Masjid Hassan II dengan menaranya yang menjulang setinggi 210 meter | DOK PXHERE
29 Nov 2020, 08:22 WIB

Kota Kasablanka, Simpul Budaya Timur-Barat

Kota Kasablanka yang dapat dijumpai saat ini merupakan legasi Sultan Muhammad III.

OLEH HASANUL RIZQA

Kasablanka adalah satu simpul multibudaya di Afrika Utara. Dahulu bernama Anfa, kawasan permukiman ini memiliki riwayat panjang. Hingga kini, kota terbesar di Kerajaan Islam Maroko itu terus berkembang pesat.

 

 

Terkait

Trah raja Maroko hingga saat ini berasal dari Dinasti 'Alawiyyin. Sosok pendirinya adalah Syarif bin Ali atau Moulay Ali Cherif (1589-1659 M). Pada 1631, ia berhasil mengonsolidasi kekuasaan atas Tafilalt, oasis terbesar di seluruh al-Maghrib al-Aqsha.

Lima tahun kemudian, ia mewariskan takhtanya kepada putra sulungnya, Muhammad bin Syarif. Sekitar 30 tahun kemudian, perebutan kekuasaan terjadi di internal elite, terutama antara Ibnu Syarif sendiri dan saudara-saudaranya.

Pada 1664, al-Rasyid bin Ali al-Syarif berhasil mengalahkan kakaknya. Sejak saat itu, ia menjadi raja sekaligus penguasa Maroko pertama dari Dinasti 'Alawiyyin.

Sepanjang abad ke-17, negeri tersebut terus dilanda berbagai konflik politik. Anak keturunan Moulay Ali Cherif saling berebut kekuasaan. Barulah pada medio abad ke-18, situasinya mulai cenderung stabil. Pembangunan pun semakin gencar dilakukan, khususnya pada masa pemerintahan Raja Muhammad bin Abdullah al-Khathib (1710-1790 M).  

Dalam sejarah nasional setempat, ketokohan pemimpin bergelar Muhammad III itu dikenang luas. Ia tak hanya berperan sebagai raja, tetapi juga arsitek Maroko modern. Keaktifannya dalam pergaulan dunia internasional tampak antara lain sebagai salah satu pemimpin yang pertama mengakui kemerdekaan Amerika Serikat (AS).

Di dalam negeri, mantan gubernur Marrakesh itu membangun banyak kota yang sebelumnya terimbas gempa bumi besar pada 1755. Di antaranya adalah Rabat, Mogador, dan Kasablanka.

Kota Kasablanka yang dapat dijumpai saat ini merupakan legasi Sultan Muhammad III. Muslimin setempat menyebutnya dalam bahasa Arab, Dar al-Baidha'. Artinya persis seperti Casa Blanca dalam bahasa Spanyol, yakni ‘rumah’ atau ‘negeri putih’.

Raja Muhammad III memusatkan perhatiannya pada perbaikan kawasan pelabuhan kota tersebut. Dengan begitu, aktivitas perekonomian lokal dapat kembali pesat. Posisi bandar itu yang sangat strategis di Mediterania selatan juga dimanfaatkannya.

 
Sejak akhir abad ke-18, Kasablanka menjadi pelabuhan penting yang memasok berbagai komoditas ke Eropa dan Amerika.
 
 

Sejak akhir abad ke-18, Kasablanka menjadi pelabuhan penting yang memasok berbagai komoditas ke Eropa dan Amerika. Di antaranya adalah gula, teh, jagung, dan wol. Industri tekstil di Inggris bahkan mengandalkan pelabuhan di Maroko itu sebagai pemasok wol yang utama. Hubungan diplomatik antardua kerajaan itu memang sudah terjalin erat setidaknya sejak awal abad ke-18.

Setelah Perang Napoleon pada 1815, Afrika Utara mulai lepas dari pengaruh Kekhalifahan Utsmaniyah. Pada 1844, Prancis mencaplok Aljazair. Seorang pemimpin Aljazair menyingkir ke Maroko untuk berusaha mendapatkan dukungan. Perang Prancis-Maroko pun pecah pada tahun yang sama.

