Kaligrafi yang memuat nama Imam Ali bin Abi Thalib. Sosok berjulukan taj al-arifin itu dikenang tak hanya lantaran kesalehan, tetapi juga kecerdasannya. | DOK WIKIPEDIA

Kisah

05 Oct 2020, 11:31 WIB

Ketajaman Logika Imam Ali

Imam Ali dapat memecahkan persoalan yang tampaknya rumit dengan bahasa mudah dan logika jitu.

OLEH HASANUL RIZQA

Para sahabat Nabi Muhammad SAW tidak hanya dikenang lantaran kesalehannya. Mereka juga dikenal cerdas dan bijaksana dalam menghadirkan solusi di tengah umat. Salah satunya adalah Ali bin Abi Thalib.

Dialah orang pertama dari golon an anak-anak yang memeluk Islam. Secara silsilah, Ali merupakan sepupu dari Rasulullah SAW. Pernikahannya dengan Fathimah az-Zahra pun menjadikannya sebagai menantu beliau shalallahu 'alaihi wasallam.

Ali sangat setia mendampingi Rasul SAW. Sebagai contoh, tatkala Nabi SAW hijrah dari Makkah ke Madinah --dahulunya bernama Yastrib-- ia bersedia tidur di kamar beliau. Betapa terkejutnya orang-orang Quraisy yang hendak menggagalkan perjalanan itu. Mereka merasa terkecoh karena mendapati lelaki yang berbaring di atas dipan itu adalah Ali, Sang Singa Allah

Imam Ali masyhur sebagai seorang sahabat Nabi SAW yang alim, berwawasan luas, pemberani, dan zuhud dalam kehidupan sehari-hari. Kemahirannya tidak hanya di medan jihad fii sabilillah, tetapi juga secara keilmuan. Ia dijuluki sebagai gurunya para guru fikih serta puncaknya orang-orang arif (taj al-'arifin).

Bahkan, Ali juga unggul dalam menguasai matematika. Mengutip Husain Heriyanto dalam Menggali Nalar Saintifik Peradaban Islam (2011), sosok khalifah keempat itu menjadi tempat bertanya banyak sahabat dan kalangan tabiin. Malahan, orang-orang yang dengki kepadanya pun kerap bertanya kepada Imam Ali, meskipun tujuannya hanya untuk mengetesnya. Namun, jawaban-jawaban yang disampaikan sang pemilik Pedang Dzu al-Fiqar justru membuat mereka terkagum-kagum.

Dikisahkan, sebelum meninggal dunia seorang pendeta Yahudi berwasiat kepada muridnya agar dia menemukan orang yang bergelar pintunya kota ilmu. Jika bertemu, si murid diharuskan bertanya tentang satu soal yang belum bisa terjawab hingga saat itu.

"Wahai muridku, tanyakanlah kepadanya, bilangan mana yang habis dibagi satu sampai 10. Kalau memang dia berhasil menjawabnya, sungguh benarlah dirinya sebagai 'pintunya kota ilmu'. Namun, bila dia tak mampu menjawab, menjauhlah darinya dan terus cari siapa pemilik sesungguhnya gelar itu," demikian pesan pendeta Yahudi tersebut,

Setelah gurunya wafat, murid tersebut berkelana dari satu daerah ke daerah lain. Begitu sampai di Madinah, ia pun menggali informasi dari penduduk setempat. Mereka menyatakan, sosok yang berjulukan pintunya kota ilmu adalah Ali bin bin Abi Thalib, sedangkan kota ilmu itu sendiri merupakan Nabi Muhammad SAW.

Si murid segera menemui Imam Ali. Maka, diajukanlah pertanyaan titipan mendiang gurunya itu.Ternyata, Ali dengan cepat dan mudah menjawab persoalan tersebut.

"Kalikanlah jumlah harimu dalam sebulan dengan jumlah bulanmu dalam setahun, dan dengan jumlah harimu dalam sepekan," tutur Sang Asadullah (Singa Allah).

 
Kalikanlah jumlah harimu dalam sebulan dengan jumlah bulanmu dalam setahun, dan dengan jumlah harimu dalam sepekan.
 
 

Artinya, si penanya diminta melakukan operasi matematika: 30 x 12 x 7. Hasilnya, 2.520. Faktanya, itulah bilangan terkecil yang dapat dibagi habis bilangan satu sampai 10.

Murid Yahudi itu pun terkejut sekaligus terpesona. Pada saat itu pula, ia menyatakan diri memeluk Islam. Hingga akhir hayatnya, lelaki tersebut merupakan salah seorang pengikut Imam Ali yang paling setia.

Dalam istilah sekarang, menurut Heriyanto, pertanyaan yang diajukan kepada Ali bin Abi Thalib itu berkaitan dengan kelipatan persekutuan terkecil (KPK). Bilangan KPK adalah bilangan kelipatan terkecil dari persekutuan dua, tiga atau lebih bilangan. Bilangan tersebut sangat berguna dalam operasi penjumlahan atau pengurangan pecahan, khususnya untuk menyamakan penyebut.

Sebagai contoh, untuk mengetahui penjumlahan antara 1/4 dan 1/6, perlu ditemukan terlebih dahulu KPK penyebutnya. KPK dari 4 dan 6 adalah 12. Maka, operasinya menjadi 3/12 plus 2/12, yakni sama dengan 5/12.

Mengapa Ali begitu tangkas dalam operasi aritmatika itu? Di samping nalarnya yang cemerlang, persoalan KPK tidaklah asing dalam fikih Islam. Umpamanya, soal hukum pembagian warisan (faraidh). Seorang hakim faraidh pasti menggunakan bilangan KPK. Tuntunan Alquran juga begitu jelas dalam perkara bagi-bagi warisan seorang Muslim atau Muslimah yang meninggal dunia.

Heriyanto mengatakan, yang menarik dari kisah Imam Ali di atas bukanlah semata kepakaran sahabat Rasul SAW itu dalam salah satu bidang matematika ini. Ali menjawab pertanyaan si murid Yahudi dengan bahasa sehari-hari yang orang Arab awam sekalipun dapat memahaminya. Bukankah semua orang mengetahui jumlah hari dalam sepekan, hari dalam sebulan, dan bulan dalam setahun?

Di sinilah antara lain letak sisi jenius Imam Ali. Ia dapat memecahkan persoalan yang tampaknya cukup rumit dengan bahasa yang mudah dan logika yang jitu sehingga terungkaplah solusi.

Masih terkait KPK, dalam riwayat lain juga diceritakan kehebatan pahlawan Muslim ini. Suatu hari, tiga orang mengadu kepada Ali. Mereka memiliki 17 ekor unta yang hendak dibagi merata dengan masing-masing menerima 1/2, 1/3, dan 1/9 bagian. Pembagian itu tentunya sulit tanpa harus ada unta yang disembelih.

Ali lantas menyarankan agar seekor unta miliknya ditambahkan dalam perkara ini sehingga jumlahnya menjadi 18 ekor unta. Alhasil, tiap orang mendapatkan utuh masing-masing sembilan, enam, dan dua ekor unta. Semuanya berjumlah 17 ekor sehingga Ali mengambil kembali unta miliknya.

 
Ali lantas menyarankan agar seekor unta miliknya ditambahkan dalam perkara ini sehingga jumlahnya menjadi 18 ekor unta.
 
 


×