Warga memanfaatkan fasilitas cuci tangan yang disediakan oleh pemilik toko atau tempat usaha di Kawasan Jalan Jatinegara Barat, Jakarta, Senin (19/10). Para pemilik toko diwajibkan menyediakan fasilitas tempat cuci tangan di depan toko mereka | Prayogi/Republika
29 Nov 2020, 08:01 WIB

3M Masih Paling Efektif Tangkal Covid-19

Potensi penularan virus Covid-19 masih terjadi, masyarakat diminta upayakan pencegahan.

JAKARTA – Virus korona SARS-CoV2 (Covid-19) diprediksi tidak akan hilang dan tetap terus ada di dunia. Karena itu, masyarakat diminta terus patuh dan tak bosan dalam menerapkan 3M, yakni memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan memakai sabun untuk mencegah terinfeksi virus ini.

Staf Ahli Menteri Bidang Teknologi Kesehatan dan Globalisasi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Achmad Yurianto mengatakan, Covid-19 tetap ada seperti eksistensi virus Human Immunodeficiency Virus (HIV)/Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS). Apalagi, pandemi Covid-19 kini terjadi di lebih dari 200 negara.

“Kita tidak akan bebas Covid-19, apalagi sudah menginfeksi negara-negara di seluruh dunia. Virusnya tetap ada, karena kalau mau menghilangkan virus ya musnahkan juga virusnya di negara-negara lain,” katanya saat dihubungi Republika, Sabtu (24/10).

photo
Sejumlah warga berolahraga body combat di dalam kotak pembatas untuk tetap menjaga jarak di pusat kebugaran Fitbeat di Kota Pekanbaru, Riau, Kamis (22/10). - (ANTARA FOTO/FB Anggoro)

Yurianto membandingkan dengan eksistensi virus HIV/AIDS saat era 1980-an. Saat itu ketakutan terhadap virus ini luar biasa. Namun, kini masyarakat melupakannya seolah-olah hilang, padahal virus itu masih ada di muka bumi ini. Padahal, kata dia, orang yang terinfeksi Covid-19 bisa sembuh, sedangkan HIV tidak benar-benar sembuh karena harus meminum obat seumur hidup. 

Terkait

Karena potensi penularan virus masih terjadi, Yuri meminta masyarakat melakukan upaya pencegahan. Sebab, ia menjelaskan upaya pencegahan masuknya virus yang utama (primary prevention) adalah yang terpenting. Masyarakat diminta menerapkan protokol kesehatan 3M.

“3M ini mencegah untuk terpapar, kemudian kalau virus tidak masuk tubuh tidak sakit kan. Artinya primary prevention harus tetap dijalankan, tidak ada tawar-menawar,” ujar pria yang juga pernah menjabat sebagai Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes itu.

Dia menambahkan, masyarakat yang melaksanakan protokol kesehatan ini tak hanya untuk mencegah penularan Covid-19 melainkan juga menurunkan penyakit lain seperti infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), hingga diare karena masyarakat yang rajin cuci tangan. Menurutnya, upaya ini dijalankan untuk mencegah sakit karena sehat menjadi kewajiban, sedangkan sakit menjadi pilihan.

photo
Petugas Dinas Perhubungan DKI Jakarta melakukan sosialisasi gerakan 3M yakni menjaga jarak, mencuci tangan, dan memakai masker di Kawasan Patung Kuda, Monas, Jakarta, Ahad (18/10). Sosialisasi kepada warga yang berolahraga maupun para pengendara yang melintas tersebut bertujuan untuk menekan angka penyebaran Covid-19. - (Prayogi/Republika)

Meski bukan pekerjaan mudah, bukan hal yang mustahil kalau Indonesia bisa mengendalikan Covid-19. Bahkan, negara seperti Cina yang merupakan daerah pertama virus ini berkembang dan disebut-sebut sudah bebas infeksi ternyata masih menerapkan kewaspadaan luar biasa dengan menerapkan karantina 14 hari bagi warga negara asing yang baru tiba mengunjungi Cina.

Juru bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito sebelumnya menyatakan, adanya vaksin tidak menjamin pandemi akan selesai di Tanah Air. “Vaksin bukan satu-satunya jaminan penuntasan pandemi Covid-19 di Indonesia,” kata Wiku.

Wiku mengatakan, vaksin adalah salah satu bentuk intervensi medis untuk memperkuat imunitas masyarakat di tengah pandemi. Dia menekankan, program vaksinasi harus diikuti kesadaran dan kedisiplinan publik atas protokol kesehatan.

“Tanpa kedisiplinan atas protokol kesehatan, maka upaya penuntasan pandemi akan sulit dilakukan,” ujar Wiku.


,
×