Perdana Menteri Yoshihide Suga (tengah) bersama istri Mariko Suga (kiri), melambaikan tangan setibanya di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Ahad (20/10). | AP Photo/Indonesian Presidential Palace
21 Oct 2020, 05:30 WIB

Indonesia-Jepang Kerja Sama Pertahanan

Jepang gelontorkan bantuan Rp 6,9 triliun buat Indonesia.

JAKARTA – Perdana Menteri Yoshihide Suga mengawali kunjungan luar negeri ke Indonesia dengan menemui Presiden Joko Widodo di Istana Bogor, Selasa (20/10). Selain kerja sama penanggulangan pandemi dan perekonomian, kerja sama pertahanan jadi salah satu pembahasan, kemarin.

Selepas melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Jokowi, PM Suga menyatakan akan mengkonkretkan kerja sama di bidang keamanan dan pertahanan antara kedua negara. Hal itu, kata dia, dengan pertimbangan situasi regional belakangan.

“Kami sepakat mengadakan pertemuan dua plus dua dalam waktu tidak lama dalam mempercepat pembahasan menuju pengalihan peralatan dan teknologi pertahanan serta mendorong pengembangan sumber daya manusia termasuk bidang penegakan hukum di laut,” kata PM Suga dalam konferensi pers di Istana Bogor.

Perlu dicatat, Jepang baru melonggarkan kerja sama militer, utamanya ekspor teknologi pertahanan sejak 2014 lalu. Hal itu membalik kebijakan sejak Jepang kalah dalam Perang Dunia II. Pencabutan larangan tersebut tak lepas dari ancaman terhadap Jepang dari Korea Utara dan Cina di Laut Cina Timur.

Terkait

November nanti, Jepang bakal ikut serta dalam latihan militer bersama Australia, Amerika Serikat, dan India di Laut Cina Selatan.

photo
Presiden Joko Widodo (kiri) berbincang dengan Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga (kanan) saat menerima kunjungan kenegaraan di Istana Bogor, Jawa Barat, Selasa (20/10). - (ANTARA FOTO/HO/Setpres-Muchlis Jr)

“Sehubungan dengan isu-isu regional termasuk Korea Utara dan Laut Cina Selatan, kami sepakat bahwa Jepang dan Indonesia akan bekerja sama secara erat,” kata Suga, yang baru mulai menjabat sejak September lalu.

Ia mengelaborasikan, Jepang meminta dukungan Indonesia atas penyelesaian isu penculikan warga Jepang oleh Korea Utara. “Jepang akan bekerja sama dan bergandengan tangan dengan Indonesia bagi perdamaian dan kesejahteraan kawasan ini berlandaskan kemitraan strategis kedua negara kita, yang diperkokoh dengan kunjungan saya ke Indonesia kali ini,” Suga menuturkan.

Indonesia sejauh ini tak secara terbuka terlibat sengketa wilayah dengan Cina di Laut Cina Selatan. Meski begitu sejak awal tahun ini, terjadi sejumlah insiden masuknya kapal penjaga pantai dan nelayan RRC ke zona ekonomi eksklusif Indonesia di Laut Natuna Utara yang bersinggungan dengan Laut Cina Selatan.

Selain kerja sama pertahanan, Pemerintah Jepang berkomitmen memberikan pinjaman kepada Indonesia sebesar 50 miliar yen atau setara Rp 6,9 triliun untuk meningkatkan kapasitas penanggulangan bencana di Indonesia. “Dengan mempertimbangkan dampak Covid-19 terhadap perekonomian Indonesia, pada kesempatan ini Jepang telah menetapkan pemberian pinjaman sebagai bantuan fiskal sebesar 50 miliar yen untuk meningkatkan kapasitas penanggulangan bencana di Indonesia,” kata PM Suga.

Jepang juga mendorong kerja sama lembaga pengkajian kesehatan di Indonesia melalui pemberian barang dan peralatan medis. Dalam pertemuan ini, Jepang juga akan meningkatkan kerja sama di bidang infrastruktur seperti pembangunan MRT, kereta semi cepat jalur Jakarta-Surabaya, pembangunan dan pengelolaan Pelabuhan Patimban, pembangunan pulau-pulau terluar, serta kerja sama untuk meningkatkan pertahanan ekonomi.

Sedangkan menurut Presiden Jokowi, dalam pidatonya mengiyakan perlunya kerja sama Indonesia dan Jepang terkait kondisi terkini. ”Saya menekankan pentingnya spirit kerja sama untuk terus diperkuat terutama di tengah rivalitas yang semakin menajam antara kekuatan besar dunia,” kata Jokowi.