Dalam keadaan terdesak, sultan Maroko yang berkedudukan di Fez, Abdul Rahman bin Hisyam, membuat perjanjian dengan Britania Raya. Sejak 1856, status Maroko kemudian menjadi kawasan protektorat Inggris. Monopoli kerajaan Islam tersebut atas sektor pajak pelabuhan pun berakhir.

Kapal-kapal internasional yang bersandar di bandar-bandar niaga setempat tidak lagi menyetor upeti kepada Maroko. Bahkan, Kasablanka akhirnya menjadi kawasan mandiri yang lepas dari kendali pemerintah pusat.

Menjelang tutup abad ke-19, kota yang dahulunya bernama Anfa itu kian dikenal sebagai salah satu titik transit di jalur maritim internasional yang menghubungkan Afrika, Eropa, dan Amerika. Pada 1860-an, populasi setempat ditaksir mencapai 5.000 jiwa.

Dua dekade kemudian, menurut CR Pennel dalam buku Morocco from Empire to Independence (2003), jumlahnya meningkat hingga dua kali lipat. Hal itu menandakan tingginya laju perkembangan demografis setempat.

Awal abad ke-20, Prancis mulai melancarkan invasi. Pada musim panas 1907, sekelompok orang menyerang pos keamanan di Kasablanka dan membunuh beberapa pelancong Eropa. Memasuki awal Agustus, seluruh kota tersebut dibombardir sebagai balasannya. Inilah awal penjajahan Prancis atas Maroko.

Masa kolonial

Hubert Lyautey (1854-1934 M) menjadi gubernur militer Prancis yang pertama di Maroko. Pada 1913, ia mengundang arsitek Leon-Henri Prost (1874-1959 M) untuk merancang ulang tata kota beberapa wilayah di Maghribi, termasuk Kasablanka. Selama 10 tahun, alumnus Ecole Speciale d'Architecture itu merenovasi denah kota yang lebih tua tujuh abad lamanya daripada Paris itu.

Mulanya, peraih Anugerah Prix de Rome itu membangun jaringan jalan raya, termasuk simpang yang berbentuk bintang bila diamati dari ketinggian. Selain itu, ia juga mendirikan beberapa zona industri di sisi timur Kasablanka. Sebagai pegawai kolonial, ideologi orientalisme diadopsinya dengan membuat batas yang tegas antara kawasan hunian Eropa dan pribumi di kota pelabuhan tersebut.

 
Ideologi orientalisme diadopsinya dengan membuat batas yang tegas antara kawasan hunian Eropa dan pribumi.
 
 

Pada 1917, Prost mengajukan usulan perluasan kawasan lokal (medina) yang diperuntukkan bagi masyarakat pribumi setempat. Dalam hal ini, ia berkolaborasi dengan arsitek perancang Palais de la Porte Doree di Paris, Albert Laprade (1883-1978).

Bersama alumnus Ecole des Beaux-Arts itu, ia berupaya menggali nilai-nilai budaya Arab-Berber untuk ditunjukkan dalam medina atau yang hendak dibangun. Tujuan utamanya menghadirkan nuansa Moroko yang unik sekaligus harmonis dengan bentuk-bentuk Eropa modern. Gaya arsitektur la ville indigene—permukiman pribumi—ini di kemudian hari disebut sebagai Neo-Moor.

Adapun kawasan khusus Eropa di sana dinamakan La Ville Europeenne, ‘Kota Eropa'. Lokasinya di sekitar sisi timur La Ville Indigene. Sebelumnya, lahan tempat berdirinya klaster itu difungsikan sebagai pasar terbuka, al-Assauq al-Kabiir.

Berikutnya, area tersebut disebut sebagai Istana Prancis, yang pada bagian timur lautnya didirikan menara jam sejak 1910. Kini, lokasi tersebut menjadi Alun-alun Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB).

Secara keseluruhan, hasil rancangan Prost atas kota Kasablanka menuai pujian dari banyak kalangan. Kisah suksesnya tak hanya pada kawasan pesisir Maroko itu, tetapi banyak tempat, termasuk Istanbul di Turki.

Dalam penguasaan Prancis, Kasablanka bertransformasi menjadi salah satu simpul perjumpaan kebudayaan Timur dan Barat di Afrika. Warna kosmopolitan mulai tampak di tengah arus modernisasi. Dalam empat dekade pertama kekuasaan bangsa Eropa itu, proses westernisasi terus berlangsung di sana.

