Jet tempur F-35 Lightning II, tiba di Pangkalan Udara Edwards di California beberapa waktu lalu. | X80001
27 Nov 2020, 06:10 WIB

Prabowo Diminta Hati-Hati Soal Pesawat Tempur F-35

Indonesia punya pengalaman buruk dengan Amerika dalam hal pesawat tempur.

JAKARTA -- Menteri Pertahanan Prabowo Subianto diminta berhati-hati dengan rencana pembelian pesawat tempur F-35 dari Amerika Serikat (AS). Prabowo sejak 15 Oktober menghadiri undangan Pemerintah AS, salah satu agendanya dikabarkan berkaitan dengan pembelian jet tempur generasi ke-5 tersebut.

Anggota Komisi I DPR, Rudianto Tjen, menilai kunjungan Prabowo ke AS adalah upaya yang baik karena Indonesia bebas melakukan lobi dengan semua negara, termasuk Amerika, demi keamanan global. Namun, ia menekankan, sebelum mengikat diri untuk membeli produk dari negeri Paman Sam, perlu ada perjanjian tegas yang dapat menguatkan pertahanan Indonesia. 

"Tidak seperti dulu, kita diikat oleh perjanjian yang melemahkan posisi Indonesia, seperti embargo senjata yang sangat merugikan," kata Rudianto saat dikonfirmasi Republika, Senin (19/10).

Rudianto mengingatkan, Indonesia punya pengalaman buruk dengan Amerika dalam hal pesawat tempur. Dia mengusulkan, sebaiknya perlu kajian dan pertimbangan khusus untuk melirik pesawat tempur F-35 tersebut. "Pesawat bisa saja dibeli kalau memang menguntungkan Indonesia dalam hubungan baik kedua negara dan fungsi pertahanan," kata dia

Terkait

photo
Jet tempur F-35 Lightning IIsaat tampil di Singapore Airshow 12 February 2020. - (EPA)

Politisi PDI Perjuangan itu lebih menyarankan Kemenham untuk meneruskan perjanjian jual-beli pesawat canggih asal Rusia, Sukhoi SU-35. Prinsipnya, kata dia, Indonesia tidak boleh tunduk oleh tekanan negara mana pun dan bisa membeli alat utama sistem pertahanan (alutsista) sesuai kebutuhan. "Hindari membeli alutsista bekas," kata dia.

Prabowo berkunjung ke AS sejak 15 Oktober atas undangan Menteri Pertahanan AS Mark Esper. Dalam agendanya, Ketua Umum Partai Gerindra itu akan berada di sana hingga Senin kemarin.

Dilaporkan Reuters pada Jumat (16/10), keinginan Pemerintah Indonesia mendapatkan jet tempur berkemampuan stealth F-35 itu ada dalam daftar roadmap kunjungan Prabowo. Namun, kata laporan itu, seorang pejabat Indonesia menyatakan tidak begitu berharap banyak atas hal tersebut. "Jujur, kami tidak berharap banyak," kata pejabat Indonesia yang tak ingin namanya disebut.

Dalam laporan itu juga disebutkan, AS dikabarkan akan kembali memberi peringatan ke Indonesia terkait rencana pembelian senjata dari Rusia. Pembelian jet tempur Rusia disebut dapat memicu sanksi AS di bawah Countering America’s Adversaries Through Sanctions Act (CAATSA). 

"Kami meningkatkan risiko CAATSA dalam semua percakapan kami dengan Kementerian Pertahanan," ujar salah satu pejabat AS. Republika telah mengonfirmasi soal rencana tersebut ke pihak Kemenhan. Namun, kepala Biro Humas Kemenhan, Sekretariat Jenderal Kemenhan, hingga juru bicara Menhan belum memberi respons.  

Pada Juli lalu, Duta Besar RI untuk Rusia Mohamad Wahid Supriyadi mengungkapkan, Indonesia masih berkomitmen menjaga kesepakatan 2018 atas pembelian jet tempur Sukhoi Su-35 meskipun ada ancaman sanksi dari AS. "Ini masih berlangsung," kata Wahid dalam sebuah wawancara dengan Sputnik di Moskow.

Prabowo telah dua kali mengunjungi Moskow untuk beraudiensi dengan Menhan Rusia Jenderal Sergei Shoigu pada akhir Januari 2020. Ia juga bertemu Wamenhan Rusia Kolonel Jenderal Alexander Fomin pada pekan ketiga Juni 2020.

Wahid mengatakan, sebagai negara independen, Indonesia memiliki hak untuk membeli alutsista dari siapa pun. "Kami memahami ada kekhawatiran dari negara tertentu, tetapi kami adalah negara merdeka. Kami memiliki peralatan militer yang dibeli dari banyak negara. Kami bisa mendapatkannya dari AS, dari Eropa, tetapi juga dari Rusia. Terserah kepada kami untuk memutuskan," ucap Wahid.


,
×