Keluarga bahagia (ilustrasi) | Freepik
17 Nov 2020, 12:48 WIB

Apakah Keluarga Anda Bahagia?

Keluarga yang harmonis bukan berarti tidak pernah berselisih pendapat.

Jika pertanyaan di atas diajukan pada keluarga Anda, kira-kira apakah jawabannya? Banyak indikator yang dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Salah satu ciri keluarga bahagia adalah setiap anggota bisa melihat apa pun yang terjadi dari sisi yang bahagia.

Sebaliknya, apa pun jika dilihat dari sisi negatif, ini menjadi indikator keluarga yang memiliki masalah kesehatan mental. Kesehatan mental tentu penting demi menjalankan fungsi-fungsi sebagai makhluk sosial. Hal ini dimulai dari lingkaran terkecil yaitu keluarga.

Psikolog Saskhya Aulia Prima, M.Psi.mengungkapkan hasil sebuah survei yang dilakukan selama lima bulan ini pada 4.010 orang menunjukkan 64,8 persen mengalami masalah psikologi, kecemasan, depresi dan trauma. Menjadi khawatir adalah wajar, namun perlu dikelola agar kesehatan mental terjaga. "Jadi yang menarik adalah biasanya sibuk di luar, ketika pandemi sama-sama harus di rumah, maka isu yang belum dimulai muncul dari ayah ke anak, ke ibu hubungan bersitegang," kata Saskhya yang juga Co-founder Tiga Generasi.

Hubungan tegang menandakan adanya banyak masalah mental. Bukan saja karena faktor pandemi, tapi kebetulan momen pandemi membuat semua masalah tercetus. Tentu saja, tidak sebatas saat pandemi, kesehatan mental harus tetap diperhatikan kapan saja. Namun pada masa pandemi, keluarga saat ini menghadapi tantangan yang tidak biasa.

Terkait

Tantangan saat bekerja dari rumah (WFH) adalah orang tua harus mengurusi dua pekerjaan sekaligus, rumah dan pekerjaan. Mengelola kesehatan mental tidak dapat ditunda sejalan dengan tantangan sehari-hari.

Menjadi bosan adalah wajar, namun yang tidak wajar adalah menghadapi situasi sekarang dengan putus asa atau enggan melakukan apa pun. Cara umum menghadapi situasi ini adalah menerima dan bersabar.

Mona Ratuliu, influencer sekaligus pendiri Komunitas ParenThink menilai pentingnya sikap tepat untuk menghadapi situasi apa pun termasuk pada masa pandemi Covid 19 sekarang ini.

Situasi di rumah dapat menjadi awal yang baik untuk saling mengkomunikasikan masalah dan memperbaiki hubungan di dalam keluarga. Sehingga kesehatan mental dalam keluarga dapat dijalin dengan baik.

Bagi ibu empat anak ini, keluarga yang harmonis bukan berarti tidak pernah berselisih pendapat. Untuk itu Mona pun merasa perlu usaha tersendiri untuk dapat membesarkan buah hatinya. "Setelah ikut seminar-seminar, baca, cari ilmu, ternyata butuh /skill/ luar biasa untuk mendidik anak yang selama ini saya nggak dapat," kata Mona.

Mona bercerita saat dikaruniai anak pertama, ia ternyata melakukan beberapa kesalahan seperti kurang sabar, frustrasi hingga mencubit dan mengurung sang buah hati. Mengasuh anak nyatanya tidak semudah membayangkan asyiknya mendandani anak dengan baju dan pita-pita lucu. Pola pengasuhan yang salah membuat ia juga sempat berkonflik dengan sang anak. Beruntung saat ini sang anak yang justru berkeinginan membantu teman-temannya mengatasi masalah mereka.

Pada dasarnya, pola asuh juga memengaruhi kesehatan mental keluarga. Masa pandemi bisa menjadi momentum memperbaiki pola asuh. Bagi yang memang hubungannya sudah baik, jadi keuntungan tersendiri.  Keluarga, untuk Mona, adalah satu tim sehingga apa pun yang terjadi harus menang bersama, kalah bersama.  "Buat yang masih kesulitan berjuang memperbaiki keluarga, inilah saatnya kesempatan dipaksa di rumah , mau tidak mau (harus) memperbaiki hubungan," kata Mona.

 
Buat yang masih kesulitan berjuang memperbaiki keluarga, inilah saatnya kesempatan dipaksa di rumah , mau tidak mau (harus) memperbaiki hubungan.
Mona Ratuliu
 

Kiat Kelola Stres

Mengapa kesehatan mental atau jiwa penting bagi keluarga? Psikolog Saskhya Aulia Prima, M.Psi menilai ini penting karena sangat berpengaruh kepada kesehatan fisik. ''Perlu melihat secara holistik bahwa semuanya harus jalan bersamaan karena mempengaruhi satu sama lain,'' kata dia.

Ketika kesehatan terganggu, maka imunitas bisa menurun cepat, stres hingga menyebabkan masalah fisik lainnya. Fungsi sebagai makhluk sosial pun akan terganggu, baik hubungan dalam pekerjaan maupun lingkungan masyarakat secara umum. Ia melihat sumber daya manusia (SDM) yang kerap dibutuhkan adalah yang memiliki perilaku prima, kondisi mental terjaga, tahan tekanan, serta disiplin.

Saskhya menekankan pentingnya intervensi dari sejak awal yang artinya dimulai dari lingkungan keluarga. Apalagi jika interaksi orang tua dan anak tidak berjalan baik.

