Silaturahim pengurus pusat Ormas Hidayatullah ke Redaksi Republika Jakarta sebelum pandemi Covid-19. | Republika / Darmawan
20 Oct 2020, 09:05 WIB

Hidayatullah Berkomitmen Kembangkan Dakwah Umat

Munas Hidayatullah tahun ini akan digelar secara daring.

 

 

JAKARTA -- Ormas Islam Hidayatullah akan menggelar Musyawarah Nasional (Munas) V pada 29-31 Oktober 2020. Digelar secara virtual, munas akan membahas berbagai agenda strategis, di antaranya program kerja lima tahun ke depan dan struktur kepengurusan. 

Ketua Panitia Munas V Hidayatullah, Wahyu Rahman, mengatakan, program tersebut nantinya akan dikaji secara perinci dalam munas, tetapi fokusnya tetap di jalur dakwah dan pendidikan. 

Terkait

"Yang alot dalam munas nanti itu diskusi tentang program lima tahun ke depan, yang tetap mengacu pada arus utama yang sudah ditetapkan, tarbiyah dan dakwah. Meliputi pendidikan formal dan informal serta dakwah itu sendiri sehingga mesin dakwah ini terus tumbuh berkembang," ujar dia dalam pertemuan virtual dengan jajaran redaksi Harian Republika, Senin (19/10).  

Tarbiyah dan dakwah menjadi core Hidayatullah sejak awal berdirinya pada era 1970-an. Pendidikan merupakan kunci pengembangan sumber daya manusia umat. Melalui proses ini karakter mulia berdasarkan Alquran dan sunah Rasulullah dibentuk. Misalkan sifat sabar, menyapa dan menghormati orang lain, tawakal, amanah, dan jujur.   

Kemudian ilmu yang merupakan cahaya Allah ditanamkan dalam hati. Ilmu dalam perspektif Islam tidak dipecah menjadi yang agama dan tidak. Sebab dalam perspektif Islam, semua ilmu berasal dari Allah. Tidak ada ilmu yang mengakibatkan seseorang menjadi sekuler dan atheis. Justru ilmu yang dimiliki, dipahami, direalisasikan, dan dihayati dengan sungguh-sungguh, mengakibatkan seseorang semakin beriman kepada Allah.

Selain itu, anak didik dan kader Hidayatullah juga dilatih dengan berbagai keterampilan agar mereka semakin cakap menghadapi perkembangan zaman. Seperti keterampilan bela diri, seni kaligrafi, seni beretorika, dan banyak lagi.

Pesantren Hidayatullah yang tersebar di seluruh Indonesia mengembangkan tiga hal tersebut. Dengan begitu, SDM Hidayatullah mampu tampil dan berkhidmah dalam kehidupan sehari-hari. Pengurus Hidayatullah bersyukur, kader pendakwah yang telah dibina dengan baik dikenal sebagai dai serba bisa. Mereka dihormati dan disegani masyarakat karena akhlaknya yang mulia, wawasannya yang luas, dan terampil, sehingga apa yang dibutuhkan masyarakat, banyak yang dapat diwujudkan.

Era milenium ketiga ini ditandai perubahan zaman yang serba digital. Tak hanya lisan melalui mimbar, dakwah saat ini harus digemakan melalui teknologi digital dengan memanfaatkan berbagai platform media sosial dan media arus utama. Karena itu pihaknya sudah mengembangkan konten dakwah melalui chanel Youtube.

“Alhamdulillah subscriber semakin bertambah, begitu juga viewer-nya. Kita akan terus kembangkan jalan dakwah melalui perangkat digital semaksimal mungkin sehingga jangkauan dakwah kami semakin luas,” kata Wahyu.

Dalam munas tersebut juga akan ditetapkan struktur kepengurusan organisasi di tingkat pusat. Kepengurusan ini terdiri atas pemimpin umum beserta beberapa pembantunya, seperti dewan pertimbangan dan dewan penasihat. 

"Ada juga penyeimbang DPP (dewan pengurus pusat), yaitu dewan pengawasan, yang akan mengawasi langkah-langkah dan program yang dilakukan DPP," kata Wahyu. 