Citranya bahkan sudah seperti kota-kota di Benua Biru pada umumnya. Sebagai contoh, Kasablanka ditetapkan sebagai tuan rumah ajang balapan internasional Formula Satu pada 1930.

 
Kasablanka ditetapkan sebagai tuan rumah ajang balapan internasional Formula Satu pada 1930.
 
 

Kota perjuangan

Selama kepemimpinan Lyautey, Kasablanka terus berkembang menjadi jantung perekonomian Maroko dan salah satu pelabuhan terpenting di seluruh Afrika. Seiring dengan itu, proses migrasi orang-orang perdesaan ke pusat kota pun semakin mengemuka. Populasi penduduk setempat kian bertambah besar.

Antara tahun 1937-1938, wabah tipus melanda sejumlah daerah di Maroko. Kasablanka tak luput dari sapuan epidemi tersebut. Bagi pemerintah kolonial, itulah momen yang tepat untuk merapikan tata kota Kasablanka.

Sebab, arus urbanisasi yang gencar dalam beberapa tahun sebelumnya memunculkan kawasan permukiman kumuh (bidonvilles) di pinggiran kota tersebut. Tak sedikit penggusuran terjadi pada masa itu sehingga memaksa banyak warga fakir miskin untuk pindah.

Pada masa Perang Dunia II, Kasablanka menjadi salah satu pangkalan militer andalan Sekutu. Pada November 1942, pasukan gabungan Inggris dan AS bersatu menghalau Jerman dan Italia dari Afrika Utara. Markas aliansi tersebut antara lain terletak di Kasablanka. Dalam perkembangan berikutnya, kota tersebut dipilih AS sebagai basis kekuatan tempurnya di region Mediterania.

Hotel Anfa di kota ini menjadi tuan rumah Konferensi Kasablanka pada 1943. Perundingan tersebut mempertemukan antara Sir Winston Churchill (1874-1965 M) dan Franklin D Roosevelt (1882-1945 M).

photo
Henri Giraud, Roosevelt, de Gaulle, dan Churchill dalam Konferensi Casablanca, pada 14 Januari hingga 28 Januari 1943 di Hotel Anfa di Casablanca, Maroko. - (DOK Wikipedia)

Kedua pemimpin negara-anggota utama Sekutu membahas progres perang dunia hingga saat itu. Turut hadir dalam kesempatan itu, Sultan Maroko Muhammad V (1909-1961 M) bersama dengan putranya, Hassan II (1929-1999 M).

Dalam periode 1940 hingga 1950-an, Kasablanka menjadi salah satu pusat perjuangan antikolonialisme. Pada 1947, Sultan Muhammad V akan menghadiri pertemuan akbar di Zona Internasional Tangier. Di sana, ia rencananya akan membawakan pidato yang berisi seruan kemerdekaan dari kolonialisme Barat.

Sebelum tiba di tujuan, ia dan rombongan diserang korps bersenjata Senegal, yang bekerja untuk Prancis. Insiden berdarah pun terjadi di lokasi tempat diadangnya iring-iringan sang sultan.

Jumlah pejuang dan rakyat Maroko yang gugur dalam peristiwa 7-8 April 1947 itu mencapai seribu orang. Sultan sendiri sempat menyambangi Kasablanka untuk menyatakan bela sungkawa atas jatuhnya para korban. Beberapa hari kemudian, ia bertolak lagi ke Tangier dan menyampaikan pidato bersejarah itu.

Maroko merdeka dari penjajahan Prancis pada 2 Maret 1956. Sultan Muhammad V dikenang sebagai raja sekaligus pemimpin nasional yang membuka gerbang kemerdekaan Maroko.

Sesudah kemerdekaan Maroko, laju pertumbuhan penduduk Kasablanka kian bertambah pesat. Seperti dirangkum James A Miller dalam buku Encyclopedia of African History (2004), kota itu menarik begitu banyak imigran selama paruh kedua abad ke-20. Pada 1970-an, jumlah pendatang bisa mencapai 56 ribu per tahun.