Saskhya mengatakan memiliki hubungan baik antara anggota keluarga bisa membantu mengelola kesehatan mental. Penelitian Harvard menunjukkan penting sekali untuk menjaga kebahagiaan hidup lewat hubungan dekat bersama keluarga atau kerabat. ''Bagaimana mengembangkan keluarga yang sehat bukan berarti menjadi sempurna tapi tugas orang tua adalah bertumbuh dalam keluarga,'' lanjutnya.

Pada masa itulah, keluarga pun rentan mengalami stres. Saskhya pun mengungkap beberapa kiat mengelola stres di antaranya siapkan waktu yang berkualitas dengan keluarga.

Selain itu, atur pula pola pikir dengan baik ketimbang terus mengeluh dan memikirkan segala kemungkinan buruk. ''Cobalah bersahabat baik dengan diri sendiri. Karena kadang kita baik bertanya pada teman dan lain-lain, tapi jarang ngobrol dengan diri sendiri. Hari ini apa yang buat kita tersenyum, bertahan? Sebenarnya kita adalah sahabat terbaik kita," lanjut Saskhya.

Apa yang kita makan juga mempengaruhi tingkat kecemasan sekitar 90 persen. Karena kesehatan usus tidak hanya menentukan kesehatan fisik tapi juga mental. Tidak lupa tetap lakukan rutinitas walaupun belajar dan bekerja di rumah saja. Hal ini akan membantu kerja otak. "Otak juga mudah berpikir negatif. Jadi hindari pikiran atau postingan negatif," tambahnya.

 

 

 

photo
Keluarga bahagia (ilustrasi) - (Freepik)

Bangun Keluarga dengan Sehat Jiwa

Tidak bisa dipungkiri dengan kondisi pandemi saat ini, isu kesehatan jiwa terasa semakin dekat dan menjadi bagian dari kita. Akan tetapi sebenarnya ada atau tidaknya Covid-19, masalah kesehatan jiwa sudah ada dan banyak ditemui di masyarakat. Bahkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi bahwa masalah kesehatan jiwa akan menjadi beban kesehatan global tertinggi pada 2030 mendatang.

Rohika Kurniadi Sari, SH., M.Si., Asisten Deputi Pemenuhan Hak Anak Atas Pengasuhan, Keluarga, dan Lingkungan Pendidikan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI menyatakan dalam mewujudkan kesehatan mental keluarga dapat dimulai dengan menerapkan pola pengasuhan yang positif di rumah. Sebanyak 29,5 juta anak harus dipastikan sehat jiwanya.

Faktor pengasuhan tidak layak dan jiwanya tidak bagus dalam keluarga menyebabkan anak memiliki masalah mental. Anggota keluarga yang memiliki asisten rumah tangga (ART) dengan gangguan jiwa ditemukan di beberapa daerah. Anak dengan usia lebih dari 15 tahun dan perempuan lebih rentan dengan masalah kesehatan mental. "Paling tinggi Sulawesi dan terendah Jambi. Ada indikator kota dan kabupaten yang layak anak," ujarnya.

Keluarga sebagai agen inti diingatkan untuk menjaga baik kesehatan fisik, mental, moral sosial naak dilandaskan pada Undang-Undang Kesehatan Jiwa dan Perlindungan Anak. Iklim sehat keluarga bergantung pada komunikasi, komitmen, kreatif, dan aksi.

Kementerian PPPA mengajak keluarga mengikuti pola hidup sehat serta menghilangkan stigma agar muncul banyak pelopor agen perubahan ke depan. Masyarakat bisa mendapat advokasi dan melapor jika ada masalah. Kementerian juga melakukan semua aktivitas dengan gerakan protokol kesehatan keluarga.

Pendiri Sehat Jiwa, Nur Ihsanti mengatakan masalah jiwa justru datang dari sisi yang terdekat yaitu diri sendiri dan rumah sendiri. ''Jadi, tidak perlu jauh-jauh mencari kebahagiaan dan kesehatan jiwa, selain dari rumah sendiri,'' katanya.

Kesehatan jiwa termasuk unsur penting karena berdampak sangat baik terhadap kehidupan sosial maupun produktivitas buah hati. Untuk itu dia menilai penting membangun interaksi positif di dalam keluarga. Di masa pandemi, orang tua harus makin sadar bahwa komunikasi menjadi hal penting yang harus  dibangun karena sangat berdampak pada kondisi kesehatan anak.  "Anak kecil sering nggak tahu emosi itu apa. Kalau sedih, marah, harus apa, banyak remaja muncul problem berasal dari keluarga," ujar Nur Ihsanti.

Nur Ihsanti sering melihat bagaimana anak yang tidak mampu mengungkapkan perasaannya kepada orang tua. Tidak bisa bilang sayang ke orang tua. ''Ini karena orang tua menciptakan komunikasi yang kaku dan tidak bersahabat,'' ujarnya.

Adapun saat ini layanan untuk konsultasi sebenarnya sudah bisa diakses di layanan-layanan puskesmas. Jangan ragu jika merasa ada masalah agar langsung mendatangi layanan kesehatan jiwa.

Sebagai generasi penerus, anak dan remaja sangatlah penting diperhatikan kesehatan jiwanya. Masa remaja adalah masa yang rentan. Tingkat gangguan jiwa yang muncul di usia remaja pun meningkat signifikan setiap tahunnya. ''Karena itu, penting sekali adanya pendampingan oleh sistem sosial di sekitarnya untuk bisa menjadi tempat aman bagi remaja,'' kata Nur.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by TigaGenerasi | Psikolog (@tigagenerasi)

 


×