Petugas medis melakukan tes usap PCR kepada insan media di Hall Gedung Dewan Pers, Jakarta, Jumat (23/10). | Prayogi/Republika
29 Nov 2020, 08:37 WIB

Rentang Suspek dan Kasus Aktif Kian Lebar

Lebarnya jurang jumlah suspek dan individu yang dites menunjukkan potensi pandemi senyap.

JAKARTA – Rentang kasus aktif dan suspek menunjukkan tren yang makin lebar. Sejak akhir Agustus, grafik kasus suspek aktif menunjukkan terjadinya peningkatan secara signifikan meski kasus aktif relatif landai. Jumlah kasus aktif per Senin (26/10) mencapai 61.815, sedangkan suspek aktif sebanyak 170.163 kasus.

Pakar epidemiologi Universitas Indonesia, Syahrizal Syarif, menilai, yang memengaruhi jumlah suspek Covid-19 di Indonesia meningkat sementara data kasus aktif cenderung landai adalah karena kurangnya kapasitas pemeriksaan spesimen. Jumlah suspek Covid-19 sudah di atas 170 ribu sementara spesimen yang dites pada Senin (26/10) relatif sedikit, yakni 24.413 spesimen.

Menurut Syarif, kapasitas pemeriksaan di sebagian besar wilayah Indonesia masih belum memenuhi standar dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Di daerah-daerah di luar kota besar, hasil pemeriksaan Covid-19 bagi suspek bisa lebih dari tiga hari.

“Jadi, memang problem suspek itu tinggi karena kapasitas pemeriksaan spesimen kita belum memadai. Yang memadai baru di Jakarta dan Sumatra Barat, begitu. Tapi di daerah-daerah, lama sekali kita baru mendapatkan hasil pemeriksaan,” kata Syahrizal saat dihubungi Republika, Senin.

Terkait

Syahrizal mengatakan, sejak awal September 2020 hingga Oktober 2020, ia tidak melihat adanya peningkatan pemeriksaan spesimen. Pemeriksaan yang dilakukan hanya berkisar 30 ribu hingga 40 ribu spesimen per hari.

photo
Warga melakukan tes usap atau swab di Lab Gemonik Solidaritas Indonesia (GSI), Cilandak, Jakarta, Senin (19/10). - (Republika/Thoudy Badai)

Menurut dia, hal yang harus dilakukan adalah meningkatkan kapasitas pemeriksaan spesimen. Pemeriksaan ini khususnya harus ditingkatkan di daerah-daerah yang kapasitasnya masih kecil.

Epidemilog dari Universitas Griffith, Australia, Dicky Budiman, juga menyatakan hal yang sama. Di sisi lain, Dicky mengkhawatirkan, makin lebarnya jurang pemisah antara jumlah suspek dan individu yang dites mengakibatkan adanya potensi silent outbreak atau pandemi senyap.

Dicky menyebut, gap antara jumlah suspek dengan individu yang dites makin menjauh sejak akhir Agustus lalu. Ia mengingatkan fenomena ini bukan pertanda bagus dalam upaya mengatasi pandemi Covid-19 di Tanah Air. “Karena, artinya jumlah tes tidak seimbang dengan eskalasi pandeminya,” kata Dicky.

Dicky meminta pemerintah dan masyarakat mewaspadai potensi pandemi senyap yang bisa saja muncul sewaktu-waktu. Sebab, Covid-19 sudah semakin sulit dideteksi keberadaannya yang menyusup di tengah masyarakat.

Di sisi lain, masyarakat diminta juga untuk tidak kendor menerapkan protokol pencegahan 3M, yakni memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Cara tersebut sampai saat ini masih menjadi yang paling efektif dalam menangkal Covid-19.


,
×