Sejumlah massa yang tergabung dalam Aliansi Pergerakan Islam Jawa Barat melakukan longmars saat Aksi Bela Islam 411 di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Rabu (4/11). Dalam aksinya mereka mengecam dan memprotes pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron. | ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA

Internasional

05 Nov 2020, 05:05 WIB

Prancis Ingin Utusan Khusus ke Negara Muslim

Utusun khusus ini akan menjelaskan maksud pernyataan Macron.

PARIS -- Prancis, Rabu (4/11), dilaporkan sedang mempertimbangkan untuk mengirim utusan khusus ke negara-negara Muslim. The Guardian menyebutkan, utusan itu akan bertugas menjelaskan maksud Presiden Prancis Emmanuel Macron tentang sekularisme Prancis dan kebebasan berekspresi.

Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian dijadwalkan berkunjung ke Niger, Mesir, dan Maroko pekan ini. Ini menjadi salah satu upaya untuk menurunkan ketegangan dan sikap anti-Prancis.

Awal pekan ini Macron juga berbicara melalui telepon dengan Presiden Mesir Abdel-Fattah el-Sissi dan Presiden Palestina Mahmoud Abbas. Dalam percakapan itu Macron mencoba meredakan ketegangan serta mencoba meluruskan kesalahpahaman. Pada saat yang sama, Macron juga mempertahakan nilai-nilai yang dianut Prancis selama ini. Menurut kantor kepresidenan Prancis, Selasa, Abbas dan El-Sissi telah menyatakan dukungan mereka. 

Kantor kepresidenan Mesir mengatakan, El-Sissi mengatakan, hidup saling berdampingan "Seharusnya ditingkatkan melalui dialog, pemahaman, saling hormat, dan tanpa prasangka pada ikon keagamaan."

Sedangkan Abbas menekankan "Pentingnya setiap orang untuk menghormati agama dan simbol keagamaan." Seorang guru di Paris, Samuel Paty, dibunuh pada 16 Oktober. Pelaku merasa marah karena Paty menggunakan kartun Nabi Muhammad saat mengajar.

Aksi itu diikuti pembunuhan tiga orang di Nice dan pembunuhan empat orang di Wina telah mengundang kecaman berbagai pihak. Banyak pemimpin dunia Arab mengecam pembunuhan tersebut.

Laman the Guardian menyebutkan, pernyataan Macron mengenai sekularisme dan kebebasan berekspresi dinilai amat eksplisit maupun tersiran amat kuat. Pernyataannya bahkan membuat terkejut sejumlah pejabat Prancis sendiri. 

Sikap Saudi

Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel Al-Jubeir mengecam pembunuhan di Wina, Austria. Menurut dia, hal itu merupakan kejahatan keji yang bertentangan dengan semua agama dan nilai-nilai kemanusiaan.

“Kami berbagi dengan teman-teman di Republik Austria tentang kesedihan atas kejahatan teroris yang menargetkan orang-orang tak berdosa di Wina. Kejahatan keji ini dan sejenisnya bertentangan dengan semua agama dan nilai-nilai kemanusiaan, dan itu menekankan kepada kita bahwa terorisme tidak memiliki agama atau ras," kata Al-Jubeir melalui akun Twitter, Selasa (3/11). 

Sejumlah negara Arab juga telah menyampaikan belasungkawa kepada Pemerintah Austria, misalnya Lebanon, Yordania, Uni Emirat Arab, dan Sudan. "Kami menyampaikan belasungkawa kami kepada pemerintah dan rakyat Austria dan kami menekankan posisi Irak yang menolak terorisme dalam segala bentuk dan manifestasinya," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Irak Ahmed al-Sahaf, dikutip laman Anadolu Agency.

Sumber : Reuters


×