Warga mengumpulkan barang-barang dari rumahnya yang digenangi lumpur banjir akibat luapan sungai di Desa Lumbudolo, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, Jumat (16/10). | ANTARAFOTO/Basri Marzuki
19 Oct 2020, 02:00 WIB

BNPB Surati Pemda Siaga Cuaca Ekstrem

Peringatan dini dan kesiapsiagaan cuaca ekstrem merujuk pada informasi yang diberikan oleh BMKG.

JAKARTA -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menerbitkan surat edaran peringatan dini cuaca ekstrem ke sejumlah pemerintah daerah (pemda). Surat edaran peringatan dini dan kesiapsiagaan menghadapi bahaya tersebut tertanggal 15 Oktober 2020.

“BNPB telah berkirim surat kepada kepala pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di empat wilayah administrasi di tingkat provinsi. Keempat wilayah tersebut yakni Provinsi Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan dan Maluku,” ujar Deputi Bidang Pencegahan BNPB Lilik Kurniawan dalam keterangan tertulisnya, Ahad (18/10).

Peringatan dini dan kesiapsiagaan tersebut merujuk pada informasi yang diberikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengenai pemutakhiran data hingga 10 Oktober 2020. Sejumlah wilayah di Indonesia mengalami dampak cuaca ekstrem yang dipicu oleh fenomena La Nina. 

BMKG Stasiun Bogor mengungkapkan fenomena iklim anomali La Nina akan berlangsung hingga bulan Maret tahun 2021. Oleh karena itu, masyarakat diminta mewaspadai puncak hujan di bulan Januari dan Februari 2021.

Terkait

“La Nina akan berlangsung sampai bulan Maret 2021, yang perlu diwaspadai pada saat terjadinya puncak curah hujan sekitar bulan Januari dan Februari 2021,” ujar Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Bogor, Muthalib.

photo
Warga duduk di depan rumahnya yang nyaris ambruk diterjang banjir akibat luapan sungai di Desa Lumbudolo, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, Jumat (16/10). Banjir yang terjadi pada Kamis (15/10) petang itu mengakibatkan sejumlah rumah warga hilang, rusak berat dan digenangi lumpur di lima desa yang dilewati aliran sungai. - (ANTARAFOTO/Basri Marzuki)

Kepala BMKG Bandung, Tony Agus Wijaya mengatakan awal musim hujan di Kota Bandung berada di akhir bulan Oktober. Menurutnya saat ini masih dalam proses pancaroba atau peralihan dari musim kemarau ke musim hujan. “Antisipasi potensi banjir di daerah sekitar aliran sungai dan longsor di daerah perbukitan saat curah hujan tinggi," katanya.

Pakar Hidrologi dan Sumber Daya Air, Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Yanto, mengatakan, salah satu upaya jangka pendek yang dapat dilakukan untuk mencegah banjir melalui normalisasi saluran air. Selain itu, kata dia, pengoperasian waduk dengan prioritas pada pengendalian banjir.

“Perencanaan pengoperasian waduk tersebut mulai dapat dilakukan sejak curah hujan mulai tinggi atau pada awal pergantian musim,” ujar dia.

Yanto menambahkan, upaya pencegahan secara jangka panjang perlu dilakukan pembangunan infrastruktur konservasi air, baik dalam skala individu maupun pemerintah. Pada skala individu misalnya adalah membuat biopori dan juga sumur resapan.

Pada skala pemerintah, Yanto mencontohkan, melalui pembuatan embung, waduk, danau, situ, bendung dan lain-lain. “Jumlahnya perlu terus diperbanyak dan disesuaikan dengan kondisi agar makin efektif dalam upaya pencegahan banjir,” kata dia.

Banjir

Sementara, banjir terjadi di sejumlah RT dan RW serta kelurahan di Kecamatan Astananyar, Kota Bandung terjadi akibat hujan deras yang berlangsung sejak pukul 13.00 Wib hingga 14.00 Wib, Ahad (18/10). Beberapa wilayah di Kecamatan Astananyar langganan terkena banjir. Salah satu yang terdampak banjir yaitu di badan Jalan Sudirman dan masuk ke pemukiman warga Kelurahan Cibadak. Beberapa RT terkena banjir seperti di RW 07 Kelurahan Cibadak.

Ketua RW 02, Kelurahan Cibadak, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandunt Cepi Setiawan mengatakan hujan dengan intensitas sedang membuat sejumlah pemukiman terkena banjir. Katanya, terdapat tiga RT di RW 07 kelurahan Cibadak yang terdampak banjir akibat hujan deras dan meluapnya sungai Citepus.

"Air masuk ke rumah, ada yang sampai se-dada orang dewasa di RW 07," ujarnya, Ahad (18/10). Meski hujan tidak berlangsung lama, ia mengungkapkan air tetap masuk ke pemukiman warga.

Menurutnya, banjir di wilayah Astanaanyar merupakan langganan. Katanya, banjir yang berlangsung akibat hujan deras tidak terlalu dan surut kurang lebih 15 menit, namun katanya belum dapat dipastikan untuk di wilayah yang lebih rendah.

Ia menambahkan, pihaknya saat ini sedang membersihkan sisa-sisa banjir. Selain itu, masyarakat selalu berupaya melakukan antisipasi agar tidak terjadi banjir salah satunya dengan membetulkan saluran air dan sungai. "Karena udah sering, mereka sudah siap-siap, sebelumya kita sudah sampaikan waspada air naik, tapi susah diprediksi," ungkapnya.

Cepi melanjutkan, penanganan terhadap banjir yang terjadi saat ini langsung dilakukan masyarakat setempat. Sebab menurutnya hingga surut banjir petugas penanggulangan bencana belum datang untuk turut membantu.


,
×