KH Moh Said merupakan seorang alim dari Malang, Jawa Timur, yang turut aktif dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia | DOK PPAI Pakisaji Malang
29 Oct 2020, 06:13 WIB

KH Moh Said, Alim Penggerak Laskar Hizbullah

Kiai Moh Said selalu menasihati para santrinya agar teguh dalam keyakinan iman dan Islam.

OLEH MUHYIDDIN

 

Di Indonesia, kaum ulama berperan besar dalam sejarah perjuangan. Kiprahnya tidak hanya bertumpu pada ranah pendidikan, tetapi juga medan pertempuran langsung. Mereka rela mengorbankan harta, tenaga, dan bahkan nyawa sekalipun untuk mengusir penjajah dari Bumi Pertiwi.

Di antara begitu banyak alim ulama yang turut mewarnai jihad fii sabilillah di Tanah Air, tersebutlah nama KH Moh Said. Ia lahir di Malang, Jawa Timur, pada 1901 dari pasangan Haji Moh Anwar dan Lis. Berasal dari keluarga yang cukup terpandang, dirinya pun dapat mengenyam pendidikan formal. Saat berusia 10 tahun, Said muda meneruskan studi di Hollandsch-Inlandsche School (HIS), setingkat dengan pendidikan sekolah dasar pada zaman sekarang.

Tiga tahun lamanya ia bersekolah di sana. Begitu lulus dari HBS, pada 1914 ia melanjutkan pendidikannya ke Europeesche Lagere School (ELS) yang ditempuh selama lima tahun sejak 1914 hingga 1919. Sejak kecil, Said dikenal sebagai sosok yang gemar bekerja keras dan tekun belajar.

Sepulang dari sekolah, ia selalu membantu kedua orang tuanya, yakni berdagang serta kadang kala bertani. Setamat dari ELS, Said muda sempat bekerja di Komisi Pos di Jember, Jawa Timur selama lima tahun, 1920-1925.

Setelah itu, ia melepas masa lajangnya dengan menikahi Siti Fatimah, seorang gadis asal Kidul Pasar Malang. Waktu itu, mata pencahariannya masih sebagai pegawai pada kantor gubernur di Surabaya.

Setelah dua tahun menikah, Said memutuskan untuk mundur dari jabatannya. Sebab, hatinya terpanggil untuk meninggalkan dunia birokrasi dan beralih pada ranah keilmuan agama.

Bersama dengan sang istri, ia pergi menimba ilmu di Pondok Pesantren Salafiyah Siwalan Panji, Buduran, Sidoarjo. Enam tahun lamanya pasangan tersebut mendalami ilmu-ilmu agama Islam di sana.

Pondok Pesantren Salafiyah Siwalan Panji didirikan pada 1787. Pendirinya adalah KH Hamdani, seorang alim kelahiran Pasuruan, Jawa Timur, yang zuhud. Salah satu pesantren tertua di Pulau Jawa itu dikenal sebagai pencetak ulama-ulama besar.

Kiai Hamdani sejak awal berniat menjadikan lembaga itu sebagai simpul penerus gerakan dakwah Walisongo, para penyebar Islam di Jawa. Siwalan Panji yang dahulunya angker serta rawan perampokan menjadi berubah. Berkat peranan Kiai Hamdani, wilayah tersebut bertransformasi sebagai kawasan yang religius.

Moh Said dan istrinya termasuk generasi awal abad ke-20 yang terinspirasi semangat juang Kiai Hamdani. Selama enam tahun, keduanya terus belajar di Pesantren Salafiyah Siwalan Panji.

Said sendiri menyimpan cita-cita. Kelak, dirinya ingin agar dapat mendirikan pesantren baru. Dengan begitu, ilmu-ilmu agama yang didapatkannya di Siwalan Panji dapat diteruskan kepada masyarakat setempat, khususnya Malang. Setelah dirinya berhasil menyelesaikan pendidikan di sana, Said dan sang istri pun mengupayakan terwujudnya cita-cita itu.

