Perajin menyelesaikan pesanan kerajinan rotan di Tegalwangi, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Rabu (30/9). Pengusaha mengaku, sejak memasuki masa Adaptasi Kebiasaan Baru, permintaan ekspor produk kerajinan rotan dari berbagai negara mulai meningkat hingga 4 | Dedhez Anggara/ANTARA FOTO
08 Oct 2020, 02:00 WIB

Ekspor Indonesia ke Cina Naik Meski Pandemi

Ekspor beberapa produk unggulan Indonesia tercatat naik signifikan.

BEIJING -- Kinerja ekspor Indonesia ke Cina dinilai mengalami peningkatan meski di tengah pandemi Covid-19. Pada periode Januari hingga Agustus, total nilai ekspor Indonesia ke Tiongkok mencapai 23,3 miliar dolar AS, tumbuh sebesar 6,4 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.  

Peningkatan tecermin dari meningkatnya total nilai ekspor Indonesia ke Cina serta peningkatan nilai ekspor beberapa produk unggulan dan potensial Indonesia ke Negeri Tirai Bambu itu. Peningkatan kinerja ekspor ini juga mempersempit defisit perdagangan Indonesia dengan Cina.

“Defisit perdagangan Indonesia dari Cina dalam periode ini mencapai 2 miliar dolar AS. Tahun lalu, untuk periode Januari sampai Agustus 2020, kita defisit 6,6 miliar dolar AS, jadi ada penurunan defisit yang sangat signifikan hingga 69,2 persen," ujar Duta Besar RI untuk Cina dan Mongolia Djauhari Oratmangun dalam keterangan tertulis yang diterima Republika, Rabu (7/10).

"Apabila tren tersebut terus berlangsung maka diharapkan sampai dengan akhir tahun defisit akan berkurang banyak dibandingkan tahun lalu.” 

Terkait

Menurut Djauhari, berdasarkan data yang dirilis oleh Kepabeanan Cina, volume perdagangan Indonesia dengan Cina pada periode Januari sampai Agustus 2020 mencapai 48,7 miliar dolar AS. Berdasarkan volume perdagangan tersebut, total nilai ekspor Indonesia ke Cina mencapai 23,3 miliar dolar AS. Ini berarti ada pertumbuhan ekspor sebesar 6,4 persen dibandingkan dengan nilai total ekspor tahun sebelumnya dalam periode yang sama. 

Sementara itu, nilai impor Indonesia dari Cina pada periode tersebut mencapai 25,4 miliar dolar AS. Itu berarti menunjukkan ada penurunan sebesar 11,8 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya dalam periode yang sama.

photo
Pekerja menyelesaikan pembuatan perhiasan perak di Salim Silver, Kotagede, Yogyakarta, Kamis (24/9). Pasar perak di Kotagede selama pandemi Covid-19 anjlok sehubungan menurunnya ekspor ke sejumlah negara. - (Wihdan Hidayat / Republika)

Mengenai realisasi investasi Cina di Indonesia, Djauhari menyampaikan, pada periode Januari sampai Juli 2020 telah mencapai 2,4 miliar dolar AS. Itu berarti meningkat 9 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2019. 

Dengan angka tersebut, Cina menjadi investor kedua terbesar di Indonesia. Angka tersebut, apabila ditambah dengan investasi dari Hong Kong senilai 1,7 miliar dolar AS, dapat dikatakan bahwa Cina plus Hong Kong merupakan investor terbesar di Indonesia pada periode kuartal pertama.

Sementara itu, untuk data realisasi investasi Cina ke Indonesia periode Januari sampai Agustus 2020 baru akan dipublikasikan pada akhir Oktober. "Semoga kinerja ekpor Indonesia ke Cina semakin baik, dengan memanfaatkan platform e-commerce yang semakin menggeliat di masa pandemik Covid-19 ini," kata Djauhari.

Sejumlah produk unggulan

Beberapa produk unggulan dan potensial Indonesia dalam periode ini tercatat mengalami peningkatan nilai ekspor secara signifikan. Bahkan, ekspor aluminium Indonesia melejit 4.124,1 persen. 

Beberapa ekspor produk lain yang juga melejit adalah produk tekstil yang tercatat meningkat 3.296,3 persen, timah meningkat 1.163,6 persen, ekspor gula dan produk gula meningkat  374,6 persen, kemudian ekspor produk kopi, teh, dan rempah-rempah mencatat kenaikan 280,8 persen. 

Produk minuman, cairan alkohol, dan vinegar meningkat 166,4 persen, ekspor besi dan baja Indonesia naik 134,3 persen, lalu ekspor kertas dan paperboard meningkat 118,7 persen.

Produksi sarang burung walet ternyata mengalami peningkatan ekspor sebesar 90,3 persen. Ekspor tembaga naik 88,5 persen. Angka itu disusul dengan kenaikan ekspor buah-buahan tropis yang  meningkat 72,8 persen. 

Sisanya adalah ekspor bahan kimia inorganik yang meningkat 63,1 persen. Ekspor produk kain khusus meningkat 54,2 persen lalu diikuti ekspor alas kaki naik 31,9 persen. 

Ekspor kaca dan produk kaca tercatat naik 33,6 persen, karet meningkat 25,8 persen. Sedangkan, ekspor produk //essential oil//, kosmetik, dan lainnya meningkat 25,3 persen. Untuk produk farmasi, kenaikan mencapai 24,8 persen. Ekspor produk keramik meningkat 24,7 persen, plastik naik 20,4 persen, dan produk perikanan naik sebesar 16,2 persen. 

Ekspor Melejit

Aluminium naik 4.124,1 persen

Produk tekstil naik 3.296,3 persen

Timah naik 1.163,6 persen 


,
×