Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa (tengah) menyerahkan simbolis bantuan ventilator kepada rumah sakit rujukan Covid-19 di Sidoarjo, Pasuruan dan Mojokerto di Pendopo Delta Wibawa Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu (16/9). | Umarul Faruq/ANTARA FOTO
08 Oct 2020, 05:00 WIB

Positivity Rate Jatim Turun

Satgas pusat mencatat persentase angka kematian di Jatim tertinggi.

SURABAYA – Angka positivity rate atau persentase pasien terkonfirmasi positif dari hasil tes di Jawa Timur (Jatim) menunjukkan penurunan. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyebut, positivity rate Covid-19 di Jatim semakin kecil meski jumlah pengetesan diklaim terus ditingkatkan.

“Saat ini, positivity rate Jatim telah turun dari 31 persen di bulan Juli, menjadi 10 persen per pekan ini. Ini merupakan pertanda bahwa intervensi kita on the right track,” kata Khofifah di Surabaya, Rabu (7/10).

Selain itu, kata Khofifah, rate of transmission atau tingkat penularan Covid-19 di Jawa Timur juga di bawah angka 1 selama 14 hari terakhir. Data per Senin (5/10), tingkat penularan Covid-19 Jatim berada di angka 0,93 poin. Artinya, kata dia, penyebaran Covid-19 di Jatim sudah semakin terkendali.

“Penurunan kasus Covid-19 di Jawa Timur juga dapat dilihat di BOR (bed occupancy rate) atau rata-rata keterisian tempat tidur) rumah sakit di Jawa Timur yang konsisten menurun,” kata Khofifah.

Terkait

Menurut dia, dua pekansebelumnya, BOR rumah sakit rujukan Covid-19 di Jatim sebesar 49 persen. Laporan terakhir dari Kemenkes RI menunjukkan bahwa BOR Jatim kini berada di angka 38 persen. “Artinya memang benar, tren kasus cenderung menurun,” ujar dia.

Pada Rabu (7/10), dari 44.212 spesimen yang diperiksa, Satuan Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 mencatat adanya kasus baru sebanyak 4.538, sehingga kasus konfirmasi secara kumulatif sebesar 315.714 kasus. Dari penambahan angka kasus harian ini, DKI Jakarta tercatat menyumbang kasus tertinggi yang sebanyak 1.211.

Kemudian disusul oleh Jawa Barat yang melaporkan kasus sebanyak 752, Jawa Tengah 384 kasus baru, Jawa Timur dengan 331 kasus baru, dan Kalimantan Timur sebanyak 202 kasus baru. Namun, Jatim mencatatkan angka kematian harian tertinggi, yakni 25 orang. Secara kumulatif, angka kematian tertinggi juga berada di Jatim, yakni sebesar 3.325 orang.

Satgas juga telah menyatakan, Jatim kini tak ada lagi zona merah. Kabupaten Probolinggo, Banyuwangi, Lumajang, dan Kota Mojokerto yang sebelumnya masuk zona merah Covid-19, kini berganti menjadi zona oranye, yang artinya tingkat penularan masuk kategori sedang.

“Penilaian zonasi prinsipnya dilakukan secara independen oleh Satuan Gugus Tugas Covid-19 pusat berdasarkan 15 indikator epidemiologis,” kata anggota Rumpun Kuratif Satgat Percepatan Penanganan Covid-19 Jatim, Makhyan Jibril.

Jibril mengatakan, komponen-komponen yang dinilai untuk menentukan suatu daerah masuk zonasi tertentu dalam peta risiko penyebaran Covid-19, di antaranya yakni penambahan kasus, tingkat kematian pasien Covid-19, positivity rate, rate of transmission, serta kecukupan bed di rumah sakit-rumah sakit rujukan.

Satgas Penanganan Covid-19 mencatat persentase angka kematian di Jatim tertinggi di antara provinsi lainnya. Persentase angka kematian di provinsi ini mencapai 7,31 persen hingga per 4 Oktober 2020.

photo
Petugas memeriksa barang bawaan peserta dengan bantuan metal detektor untuk mengurangi kontak fisik sebelum dimulai tes Seleksi Kompetensi Bidang (SKB) CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) di Kediri, Jawa Timur, Selasa (6/10). - (Prasetia FauzaniANTARA FOTO)

Kepala Bidang Data dan Teknologi Informasi Satgas Penanganan Covid-19 Dewi Nur Aisyah mengatakan, Satgas mencatat dari 10 provinsi yaitu DKI Jakarta, Jatim, Jabar, Jateng, Sulsel, Sumut, Kalsel, Bali, Papua, dan Aceh, ternyata persentase kematian Papua yang terendah yakni 1,52 persen. 

“Kemudian di peringkat kedua adalah Jabar yaitu 2,01 persen, DKI Jakarta 2,23 persen, kemudian Bali 3,11 persen, Kalimantan Selatan 4,03 persen, Sumatra Utara 4,14 persen, Jawa Tengah 6,08 persen, dan Jatim menjadi provinsi tertinggi yaitu 7,31 persen,” kata dia.

Terkait persentase angka kematian di Jatim yang terbanyak, menurut Dewi, jumlah kasus mortalitas di provinsi ini memang sangat tinggi sejak awal Covid-19 di Indonesia. Sehingga, kata dia, untuk menurunkan angka kematian di provinsi ini membutuhkan upaya yang lebih keras. 

Selain itu, Dewi menambahkan, persentase kematian ditentukan oleh kondisi pengendalian Covid-19 berjalan di lapangan. Dia mencontohkan, persentase kematian di beberapa provinsi memang konsisten turun, di antaranya Sumut, DKI Jakarta, Jateng, Sulsel. Jika jumlah kematian selama 21-27 September 2020 dibandingkan dengan periode 28 September-4 Oktober 2020 terlihat kematian di DKI Jakarta turun 52,4 persen, Jateng turun 57,4 persen, dan Sulsel turun 46,2 persen.

“Kontribusi kasus Covid-19 di 10 provinsi ini sebesar 75,64 persen dari total kasus nasional,” ujar dia. 


×