Pada 1931, visi yang lama diidam-idamkan akhirnya terlaksana. KH Moh Said mendirikan pondok pesantren bernama Pendidikan dan Perguruan Agama Islam (PPAI) di Sonotengah, Pakisaji, Malang. Akibat Agresi Militer Belanda II pada 1948, lokasi institusi itu terpaksa dipindah ke daerah Karangsari, Bantur, Malang. Namun, akhirnya PPAI ditetapkan di Dusun Ketapang, Sukoraharjo, Kepanjen, Malang, hingga saat ini.

 
KH Moh Said mendirikan pondok pesantren bernama Pendidikan dan Perguruan Agama Islam (PPAI) di Sonotengah, Pakisaji, Malang.
 
 

Pada awalnya, di pesantren itu hanya tersedia tiga rumah panggung untuk menampung para santri. Bentuknya begitu sederhana. Dindingnya pun terbuat dari anyaman bambu. Adapun para pimpinan pondok berikut staf mereka ditempatkan di tiga rumah terpisah.

Sebagai pusat aktivitas sehari-hari, masjid didirikan dalam kompleks tersebut. Di sanalah para santri mengaji dan menuntut ilmu dari para ustaz dan kiai. Saat malam turun, mereka menggunakan penerangan lampu minyak atau oblek karena listrik belum ada waktu itu.

Seiring dengan peningkatan jumlah santri dari tahun ke tahun, pihak pesantren kemudian merenovasi dan menambah sarana dan prasarana fisik, seperti asrama, penerangan, pengairan dan fasilitas-fasilitas lain yang diperlukan.

Sebagaimana umumnya pesantren Nahdlatul Ulama (NU), lembaga yang didirikan Kiai Said itu juga menerapkan sistem pengajaran klasikal atau salafiyah. Unit pendidikan yang tersedia meliputi sekolah diniyah putra-putri ibtida’iyah, tsanawiyah dan ‘aliyah.

Berprinsip dan berjuang

Kiai Moh Said selalu menasihati para santrinya agar teguh dalam keyakinan iman dan Islam. Ia juga kerap mengutip ayat ke-18 dari surah al-Jatsiyah. Artinya, “Kemudian Kami jadikan engkau (Muhammad) mengikuti syariat (peraturan) dari agama itu, maka ikutilah (syariat itu) dan janganlah engkau ikuti keinginan orang-orang yang tidak mengetahui.”

Ayat itulah yang antara lain selalu ditanamkan KH Moh Said kepada para pengikutnya. Ia juga mempunyai prinsip bahwa sebagai seorang pemimpin harus bisa mencetak atau melakukan kaderisasi santri. Dengan begitu, mereka dapat menjadi pemimpin umat dan bangsa di masa depan. Dengan tekat bulat dari prinsipnya itu, tidak heran jika kemudian Kiai Said berhasil mencetak para kiai, ulama, ustaz dan tokoh masyarakat dari lembaga yang diasuhnya itu.

Kiai Said memang sangat memperhatikan persoalan generasi muda. Para santrinya diarahkan agar menjadi penganjur agama Islam atau dai. Mereka diharapkan agar tangguh dalam menjalani peran sebagai mubaligh yang memperjuangkan Islam ahlus sunnah wa al-jama’ah (aswaja).

Di antara santri-santrinya yang menjadi kiai dan ulama adalah KH Abdul Hanan, KH Alwi Murtadho, KH Abdul Basyir, dan KH Mahmud Zubaidi. Selain itu, ada pula Ustaz Haji Ismail Qodly, Gus Mad Suyuti Dahlan, dan KH Ahmad Su’aidi. Sosok yang terakhir disebut itu merupakan pengganti Kiai Said dalam mengasuh PPAI Ketapang.

Selain menjadi pengasuh pondok pesantren, KH Moh Said juga turut berjuang bersama rakyat Indonesia untuk mengusir penjajah. Ia aktif dalam gerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia dengan menjadi penggerak Laskar Hizbullah.

