Asma Nadia | Daan Yahya | Republika
26 Nov 2020, 02:01 WIB

Seberapa Hidupmu Memberi Arti

Adakah sepenggal jejak yang masih tersisa di dunia setelah nyawa terpisah dari raga?

OLEH ASMA NADIA

Tayangan animasi berdurasi kurang dari dua menit, berhasil membuat mata saya berembun. Sebuah video superpendek tentang perjalanan karier Khabib Nurmagomedov bersama ayah yang sekaligus berperan sebagai pelatihnya.

Walau teramat singkat, film tersebut berhasil menggambarkan secara efektif bagaimana Abdulmanap Nurmagomedov, sang ayah, melatih Khabib sejak dini. Ia rutin mengajak bocah lelakinya mendaki gunung hingga   puncak.

Setelah berada di titik tertinggi, mereka duduk bersisian, menikmati matahari dan pemandangan luas yang terhampar dari ketinggian. Selain melatih fisik, saat mendaki, sang ayah seolah ingin menyiratkan pesan agar putranya termotivasi mencapai puncak prestasi di dunia  luas.

Terkait

Demi menyiapkan sang anak menghadapi pertandingan fisik yang berat, lelaki itu melatih Khabib cilik bergulat dengan seekor anak beruang. Kegilaan yang hanya mungkin berlaku sebab perhitungan cermat selain kepercayaan kuat antara ayah dan anak lelakinya.

Dalam usia terbilang muda, pemuda Muslim ini menjadi legenda hidup Mix Martial Art, dengan rekor memenangkan pertandingan profesional 28 kali tanpa pernah kalah sekali pun. Pencapaian yang sampai saat ini belum ada yang menandingi.

 
Tidak seorang pun mengira, momen tersebut merupakan kesempatan pertama dan terakhir bagi sang ayah. 
 
 

Sayangnya, saat karier sang anak bersinar dan diundang bertarung di level tertinggi UFC di AS, sang ayah tak berhasil berangkat sebab visanya ditolak. Hanya melalui televisi, Abdulmanap menyaksikan hasil latihan yang mengantarkan sang putra pada prestasi gemilang.

Dan sejauh apa pun terbang untuk bertarung, Khabib tak pernah melupakan jasa orang tua. Meski ayah yang dicintai tak di sisi, pemuda gagah itu secara lantang selalu berterima kasih dan menyebut ayahnya setiap kali usai menjatuhkan lawan.

Suatu hari, UFC memindahkan tempat penyelenggaraan pertarungan ke Abu Dhabi. Keputusan yang memungkinkan Abdulmanap akhirnya berkesempatan menyaksikan kegagahan putranya di atas arena.  

Sehabis pertarungan yang kembali dimenangkan Khabib, lelaki tua itu ikut memasuki ring merayakan prestasi yang diraih anaknya. Setelah berpuluh tahun melatih, belasan kemenangan diraih, baru kali ini dia bisa merasakan aura juara langsung di arena tarung oktagon.

Momen yang membuat mata tuanya bercahaya. Putranya tegak di arena, dengan tangan telunjuk teracung, mengagungkan asma Allah. Kali ini, dia bukan menyaksikannya melalui layar televisi, melainkan hadir dengan kebanggaan yang terasa meledakkan dada.

Tidak seorang pun mengira, momen tersebut merupakan kesempatan pertama dan terakhir bagi sang ayah. Karena setelah pandemi yang terjadi, Abdulmanap Nurmagomedov terjangkit Covid-19 dan nyawanya tidak bisa diselamatkan.

Perasaan kehilangan sang putra tak terbayangkan, tapi tergambarkan dengan baik melalui animasi pendek yang dibuat, antara lain, sebagai penghormatan atas pencapaian sang ayah melatih dan membesarkan seorang juara dunia.

 
Warisannya, ilmunya, pendidikannya, semua tetap menyapa dan menyemai kebanggaan bagi banyak orang, bahkan setelah kepergiannya.
 
 

Namun, film pendek tersebut tak hanya menjabarkan kesedihan, tapi juga menyisakan kekuatan tekad bagi sang juara tetap melanjutkan cita sang ayah meski lelaki tercinta itu telah pergi, sebagai bentuk sayang dan bakti.

Menyaksikan film tersebut, air mata saya menitik. Lalu dalam hati, berbagai pertanyaan berdengung. Seberapa hidup kita telah memberi dampak dan mewarnai kehidupan orang lain?

Jika kita berpulang kelak, akankah selain keluarga, orang-orang yang mengenal atau mengetahui kita, menangisi sebab merasa kehilangan? Ataukah mereka sebaliknya justru bersukacita? Ah, bagaimana jika yang bergembira dengan kepergian kita jauh melebihi mereka yang berduka?  

Seorang teman pernah mengatakan, sejatinya hanya ada empat tipe manusia. Pertama, orang yang keberadaannya membawa berkah bagi sekeliling sehingga masyarakat selalu berharap, dia akan terus ada di sekitar mereka. Ini adalah yang utama.

Kedua, orang yang keberadaannya membawa petaka. Semua yang mengenal kiprahnya, barangkali menyumpahi manusia jenis ini agar cepat dipanggil Sang Pencipta. Keberadaannya tak hanya tak memberikan manfaat, sebaliknya menebarkan mudharat.

Ketiga, orang yang ada atau tidak keberadaannya, tidak ada bedanya. Saat dia ada, tidak terasa kebaikan yang diberikan meski kehadirannya juga tidak terasa sebagai gangguan.

Keempat, ini paling mulia. Orang yang tetap memberikan pengaruh kebaikan bagi orang lain. Warisannya, ilmunya, pendidikannya, semua tetap menyapa dan menyemai kebanggaan bagi banyak orang, bahkan setelah kepergiannya. Abdulmanap Nurmagomedov, almarhum ayah Khabib, salah satunya.

Bagaimana dengan kita kelak? Adakah sepenggal jejak yang masih tersisa di dunia setelah nyawa terpisah dari raga?


,
×