Ia mengatakan, perlunya kerja sama yang inklusif di Indo-Pasifik sesuai yang disepakati dalam ASEAN Outlook on the Indo-Pacific. “Saya juga menggarisbawahi harapan agar Laut Cina Selatan dapat terus menjadi laut yang damai dan stabil,” ujar Jokowi.

photo
Peta klaim Laut Cina Selatan - (Wikipedia)

Dalam pertemuan kemarin dibicarakan juga kerja sama pengelolaan pandemi Covid 19. Jokowi mengatakan, sejak awal pandemi Covid-19, Jepang merupakan mitra penting bagi Indonesia dalam memitigasi pandemi termasuk membantu evakuasi 69 ABK WNI dari kapal Diamond Princess di Yokohama.

Lebih lanjut, Presiden juga mengapresiasi penandatanganan memorandum kerja sama kesehatan antara Indonesia dan Jepang pada 19 Oktober lalu. Jokowi mendorong Jepang memperkuat tata kelola kesehatan di kawasan untuk menghadapi terjadinya pandemi di masa mendatang.

Ia menekankan, Jepang merupakan salah satu mitra strategis Indonesia di bidang ekonomi. “Saya menyambut baik relokasi dan perluasan investasi perusahaan-perusahaan Jepang ke Indonesia seperti perusahaan Denso, Sagami, Panasonic, Mitsubishi Chemical, dan Toyota,” kata Jokowi.

Presiden Jokowi juga mengapresiasi kunjungan PM Suga bersama istrinya Mariko Suga di masa pandemi. “Saya meyakini keputusan berkunjung ke luar negeri khususnya ke Indonesia di masa pandemi ini tidak mudah. Oleh sebab itu, saya sangat menghargai kunjungan Yang Mulia,” ujar Jokowi. 

Latihan perang

Sementara, Angkatan Laut India, Jepang, Amerika Serikat, dan Australia akan mengadakan latihan militer gabungan di Laut Arab serta Teluk Benggala pada November mendatang. Latihan tersebut kemungkinan besar akan diprotes Cina. 

Dilaporkan laman Aljazirah, Menteri Pertahanan Australia Linda Reynolds pada Senin (19/10) malam mengatakan latihan itu bertujuan "menunjukkan tekad kolektif untuk mendukung kawasan Indo-Pasifik yang terbuka dan makmur". Pernyataannya itu merupakan sebuah singgungan untuk melawan pengaruh serta kekuatan Cina. 

Menurut Kementerian Pertahanan India, latihan angkatan laut gabungan empat negara itu bakal berlangsung di Laut Arab dan Teluk Benggala. Wilayah itu telah menjadi titik didih persaingan strategis Indo-Cina. Beijing diprediksi bakal menentang penyelenggaraan latihan tersebut. 

Hubungan Cina dengan empat negara tersebut diketahui tidak terlalu harmonis. Dengan AS, Cina terlibat ketegangan ekonomi. Washington pun menjadi salah satu pihak yang paling lantang menentang klaim maritim Cina atas Laut Cina Selatan. 

photo
Tangkapan citra satelit menunjukkan pulau buatan Cina di Laut Cina Selatan, beberapa waktu lalu. Pulau tersebut dikhawatirkan bertujuan sebagai pangkalan militer. - (AP Photo)

Belum lama ini, Cina dan India pun saling bersitegang menyusul terjadinya bentrokan yang melibatkan pasukan kedua negara di wilayah perbatasan Himalaya, tepatnya di Ladakh Timur. Bentrokan pada Juni lalu dilaporkan menyebabkan 20 tentara India tewas. Sementara Cina disebut memiliki 40 korban jiwa, termasuk seorang komandan.

Hubungan Cina dan Australia pun tak terlalu harmonis. Beijing pernah melayangkan protes keras kepada Australia karena terus menyerukan penyelidikan independen asal-usul virus korona penyebab Covid-19. 

Sementara dengan Jepang, Cina masih terlibat sengketa maritim di kepulauan Diaoyu. Jepang turut mengklaim Diaoyu. Jepang memberinya nama Senkaku. Hubungan Cina dan Jepang diprediksi dapat memburuk akibat sengketa klaim kepulauan tersebut.

Beijing telah mencabut larangan penangkapan ikan di wilayah itu. Hal itu dapat memaksa Tokyo bertindak. Senkaku mungkin tak memiliki banyak nilai, tapi perairan sekitarnya secara strategis signifikan dalam hal kontrol jalur laut, sumber daya ikan, cadangan energi yang belum dimanfaatkan, dan imperatif militer.


,
×