Dr Mustafa Izzuddin | dok pribadi
26 Nov 2020, 03:00 WIB

Geopolitik Kunjungan PM Suga

Ada dua aspek geopolitik dalam kunjungan PM Suga ke Indonesia.

Indonesia terpilih menjadi salah satu negara perdana yang dikunjungi Perdana Menteri Jepang, Yoshihide Suga, pada awal masa pemerintahannya. Ada pesan dan latar belakang geopolitik apa di balik kunjungan di tengah masa pandemi tersebut?

Wartawan Republika Fitriyan Zamzami mewawancarai Dr Mustafa Izzuddin, analis senior politik luar negeri Solaris Strategies Singapore sekaligus pengajar di National University of Singapore dan Universitas Islam Indonesia terkait hal itu. Berikut ini petikannya.

Bagaimana konteks geopolitik di balik kunjungan PM Suga ke Vietnam dan Indonesia pada masa pandemi ini?

Saya pikir memang banyak sorotan pada kunjungan luar negeri perdana, perdana menteri baru ini. Karena normalnya, kunjungan luar negeri perdana lebih ke sekutu-sekutu dekat. Dalam hal ini, PM Suga ingin menekankan bahwa Asia Tenggara adalah regional yang penting bagi Jepang, dan ini adalah kelanjutan dari yang dilakukan Abe (mantan PM Jepang Shinzo Abe) merangkul wilayah ini. 

Terkait

Namun, ada dua aspek geopolitik dalam kunjungan ini. Pertama, tentu terkait kerja sama ekonomi yang telah lama dibangun dengan wilayah ini. Dan yang kedua, ia merupakan langkah selanjutnya dalam kerja sama pertahanan dan keamanan. 

Saya pikir, kunjungan ini tak lepas dari langkah-langkah agresif Cina. Ini membuat Jepang merasa harus meningkatkan kerja sama pertahanan dan keamanan dengan negara-negara Asia Tenggara. Ini terkait konteks geopolitik Laut Cina Timur (lokasi sengketa wilayah Jepang-Cina), dan Laut Cina Selatan. Di kedua lokasi, Cina menunjukkan sikap-sikap yang agresif. Pesannya, PM Suga hendak menegaskan bahwa Asia Tenggara akan menjadi salah satu fondasi hubungan luar negeri Jepang. 

 
Saya pikir, kunjungan ini tak lepas dari langkah-langkah agresif Cina. Ini membuat Jepang merasa harus meningkatkan kerja sama pertahanan dan keamanan dengan negara-negara Asia Tenggara. 
 
 

Mengapa Vietnam dan Indonesia yang dipilih?

Ini menarik. Pertama, Vietnam adalah klaiman di Laut Cina Selatan, dan saya rasa bersama-sama dengan Jepang memiliki kekhawatiran soal tindakan Cina belakangan. Kekhawatiran ini menjembatani Jepang dan Vietnam.

Kemudian, Jepang adalah salah satu mitra dagang utama Vietnam. Jepang juga merupakan salah satu donor utama bantuan pembangunan Vietnam melalui ODA (Official Development Assistance) dan Asia Development Bank.

Vietnam selalu bersikap hati-hati tak terlalu dekat dengan Jepang untuk menjaga hubungan dengan Cina. Namun, kali ini Vietnam menyepakati kerja sama pertahanan dengan Jepang, yang merupakan hal bersejarah bagi kedua negara. Selain itu, Vietnam saat ini adalah ketua ASEAN yang membuat posisinya jadi penting.

Sementara dengan Indonesia, saya kira sangat jelas. Pertama, Indonesia adalah negara terbesar di Asia Tenggara. Dalam hal itu saja, Indonesia adalah kesempatan ekonomi bagi Jepang. Jepang juga telah diundang oleh pemerintahan Jokowi untuk berinvestasi di proyek-proyek infrastruktur, seperti jalur kereta Jakarta-Surabaya.

Dan meski Indonesia bukan klaiman di Laut Cina Selatan, belakangan ada gesekan dengan Cina di Laut Natuna. Jadi, Jepang dan Indonesia punya kesamaan kepentingan soal keamanan maritim. Terlebih Presiden Jokowi sebelumnya, sering membicarakan Indonesia jadi kekuatan maritim global. 

 
Jepang menginginkan strategi FOIP mereka bisa melebur dengan outlook ASEAN soal Indo-Pasifik. 
 
 

Jepang ingin menggandeng Indonesia membangun kebijakan maritim yang lebih konstruktif, seperti yang disepakati Indonesia dengan India. 

Selain itu, Jepang belakangan mewacanakan strategi Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka (Free and Open Indo-Pacific/FOIP). Meski tak dijelaskan secara eksplisit, sangat kentara bahwa strategi itu merupakan respons atas tindakan asertif Cina belakangan. Salah satu bukti jelas dari itu adalah bergabungnya Jepang di ‘Quad’ (istilah untuk latihan militer bersama antara Jepang-AS-Australia-India).

ASEAN belakangan juga telah mengeluarkan outlook Indo-Pasifik, dan Indonesia berperan besar dalam penyusunan outlook tersebut. Jepang menginginkan strategi FOIP mereka bisa melebur dengan outlook ASEAN soal Indo-Pasifik. Jadi jelas, dalam kunjungan ini ada strategi geopolitik Jepang untuk menjaga Cina pada jarak tertentu. 

Mengapa kunjungan ini dilakukan pada masa-masa pandemi? Apakah ada pesan tertentu dari hal itu?

Tentunya PM Suga sudah tiba dengan protokol kesehatan yang ketat. Tapi, PM Suga juga menyampaikan pesan bahwa Jepang bertekad menjalin hubungan dengan wilayah ini meski ada pandemi Covid-19. Jepang menyampaikan pesan bahwa mereka bakal menawarkan bantuan bagi Asia Tenggara pada masa-masa ini. 

 
Tapi, saya lihat, pemerintahan Jokowi akan bijaksana dalam tak memilih satu atas yang lainnya. Saya rasa itu prinsip yang selama ini, berlaku di Asia Tenggara. 
 
 

Pejabat-pejabat Cina juga sebelumnya, sudah melakukan kunjungan ke wilayah ini. Jadi, ini kritikal bagi Jepang. Mereka merasa harus melakukan hal yang sama agar tak ketinggalan. Jepang pasti sudah melakukan kalkulasi dalam melakukan kunjungan secara fisik, ketimbang melalui platform digital. Secara optik, ada pesan bahwa “Sekarang pimpinan kita sudah saling berkunjung, mungkin kita sudah menuju masa yang lebih aman”.

Bagaimana Indonesia harus mengambil sikap dalam konteks perimbangan kekuatan belakangan ini?

Yang paling utama perlu dilakukan pemerintah Indonesia adalah melindungi masyarakat dari Covid-19 (tertawa). Tak perlu khawatir lebih dulu terhadap kebijakan Cina dan Jepang. Tapi, saya lihat, pemerintahan Jokowi akan bijaksana dalam tak memilih satu atas yang lainnya. Saya rasa itu prinsip yang selama ini, berlaku di Asia Tenggara jika kita melihat Malaysia, Vietnam, Thailand, bahkan Filipina. Mereka semua ingin memiliki banyak mitra.

Saya kira yang paling baik bagi wilayah ini dan Indonesia adalah mendiversifikasi mitra perekonomian, mendiversifikasi mitra perpolitikan juga. Jadi, bisa melampaui soal Cina dan Jepang. Ini juga kesempatan bagi Jepang untuk tak terlalu bergantung pada Amerika Serikat dan mencoba untuk merangkul wilayah ini secara mandiri. 


,
×