 
Ia aktif dalam gerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia dengan menjadi penggerak Laskar Hizbullah.
 
 

Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 membesarkan semangat patriotik di seluruh penjuru negeri. Berita proklamasi kemerdekaan RI segera tersebar secara luas terutama oleh para pemuda.

Mereka menyebarkan berita itu melalui selebaran-selebaran setelah mencetaknya secara kilat di mesin roneo. Kemudian secara beranting disebarluaskan ke seluruh Indonesia. Bahkan pada hari itu juga, disiarkan melalui pemancar radio ke seluruh dunia.

Pasukan Sekutu mendarat di Jakarta pada 29 September 1945. Kedatangan mereka disambut baik pemerintah Indonesia karena tujuannya untuk memulangkan para tawanan perang yang sebelumnya disandera Jepang. Namun, tentara Belanda atau Netherlands Indies Civil Administration (NICA) membonceng pasukan Sekutu di Tanah Air.

Tak menunggu waktu lama, NICA segera membuat kekacauan di berbagai daerah. Layaknya tentara Israel di Palestina masa kini, NICA menculik para pemuda dan mereka diangkut ke kamp-kamp yang diduduki Belanda. Kemudian, tidak terdengar lagi nasib mereka. Di Jakarta saja, tak kurang dari 8.000 warga dibunuh NICA antara September-Desember 1945.

Di Malang, Jawa Timur, animo perjuangan juga meliputi kalangan ulama dan santri. PPAI Ketapang juga turut menerjunkan kekuatan untuk menyokong perjuangan rakyat dan laskar. KH Moh Said sendiri terlibat sebagai penggerak Laskar Hizbullah. Kiprahnya tampak jelas dalam peristiwa 10 November 1945 yang berpusat di Surabaya.

Sebelumnya, sepanjang September 1945 situasi di ibu kota Provinsi Jawa Timur itu betul-betul di atas ambang emosi. Laskar rakyat Indonesia terus berupaya mengambil alih persenjataan dari gudang-gudang yang dahulunya milik tentara Jepang.

Di antara pergerakan bersenjata itu adalah Barisan Hizbullah dan Sabilillah yang terus melakukan konsolidasi untuk mempersiapkan strategi terbaik. Keduanya merupakan wadah perjuangan fisik umat Islam, khususnya kaum santri pada masa itu.

 
Dari Malang, Kiai Said mengonsolidasi Laskar Hizbullah untuk bergerak menuju Surabaya. 
 
 

Sejak 15 Oktober 1945, pecah pertempuran lima hari di Semarang, Jawa Tengah, antara sisa-sisa pasukan Jepang dan laskar rakyat setempat. Beberapa hari kemudian, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar rapat konsolidasi se-Jawa dan Madura di Surabaya. Hasilnya mengukuhkan Resolusi Jihad, yang merupakan penguatan atas fatwa tertanggal 17 September 1945 yang telah dikeluarkan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari.

Memasuki November, situasi semakin mendekati perang besar. Dari Malang, Kiai Said mengonsolidasi Laskar Hizbullah untuk bergerak menuju Surabaya. Sebab, sehari sebelum pecah pertempuran akbar di Surabaya, KH Hasyim Asy’ari selaku komando tertinggi Hizbullah memerintahkan segenap kekuatan bersenjata dari kalangan santri untuk memasuki kota tersebut. Perintahnya jelas: tidak akan menyerah dalam mempertahankan kemerderkaan RI. “Merdeka atau mati!”