Lebih lanjut ia menerangkan, selama periode 2015-2020, program pendidikan dan dakwah yang dilaksanakan Hidayatullah terlaksana cukup baik. 

"Pak JK (Jusuf Kalla) waktu beliau menjadi wapres dan menghadiri Rakernas di Batam mengatakan bahwa Hidayatullah ini ormas tercepat di Indonesia. Meskipun dari sisi usia sudah 73 tahun, namun kalau menurut perhitungan sebagai ormas  baru berusia 20 tahun sejak tahun 2000, sebelumnya lembaga sosial biasa," ujar Wahyu. 

Seiring pertumbuhan tersebut, jumlah dai Hidayatullah juga terus meningkat. Setiap dewan pengurus wilayah (DPW) memiliki target jumlah dai yang akan direkrut. Di beberapa provinsi pun sudah dilakukan pengembangan dengan membentuk dewan pengurus cabang (DPC) di tingkat kecamatan. 

"Jadi, pengembangannya sudah mencapai kecamatan, tentu harapannya supaya semua orang yang disentuh Hidayatullah dapat tercerahkan," tutur Wahyu.

 

 

 

Jadi, pengembangannya sudah mencapai kecamatan, tentu harapannya supaya semua orang yang disentuh Hidayatullah dapat tercerahkan.

 

 

WAHYU RAHMAN, Ketua Panitia Munas V Hidayatullah.
 

 

Di bidang pendidikan, Hidayatullah terus melakukan pengembangan khususnya perguruan tinggi. Semula perguruan tinggi yang didirikan Hidayatullah hanya tiga, kini menjadi tujuh. Lembaga yang berdiri pada 7 Januari 1973 itu juga membuat sekolah dai di berbagai provinsi sebagai mesin perekrutan dai, kemudian dikirim ke daerah-daerah terpencil untuk berdakwah. 

Munas V Hidayatullah akan digelar di kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, dan 34 titik lain yang merupakan perwakilan Hidayatullah di daerah atau DPW. 

Penyelenggaraan munas secara daring merupakan hasil keputusan Musyawarah Majelis Syura Hidayatullah. Perhelatan nasional ini digelar dengan mempertimbangkan banyak hal, terutama pandemi Covid-19 yang hingga saat ini belum berakhir. 

photo
Relawan dari Gerak Bareng Community menghapus tato warga di Teras Dakwah, Kampung Nitikan, Umbulharjo, DI Yogyakarta, sebelum pandemi Covid-19. Gerak Bareng Community bekerja sama dengan Islamic Medical Service (IMS) dan DPP Hidayatullah menyelenggarakan program layanan hapus tato gratis untuk warga dengan syarat hafal Surat Ar-Rahman - (ANTARA FOTO)

Sekilas sejarah

Hidayatullah awalnya sebuah pondok pesantren yang berdiri di atas lahan wakaf seluas 120 hektar di Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur. Pondok pesantren ini didirikan oleh Ust Abdullah Said pada 7 Januari 1973.

Dalam perkembangannya, Ust Abdullah Said mengirimkan santri-santrinya untuk berdakwah ke berbagai daerah di seluruh Indonesia, khususnya daerah-daerah minoritas Muslim. Di daerah terpencil itu, para pendakwah menyaksikan betapa banyak saudara Muslim yang tidak tersentuh dakwah. Mereka hidup dalam kemalangan dan sangat rentan berpindah agama.

Di sanalah mereka membangun kehidupan dan mendakwahkan ajaran Islam. Mereka mengajarkan anak-anak mengaji, membangun mushala dan masjid, juga menggelar majelis taklim.

Di tempat tugas yang baru, para santri Hidayatullah tak sekadar berdakwah, tetapi juga membangun cabang pondok pesantren Hidayatullah. Pada akhirnya, lembaga pendidikan Hidayatullah tersebar di lebih dari 100 kabupaten di seluruh Indonesia dalam bentuk pondok pesantren. Fokus kegiatannya adalah sosial, pendidikan, dan dakwah.

