Ilustrasi petugas medis mengevakuasi pemilih dalam pilkada jatuh pingsan. Simulasi ini merupakan latihan penyelenggaraan pilkada di masa pandemi Covid-19. | MUHAMMAD IQBAL/ANTARA FOTO
27 Nov 2020, 06:56 WIB

Satgas tak Bosan Imbau Warga Disiplin Protokol Covid-19

Disiplin adalah kunci menekan penyebaran pandemi Covid-19

Satgas Covid-19 tak pernah bosan untuk mengimbau masyarakat selalu menerapkan protokol kesehatan untuk menekan penyebaran Covid-19. Disiplin ini meliputi penggunaan masker di mana pun berada, menghindari kerumunan, dan selalu mencuci tangan atau menggunakan penyanitasi tangan.

“Karena ini satu-satunya cara untuk mencegah adanya penularan dari satu orang positif ke orang yang lain," kata Ketua Bidang Data dan Teknologi Informasi Satgas Penanganan COVID-19 Dr Dewi Nur Aisyah Rabu (14/10).

Satgas juga menjelaskan, kapasitas penanganan menjadi salah satu faktor yang penting untuk meningkatkan angka kesembuhan pasien Covid-19. Kapasitas penanganan antara lain memerlukan sarana dan prasarana dan sumber daya manusia yang memadai. Semua itu harus disiapkan dan diperkuat sehingga angka kesembuhan dapat ditingkatkan. Sebaliknya, Angka kematian juga sekaligus dapat ditekan. 

Pemerintah juga berupaya untuk memastikan pelaksanaan 3T, yaitu testing atau pemeriksaan, tracing atau penelusuran dan treatment atau penanganan. "Ini yang harus dipahami. Bahwa pemerintah berupaya memastikan pelaksanaan 3T. Jadi kalau masyarakat sudah fokus dengan kepatuhan 3M, yang kedua adalah 3T," katanya.

Terkait

Selain itu, Dewi mengatakan bahwa koordinasi antara pusat dan daerah juga perlu diperhatikan guna memastikan bahwa semua langkah yang diambil untuk menekan lonjakan kasus dapat diimplementasikan dengan baik, terutama di daerah perbatasan yang bersinggungan antara daerah satu dengan daerah lainnya.

"Dan ternyata ini sangat berpengaruh untuk penularan dari satu wilayah ke wilayah lain. Contohnya Jabodetabek, atau mungkin di daerah Jawa Timur, antara satu kota dengan kota-kota yang lain. Karena memang mobilitasnya sangat tinggi, jadi tetap harus berkoordinasi untuk sama-sama punya peran membatasi mobilitas penduduk," kata Dewi Nur Aisyah.

Pelajaran dari negara lain

photo
Ketua Gerakan Nasional Anti Miras Fahira Idris menyampaikan pendapatnya saat diskusi forum legislasi di komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (10/11). Diskusi tersebut membahas penerapan RUU Minuman Beralkohol - (ANTARA FOTO)

Tujuh bulan sejak kasus Covid-19 kali pertama muncul pada Maret 2020, jumlah kasus terkonfirmasi positif Covid-19 terus bertambah. Tentunya para pemangku kepentingan penanggulangan Covid-19 sudah bekerja keras dan melakukan berbagai upaya untuk mengendalikan penyebaran virus ini. Namun harus diakui kecepatan penyebaran virus ini harus terus kita imbangi terutama melalui peningkatan testing, tracing, treatment (3T) yang menjadi domain Pemerintah dan praktik 3M (memakai masker, menjaga jarak minimal 2 meter, dan mencuci tangan dengan sabun di air yang mengalir) yang menjadi kewajiban semua masyarakat.

Anggota DPD RI Fahira Idris mengungkapkan, selain peningkatan 3T dan disiplin 3M, hal yang juga menjadi kunci bagi sebuah negara agar mampu mengimbangi kecepatan penyebaran Covid-19 adalah blueprint atau kerangka kerja terperinci dan strategi utama penanggulangan Covid-19 termasuk di dalamnya menetapkan target kapan pandemi ini bisa dikendalikan.

“Oleh karena itu, mengingat tren penambahan kasus positif di Indonesia terus meningkat, sudah saatnya implementasi 3T dan 3M serta strategi utama penanggulangan Covid-19 dievaluasi dan dikaji kembali guna menemukan formulasi penanggulangan Covid-19 yang lebih cepat dan efektif. Lesson learned atau sari dari pengalaman beberapa negara lain yang saat ini sudah berhasil mengendalikan pandemi ini bisa dijadikan pijakan kebijakan Indonesia dalam penanggulangan Covid-19 ke depan,” ujar Fahira Idris di Jakarta.

Memang jika dibanding negara lain terutama yang jumlah penduduknya besar misalnya Amerika, India, dan Brasil, jumlah kasus di Indonesia lebih sedikit. Namun, menurut Fahira, kita juga jangan lupa bahwa besarnya jumlah kasus positif Covid-19 di negara-negara tersebut karena diiringi oleh jumlah tes yang juga signifikan. Konsekuensi dari masifnya tes adalah akan ditemukan jumlah kasus positif yang lebih banyak, tetapi penemuan ini adalah strategi agar dapat segera dilakukan tracing atau penelusuran kontak dan treatment atau tindakan medis agar virus tidak menyebar lebih luas lagi. Sementara, Indonesia hingga saat ini jumlah tes Covid-19 masih jauh dari ideal jika dilihat dari komposisi jumlah penduduk.

“Idealnya dalam penanggulangan pandemi ini kita harus melihat negara lain yang saat ini sudah menampakkan hasil signifikan atau berhasil misalnya Selandia Baru atau negara tetangga kita Vietnam dan Thailand. Sari pati pengalaman mereka mengendalikan pandemi ini bisa kita pelajari dan mungkin beberapa strategi mereka, kita bisa terapkan di Indonesia agar pandemi ini benar-benar bisa segera kita kendalikan,” ujar Fahira.

Sumber : Antara


,
×