Pandemi Covid-19 | Pixabay
13 Nov 2020, 17:55 WIB

Transformasi Teknologi untuk Bangkit dari Pandemi

Pandemi merupakan pendorong untuk melakukan transformasi di berbagai bidang.

Pandemi Covid-19 yang berjalan lebih kurang tujuh bulan telah mengubah total aktivitas masyarakat. Salah satu hal yang paling terasa adalah kian masifnya pemanfaatan teknologi dalam kehidupan sehari-hari. 

Dibatasinya kegiatan tatap muka di hampir seluruh bidang, memaksa masyarakat beralih ke dunia digital. Hikmahnya, pandemi telah mempercepat pengadopsian teknologi digital di masyarakat.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Suharso Monoarfa mengungkapkan, pandemi yang terjadi saat ini merupakan pendorong untuk melakukan transformasi di berbagai bidang di Indonesia. Hal ini ia katakan saat menjadi Keynote Speaker webinar Alcatel-Lucent Enterprise (ALE) GovDay 2020 dengan tema Reshaping Indonesia Connected Government. 

Menurut Suharso, beberapa langkah yang telah dilakukan pemerintah antara lain penyediaan jaringan backbone fiber optik ke seluruh Ibukota kabupaten atau kota melalui Palapa Ring. Selain itu, pemerintah juga telah mengembangkan pusat data nasional, pengembangan jaringan intra-pemerintah, dan inisiasi penuntasan infrastruktur digital hingga ke pedesaan (program Last Mile). 

Terkait

Program Last Mile diharapkan selesai pada tahun 2022 dengan menghadirkan sinyal 4G di 12.500 desa yang belum tersentuh layanan sinyal 4G. “Percepatan digital juga dilakukan di berbagai bidang lain seperti kesehatan, keuangan, dan lingkungan,” ujarnya. 

Di bidang kesehatan, Suharso melanjutkan, misalnya melalui tele-medicine atau pelayanan kesehatan jarak jauh, terutama di daerah yang tenaga kesehatannya belum memadai. Di bidang lingkungan, pemanfaatan digital bisa dilakukan untuk melakukan pendataan potensi kebakaran, dan topografi.

Selain infrastruktur, faktor lain yang juga penting adalah tersedianya SDM digital yang mumpuni. Menurut Ketua Pelaksana Dewan TIK Nasional, Ilham Habibie, pemerintah perlu memfasilitasi kolaborasi antara industri dengan perguruan tinggi. 

Saat ini, kata Ilham, Indonesia masih memerlukan sekitar 9 juta talenta digital demi memenuhi kebutuhan terkait transformasi digital. Pemerintah juga perlu meningkatkan kualitas lembaga sertifikasi nasional TIK sebagai sarana percepatan SDM talenta digital di Indonesia. 

Mengembangkan Turisme Digital

photo
Ilustrasi digital tourism - (Pixabay)

Industri pariwisata adalah salah satu yang paling terdampak pandemi Covid-19. Wakil Menteri Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Angela Tanoesoedibjo, mengatakan, digital tourism merupakan salah satu hal penting dalam pengembangan pariwisata Indonesia ke depan. 

Pengalaman digital pun akan semakin relevan di masa sekarang dimana interaksi secara langsung menjadi terbatas. “Penguatan akses internet di tujuan wisata menjadi salah satu agenda penting dalam mewujudkan digital tourism,” ujarnya. 

Kemenparekraf, Angela melanjutkan, sedang membuat aplikasi keamanan dan kesehatan terintegrasi yang dapat digunakan wisatawan di tempat wisata untuk mengetahui keadaan di tujuan wisata tersebut. Obyek wisata Labuan Bajo dipilih menjadi pilot project dari aplikasi tersebut. 

Pemanfaatan teknologi atau platform digital juga menjadi nilai tambah bagi pelaku bisnis pariwisata di Indonesia. Channel Sales Manager Alcatel-Lucent Enterprise, Novse Hardiman menjelaskan, dengan menggunakan aplikasi wisata, kita akan bisa mengetahui apakah obyek wisata yang akan kita datangi aman atau tidak. 

Menurutnya, untuk perkembangan pariwisata ke depan, diperlukan pengembangan IoT (Internet of Things) karena sangat bermanfaat bagi pengguna jasa terkait misalnya transportasi, dan kesehatan.

E-Government Indonesia Meningkat

Bergulirnya pandemi, ternyata ikut pula mendorong peningkatan penggunaan teknologi dalam sistem pemerintahan. Penerapan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) yang dilakukan pemerintah berdasarkan Perpres No 25 Tahun 2018 mulai menunjukkan hasil yang positif. 

Hasil survei E-Government Development Index (EDGI) yang dirilis United Nations menunjukkan Indonesia saat ini berada di peringkat 88 atau naik 19 peringkat dibanding 2018. VP Channel and Territory, Alcatel-Lucent Enterprise Asia Pacific (APAC), Damien Delard, mengatakan, investasi aplikasi terkait e-government di seluruh dunia mengalami peningkatan sebesar 20 persen. 

Ia juga mengatakan, pengembangan smart cities juga mengalami peningkatan. Terutama terkait efisiensi transportasi atau lalu lintas, energi, termasuk dalam hal data-sharing, misalnya untuk layanan kesehatan, atau pantauan data lalu lintas. Laporan yang disampaikan International Data Corporation (IDC) juga menyebutkan, investasi inisiatif smart cities tahun ini mencapai 124 milia dolar Amerika Serikat (AS), atau naik 18,9 persen dibanding tahun sebelumnya.

ALE sebagai penyedia layanan teknologi, memiliki berbagai solusi yang bisa membantu menjawab berbagai tantangan terkait transformasi digital di Indonesia. “Indonesia memiliki kondisi geografis yang unik dan ini menjadi tantangan tersendiri dalam mengembangkan teknologi yang tepat untuk mendorong transformasi teknologi,” ujar Dirk Dumortier, selaku Head of Business Development Smart City and Healthcare APAC ALE.

Kondisi ini, ia melanjutkan, juga membutuhkan solusi yang unik yang sesuai dengan kebutuhan di masing-masing daerah. Tantangan-tantangan tersebut bisa dijembatani dengan solusi dari ALE, misalnya dengan citizen relationship management melalui platform Rainbow, yang merupakan platform komunikasi terintegrasi. 

 
Percepatan digital juga dilakukan di berbagai bidang lain seperti kesehatan, keuangan, dan lingkungan.
Suharso Monoarfa, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional.
 
 


×