Murid kelas 8 memeladuki kelas untuk pembelajaran tatap muka di SMPN 1 Gantiwarno, Klaten, Jawa Tengah, Rabu (14/10). Dinas Pendidikan Klaten menunjuk lima sekolah menengah pertama untuk ujicoba pembelajaran tatap muka | Wihdan Hidayat / Republika
27 Nov 2020, 06:12 WIB

Agar Siswa Tetap Semangat Belajar di Tengah Pandemi Covid-19

Siswa membutuhkan suasana baru agar semangat mereka semakin tinggi untuk belajar di tengah pandemi Covid-19.

 

Pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai membuat siswa jenuh belajar daring. Mereka harus menjalani kegiatan sekolah di tengah lingkungan rumah. Membuat mereka tidak fokus. Ditambah lagi dengan banyak keterbatasan dengan alasan menjalankan protokol kesehatan. Tak banyak tempat mereka kunjungi. Tak banyak teman mereka sambangi. Sehingga mereka cepat bosan.

Untuk memotivasi siswa agar tetap semangat belajar daring, Sekolah Indonesia Luar Negeri (SIL) di Davao City Filipina menyelenggarakan “All about Indonesia, Singing Contest, Math and Science Competition 2020”. 

Lomba yang diinisiasi oleh Kantor Atase Pendidikan dan Kebudayaan dan difasilitasi oleh KJRI Davao City ini, mendapatkan respon yang sangat baik dari sekolah-sekolah di Filipina. Jumlah peserta yang mendaftar mencapai delapan puluh enam siswa, datang dari berbagai sekolah. Bukan hanya dari Davao City dan sekitarnya, juga diikuti dari sekolah-sekolah dari kota lain. Lomba ini akan berakhir pada tanggal 31 Oktober nanti. 

Terkait

Dalam sambutannya pembukaannya yang dilakuakan secara daring , Konsul Jenderal Dicky Fabrian mengatakan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat untuk terus menumbuhkan semangat  dalam melakukan pembelajaran dalam masa pandemi. 

“Kegiatan ini merupakan yang ketiga dilakukan oleh SILN-Davao, selain utnuk menyambut tahun ajaran baru 2020-2021, juga diharapkan bisa meningkatkan kerjasama pendidikan, tukar menukar pengalaman terutama dalam menghadapi pandemic ini” ujarnya lagi.

Pembukaan yang diikuti oleh Dr. Lili Nurlaili, Atase Pendidikan, Heny Muliyani, selaku PLT Kepala SILN-Davao dilaksanakan secara daring dilanjutkan dengan Lomba menyanyi dan lomba Matematika.

 

Bantuan untuk madrasah

Sebanyak 180 siswa-siswi Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al-Khairiyah, Kelurahan Kangkung, Kecamatan Bumi Waras, Kota Bandar Lampung menerima paket perlengkapan sekolah, Sabtu (17/10).

Penyaluran paket perlengkapan anak sekolah tersebut dilakukan PT Pelabuhan Indonesia yang menggandeng lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT). Hadir Kepala Cabang ACT Lampung Dian Eka Darma Wahyunni, Kepala Program ACT Lampung Regina Locita Pratiwi, Ketua Yayasan Al-Khairiyah M Sadim HS. 

Kepala Cabang ACT Lampung Dian Eka Darma Wahyuni menerangkan pelajar MI dan MTs Al-Khairiyah dipilih menjadi lokasi penyaluran bantuan karena berada di kawasan pesisir pantai dengan mayoritas wali murid berpenghasilan serba terbatas. Selain itu, penyaluran bantuan lainya juga sudah dimanfaatkan pelajar seperti pembangunan kamar mandi, paket nutrisi, dan lainya.

Dian mengatakan, bantuan paket perlengkapan sekolah merupakan bentuk komitmen ACT dan PT Pelabuhan Indonesia dalam upaya turut mencerdaskan kehidupan bangsa. Paket bantuan berupa tas, sepatu, seragam sekolah dan alat tulis tersebut dibagikan langsung kepada 180 pelajar untuk dimanfaatkan ketika Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) secara normal aktif kembali.

Saat ini, fasilitas yang sangat penting untuk ditambah adalah sarana Mandi Cuci Kakus (MCK), karena dengan perbandingan 1 fasilitas MCK untuk 100 pelajar, akan menimbulkan dampak lanjutan seperti sulitnya menjaga kebersihan sarana, dampak pada kesehatan perut karena menahan saat antrian dan dampak lainya.

Untuk itu, ACT mengajak sahabat dermawan untuk peduli terhadap permasalahan tersebut. “Setiap anak harus mempunyai cita-cita yang tinggi, untuk mewujudkan itu kedisiplinan dan semangat belajar perlu ditingkatkan. Dengan adanya bantuan perlengkapan sekolah diharapkan dapat memacu semangat belajar,” kata Dian dalam keterangan persnya yang diterima Republika, Ahad (18/10). 

Ketua Yayasan Al-Khairiyah M Sadim HS member apresiasi bantuan tersebut kepada anak didiknya.  Dengan kondisi perekonomian yang serba terbatas, kata dia, bantuan tersebut dapat mengurangi beban wali murid dalam menyediakan perlengkapan sekolah. Untuk serah terima bantuan dilaksanakan secara protokol kesehatan, dan ada beberapa pelajar yang diwakilkan karena sedang ikut orangtuanya mencari ikan di laut. 

“Memang kondisi wali murid di tengah pandemi ini lebih sulit, terutama yang berprofesi nelayan, buruh serabutan dan penarik becak,” katanya.

Fani Lestari (15 Tahun), seorang siswi kelas 3 MTs Al-Khairiyah penerima bantuan peralatan sekolah mengatakan,  ayahnya seorang penjual bakso, sedangkan ibunya hanya di rumah saja. Saat pandemi Covid-19 penghasilan orang tuanya tidak menentu antara Rp 20 ribu –Rp 50 ribu per hari.

Sedangkan saat sebelum pandemi, ayah Fani bekerja sebagai mekanik bengkel, namun harus berhenti kerja karena kondisi bengkel sudah bangkrut. Dengan adanya bantuan paket perlengkapan sekolah ia bersyukur bisa mengurangi beban orang tuanya.

“Senang banget bisa dapat bantuan. Kondisi tas sama seragam di rumah sudah bulukan (jelek) jadi dapat bantuan ini bermanfaat banget,” tuturnya.


,
×