semua masalah yang dihadapi negara ini.

"Kami tidak bisa sendiri. Ketika kita menghadapi masalah, kuncinya adalah persatuan Indonesia. Jangankan masalah ringan, masalah berat pun bisa menjadi lebih ringan jika kita bersama," katanya.

Muhammadiyah, di usianya yang sudah menginjak 108 tahun ini, sebagai gerakan Islam dan kemasyarakatan yang berdiri sebelum republik berdiri, telah berkiprah untuk memajukan bangsa dan negara. Di antaranya melalui pendidikan, kesehatan, sosial kemasyarakatan, dan dakwah ke berbagai komunitas untuk mencerahkan cara berpikir sekaligus mencerdaskan kehidupan bangsa.

Muhammadiyah yang berdiri 8 Dzulhijah 1330 H atau 18 November 1912 akan memperingati miladnya 18 November 2020. "Meneguhkan Gerakan Keagamaan Hadapi Pandemi dan Masalah Negeri" diangkat menjadi tema milad ke-108 tahun tersebut.

Resepsi daring

Resepsi Milad ke-108 Muhammadiyah akan digelar secara virtual di tiga titik. Dari kantor PP Muhammadiyah di Yogyakarta, Masjid At-Tanwir Gedung Dakwah Muhammadiyah Jakarta Pusat, dan Edutorium Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).

Edutorium UMS merupakan lokasi Muktamar Muhammadiyah mendatang. Resepsi milad menampilkan paduan suara dari delapan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) secara daring dipandu penyanyi dan jawara Rising Star Indonesia, Indah Nevertari.

Kemudian, akan ada pula pembacaan puisi oleh Taufiq Ismail dan pemberian apresiasi kepada pejuang-pejuang Covid-19. Pelaksanaan milad sekaligus jadi momentum agar tidak kehilangan semangat terus beraktivitas menggerakkan Persyarikatan Muhammadiyah.

Tujuannya tidak lain agar gerakan Muhammadiyah selalu memberi solusi untuk negeri serta memberi kontribusi menyelesaikan masalah negeri dan akhirnya membawa umat dan bangsa makin berkemajuan.

Muhammadiyah juga akan memberi sejumlah penghargaan untuk menyambut Milad ke-108 yang jatuh pada 18 November ini. Sekretaris PP Muhammadiyah Agung Danarto menjelaskan, pemberian penghargaan itu merupakan salah satu agenda utama. Pemberian penghargaan itu sendiri dinamai 'Bakti untuk Negeri'.

"Penghargaan 'Bakti untuk Negeri' ini diberikan kepada perseorangan maupun institusi yang dipandang memiliki kontribusi dalam penanggulangan Covid-19," ujar dia dalam konferensi pers virtual, Senin (16/11).

Agung menjelaskan, penghargaan pertama akan diberikan kepada syuhada Covid-19, yaitu tenaga medis maupun pegawai rumah sakit yang telah berdedikasi menjalankan profesinya sampai mengembuskan napas terakhir di tengah pandemi Covid-19.

Muhammadiyah juga akan memberikan penghargaan kepada para individu yang memberikan optimisme dan harapan bahwa Covid ini bisa diselesaikan. “Tentu dengan pendekatan khas Muhammadiyah yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi," katanya.

Ada delapan penghargaan yang akan diberikan kepada individu yang telah berkontribusi di bidang pendidikan. Sebagian besar penghargaan akan diberikan kepada kalangan milenial, pelajar, ataupun mahasiswa yang telah menemukan inovasi teknologi dalam penanggulangan Covid-19.

"Ketiga, Muhammadiyah akan memberikan penghargaan kepada institusi perguruan tinggi yang memiliki peran dalam bidang penanggulangan Covid-19, baik itu menyangkut kesehatan, sosial, maupun ekonomi," katanya memaparkan. 


×