 

Dalam peristiwa heroik 10 Nopember 1945 di Surabaya, Kiai Said turut serta menggembleng pasukan Hizbullah serta melengkapi mereka dengan berbagai persenjataan. Doa-doa juga dipanjatkannya sembari menyentuh senjata-senjata yang akan dibawa pasukan Muslimin ini. Dengan perlengkapan itu, pasukan Hizbullah pun semakin percaya diri untuk terjun melawan Belanda dan Sekutu yang ingin kembali menjajah Tanah Air.

photo
Salah satu dokumentasi foto KH Moh Said sebagai ketua delegasi ulama Indonesia pada zaman Presiden Sukarno - (DOK PPAI Pakisaji Malang)

Menjadi Ketua Delegasi Ulama Indonesia

Selain aktif berjuang pada zaman revolusi, KH Moh Said juga berperan dalam mengisi kemerdekaan. Pada masa pemerintahan Presiden Sukarno, sosok pendiri Pondok Pesantren Pendidikan dan Perguruan Agama Islam (PPAI) Ketapang, Malang, Jawa Timur, itu dipercaya sebagai ketua delegasi alim ulama Indonesia. Pada 1956, tim tersebut melakukan safari dakwah dan diplomasi budaya ke berbagai negara, termasuk Pakistan dan Uni Soviet (Rusia).

Ditunjuknya Kiai Said sebagai pemimpin delegasi tentunya menunjukkan reputasinya di level nasional. Apalagi, mubaligh kelahiran tahun 1901 itu juga menguasai beberapa bahasa asing. Tidak hanya bahasa Arab, tetapi juga bahasa Belanda, Inggris, Jerman, dan Rusia, dikuasainya secara fasih.

Selain berdakwah, kemampuannya dalam mengomunikasikan kebudayaan Indonesia juga menjadi nilai lebih. Perannya merupakan salah satu bukti, kaum pesantren tak dapat dipandang sebelah mata.

 
Tidak hanya bahasa Arab, tetapi juga bahasa Belanda, Inggris, Jerman, dan Rusia, dikuasainya secara fasih.
 
 

Di lingkungan jam’iyah, Kiai Said dikenang sebagai salah seorang pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Hadratussyekh KH Hasyim Asy’arie pernah menugaskan kepadanya untuk membawa nama NU ke penjuru dunia. Ibaratnya, kibarkanlah bendera NU di setiap tempat delegasi alim ulama Indonesia dikirim.

Bersama Syekh Ghanaim dan KH Abdul Wahab Hasbullah, Kiai Said berkelana ke berbagai tempat di luar negeri. Di samping mengabarkan kondisi umat Islam di Indonesia kepada dunia, mereka juga semakin memperluas jaringan NU ke taraf internasional. Kiai Said hingga kini diakui sebagai salah satu perintis berdirinya cabang-cabang istimewa NU di sejumlah negera Benua Eropa.

Pada mulanya, Kiai Said merintis kiprahnya di jam’iyah Nahdliyin cabang Jawa Timur. Dalam struktur organisasi, suami Siti Fatimah itu sempat menjadi rais syuriah NU Cabang Malang pada 1950-1965.

Khususnya bagi masyarakat Malang, ketokohannya tidak sebatas pada PPAI Ketapang. Sebab, Kiai Said juga menjadi pemimpin atau mursyid Tarekat Khalwatiyyah. Ia memiliki banyak pengikut tidak hanya dari Jawa, tetapi juga berbagai daerah di Nusantara dan bahkan negeri-negeri jiran.

Pengabdiannya begitu besar bagi agama dan bangsanya. Setelah berusia lanjut, ia pun mulai sakit. Dalam melawan penyakit yang dideritanya, Kiai Said tak putus-putusnya mengamalkan zikir. Ia meyakini, zikrullah merupakan obat mujarab agar seorang hamba dapat terus dekat dengan Rabb semesta alam.

Pada 1 Desember 1964, Kiai Said berpulang ke rahmatullah. Ia meninggal dalam usia 63 tahun. Lautan manusia mengiringi pemakamannya. Kaum Muslimin khususnya di kota kelahiran sang almarhum dirundung duka atas kepergiannya. Jenazahnya dikebumikan di area kompleks Pondok Pesantren PPAI Ketapang Kepanjen, Malang, Jawa Timur.


Terkini

,
×