Kalangan ekspatriatnya berasal dari berbagai negeri di Asia, Eropa, dan tentunya Afrika. Miller mengatakan, Kasablanka menampung lebih banyak kaum Yahudi bila dibandingkan seluruh zona Afrika Utara. Ada sekitar 8.000 Yahudi yang mendiami distrik di kota pelabuhan tersebut.

photo
Istana Muhammad V, salah satu bangunan ikonik di Kota Kasablanka, Maroko - (DOK WIKIPEDIA)

Warna-warni Kasablanka

 

Kasablanka menyimpan banyak bangunan tua bergaya Moor, art deco, dan Prancis yang hingga kini masih terawat. Keberadaannya menjadi tulang punggung sektor pariwisata tidak hanya kota tersebut, melainkan juga seluruh negeri. Selain itu, keindahan bentang alam pantainya pun menjadi daya tarik tersendiri bagi para turis.

Di antara berbagai kompleks bersejarah di sana ialah Istana Muhammad V. Letaknya berada persis di pusat kota Kasablanka. Berdiri sejak 1916, bangunan tersebut juga menjadi tonggak permulaan kolonialisme Prancis atas Maroko.

Perancangnya ialah seorang begawan arsitektur yang juga tokoh kunci dalam kebijakan tata kota setempat pada masa penjajahan, Leon-Henri Prost. Dulunya, lahan tempat berdirinya kompleks itu merupakan barak tentara Prancis. Pada masanya, istana tersebut menjadi jantung La Ville Europeenne di Kasablanka.

Berikutnya, Masjid Hassan II. Masjid terbesar ketujuh di seluruh dunia itu merupakan destinasi wisata yang wajib dikunjungi para pelancong. Menghadap ke arah pantai Samudra Atlantik, keindahan masjid di Kasablanka utara itu sungguh mempesona.

Tempat ibadah itu mulanya dibangun atas instruksi Raja Hassan II (1929-1999 M) dan selesai dikerjakan pada 1993. Daya tampungnya mencapai 105 ribu orang jamaah. Menaranya yang menjulang setinggi 210 meter terdiri atas 60 lantai. Struktur itu menjadi salah satu ikon Islam di seantero Kasablanka.

Perancang Masjid Hassan II berasal dari Prancis, yakni Michel Pinseau. Karyanya mengadopsi sekaligus memadukan unsur-unsur gaya arsitektur Moor, Andalusia, dan Eropa modern. Hampir di setiap sudut masjid itu terdapat ornamen dan ukiran yang sangat indah.

Dinding-dindingnya dihiasi dengan kaligrafi dan mozaik-mozaik yang menawan, dengan bahan dasar batu marmer warna-warni pilihan.

photo
Mozaik pada menara Masjid Hassan II, Kota Kasablanka, Maroko - (PIXABAY)

Taman Liga Arab merupakan taman terluas di seluruh Kasablanka. Terletak di pusat kota tersebut, areanya mencakup luas 12 hektare (ha). Seperti Masjid Hassan II, perancangnya juga berkebangsaan Prancis, yaitu Albert Laprade.

Di lokasi yang sama, sudah ada taman kota rancangan Henri Prost sejak 1913. Pemerintah Maroko rupanya ingin memperindah kawasan tersebut, tidak hanya sebagai lahan terbuka hijau, tetapi juga pusat rekreasi warga dan wisatawan.

Tak jauh dari sana, terdapat Alun-alun Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Dirancang langsung oleh Henri Prost, pada mulanya kawasan itu dimaksudkan sebagai pusat La Ville Europeenne.

Dahulu, namanya adalah Place de l'Horloge, ‘Alun-alun Jam Besar.' Sebab, pada 1910-an pemerintah kolonial membangun menara jam di sana. Sayangnya, pada 1948 menara tersebut dihancurkan.

Namun, pada 1993 pemerintah kota Kasablanka mendirikan replika jam gadang bersejarah itu di lokasi yang sama. Secara keseluruhan, arsitektur ruang terbuka Alun-alun PBB menyerupai corak yang sering dijumpai di Prancis. Hotel Excelsior yang dibangun dalam area tersebut pada 1916 tetap bertahan hingga saat ini.

Gaya hidup yang terasa di Kasablanka menunjukkan nuansa Arab-Eropa. Satu di antaranya tampak dari tradisi budaya laitiere atau kedai susu. Sekalipun bangunannya meniru kafe-kafe Parisian, aktivitas di dalamnya tak ubahnya warung kopi di dunia Arab. Berbagai sajian khas Maroko juga sering tersaji di sana.


,
×