Pada Musyawarah Nasional (Munas) Pertama Hidayatullah, 9–13 Juli 2000, di Balikpapan, Hidayatullah mengembangkan menejemennya menjadi organisasi kemasyarakatan (ormas) dan menyatakan diri sebagai gerakan dakwah dan perjuangan Islam.

Dalam perkembangan selanjutnya, ormas Islam Hidayatullah berubah menjadi Perkumpulan Hidayatullah. Keanggotaan, misi, visi, dan konsep dasar gerakan bersifat terbuka. Sejalan dengan itu, struktur kepengurusan Hidayatullah semakin mengakar hingga ke pelosok. Mulai dari pimpinan cabang (PC), pimpinan daerah (PD) dan dewan pimpinan wilayah (DPW). 

Sejak 1978 Hidayatullah melakukan pengiriman da’i ke seluruh Indonesia dan mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Hidayatullah (STIEHID) di Depok, Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman Al-Hakim (STAIL) di Surabaya dan Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Hidayatullah (STISID) di Balikpapan sebagai lembaga pendidikan untuk pengkaderan da’i. Para peserta didik  di dalamnya mendapatkan beasiswa penuh (biaya pendidikan dan biaya hidup). Setelah tamat, mereka kemudian mendapatkan tunjangan maksimal hingga 3 tahun atau sampai mereka mampu menjadi pelaku ekonomi di tempatnya berada.

Mulai tahun 1998 lembaga pendidikan kader da’i ini telah menghasilkan lulusan dan telah mengirimkan da’i ke berbagai daerah terutama Indonesia Bagian Timur dan Tengah. Setidaknya setiap tahun, Hidayatullah mengirimkan 150 da’i ke berbagai daerah di Indonesia dengan 50 di antaranya adalah lulusan strata satu dari lembaga pendidikan kader da’i.

Lembaga pendidikan Hidayatullah meliputi Taman Kanak-Kanak dan kelompok bermain pra sekolah, Sekolah Dasar atau Madrasah Ibtidaiyah di hampir semua Daerah, Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah dan Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah setidaknya ada di setiap Wilayah dan 3 perguruan tinggi di Surabaya, Balikpapan dan Depok.

Pusat Pendidikan Anak Shaleh (PPAS) adalah institusi berupa pesantren bagi anak yatim piatu. Ada lebih dari 200 Pusat Pendidikan Anak Shaleh (PPAS) dengan jumlah anak yatim piatu dan tidak mampu dimana setiap PPAS menampung sekitar 150 orang anak.

Pada tahun 2013, Hidayatullah mendapat tambahan sebuah perguruan tinggi STT STIKMA Internasional Malang, yang dinaungi dibawah PW Hidayatullah Jawa Timur. Berbeda dengan Perguruan Tinggi Hidayatullah lainnya yang umumnya mempelajari ilmu agama, STT STIKMA Internasional Malang adalah perguruan tinggi yang mempelajari bidang Teknologi Informasi, Multimedia, Arsitektur, dan Komputerisasi Akuntansi. STT STIKMA Internasional Malang bergabung setelah yayasan yang lama, meng-hibah-kan lembaga STT STIKMA Internasional kepada ormas Hidayatullah.

Sebagai organisasi massa Islam yang berbasis kader, Hidayatullah menyatakan diri sebagai Gerakan Perjuangan Islam (Al-Harakah al-Jihadiyah al-Islamiyah) dengan dakwah dan tarbiyah sebagai program utamanya. Keanggotaan Hidayatullah bersifat terbuka, dimana usahanya berfungsi sebagai basis pendidikan dan pengkaderan.

Metode (manhaj nubuwwah) Hidayatullah yaitu berpegang pada Alqur’n dan sunnah sebagai bentuk ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Hidayatullah berfokus pada pelurusan masalah aqidah, imamah dan jamaah (tajdid); pencerahan kesadaran (tilawatu ayatillah); pembersihan jiwa (tazkiyatun-nufus); pengajaran dan pendidikan (ta’limatul-kitab wal-hikmah) dengan tujuan akhir melahirkan kepemimpinan dan umat.


,
×