Anak belajar di rumah (ilustrasi) | Wihdan Hidayat/Republika

Keluarga

05 Oct 2020, 11:13 WIB

Bebas Stres Saat Belajar di Rumah

Lakukan komunikasi dari hati ke hati dengan anak.

Belajar dari rumah atau pembelajaran jarak jauh (PJJ) masih dilakukan di era normal baru seperti saat ini. Kondisi ini membuat anak memerlukan bimbingan orang tua di rumah, bukan hanya oleh para guru. Sayangnya,  dari sebuah survei terungkap bahwa banyak anak justru tidak bahagia dibimbing orang tua mereka.

Hendra Jamal, Asisten Deputi Bidang Pemenuhan Hak Anak Atas Kesehatan dan Kesejahteraan, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia (KPPPA) mengutip dari sebuah survei, ditemukan bahwa sebagian anak mengaku mengalami hal tidak menyenangkan sepanjang PJJ.

"Jadi 58 persen merasa tidak menyenangkan, ternyata orang tua lebih galak dan 49 persen mengakui dibebani tugas banyak, sisanya dibantu orang tua dan orang tua memberikan alternatif mengatasi kejenuhan," kata Hendra dalam webinar bertema "Jaga Kesehatan, Gembira Belajar di Rumah, Bebas Stres”.

Untuk mengatasi masalah tersebut, Hendra pun menyarankan agar orang tua dapat berkomunikasi dari hati ke hati dengan anak. Lakukan komunikasi dua arah tanpa kekerasan dan minta anak lebih bijak menggunakan gawai.

Orang tua juga perlu bermain bersama anak di sela istirahat belajar. Selain itu, untuk menghindari stres, beri anak lebih banyak perhatian selama di rumah. Dampingi mreka saat bermain, ajak anak bicara dan berdiskusi, dengarkan keluhan, serta lakukan aktivitas fisik dengan gembira.

Intinya, orang tua harus menjadi panutan dan tetap kreatif. "Anak itu peniru ulung. Kalau orang tua tenang, bahagia, maka anak juga bahagia. Jadikan anak sebagai sahabat orang tua," katanya.

Psikolog keluarga Ajeng Raviando mengatakan penting membangun komunikasi efektif antara orang tua dan anak. Setidaknya orang tua dapat lebih mengerti bahkan lebih bijak menghadapi dan mendukung anak.

Maka, untuk menjaga kesehatan jiwa, ketenangan pikiran, dan kekuatan mental orang tua dan anak, mereka perlu menyesuaikan diri dan menjadikan rumah sebagai lingkungan edukatif dan menyenangkan bagi anak-anak. Dengan menghadapi besarnya perubahan kehidupan seperti harus selalu menjaga jarak serta belajar dan bermain dari rumah, tentu saja ini mempengaruhi psikologis orang tua dan anak.

Orang tua diharapkan menjadi teman belajar yang menyenangkan. Untuk itu, kesehatan mental orang tua merupakan suatu keharusan. Mengelola energi dan emosi untuk mengelola stres dengan baik, akan membantu memberikan kenyamanan anak-anak belajar di rumah.

Hal ini bisa diawali dengan menciptakan komunikasi yang baik dengan anak-anak. Langkah pertama dapat dimulai dengan menata ruangan yang nyaman untuk anak belajar, membuat  jadwal, serta belajar dan bermain harus seimbang.

Jangan lupa menyediakan makanan dan minuman dengan gizi seimbang, seperti makanan pokok, buah dan sayur sebagai sumber vitamin, daging, telur hingga susu sebagai salah satu sumber protein hewani.

Seorang pengajar, Gezta Pattiasina, mengatakan selain dukungan berupa motivasi, pembiasaan, serta penerapan disiplin positif untuk anak, ada banyak cara dan metode dasar yang bisa dilakukan agar menyenangkan di rumah. Salah satunya dengan membuat program belajar yang menarik setiap harinya.

"Misalnya dengan menggunakan mainan atau barang di rumah yang aman untuk anak, juga dapat belajar dan bermain di halaman belakang dan taman, belajar berhitung dengan engklek, bermain playdough, membuat boneka tangan dengan kaus kaki yang sudah tak terpakai, dan lain sebagainya," katanya.

Kegiatan itu tentunya mendorong anak-anak untuk tetap aktif meski di rumah dan tetap mengembangkan kompetensinya untuk menjadi kreatif. Selain itu, untuk membuat anak tetap antusias belajar daring, orang tua juga dapat membuat kesepakatan bersama dengan anak. Misalnya sepakati tentang waktu untuk belajar dan waktu bermain. Atau, ''Bisa juga membuat timetable yang sederhana untuk jadwal kegiatan anak,''ujarnya.

 

Jangan Keluar Rumah Kecuali Mendesak

Saat ini tercatat ada kurang lebih 79,5 juta anak di Indonesia. Di masa pandemi Covid 19 ini, persentase anak yang terpapar maupun meninggal terus saja mengalami kenaikan. Saat ini ada beberapa spektrum masalah yang dihadapi anak-anak yaitu risiko masalah kesejahteraan fisik, sosial, hingga edukasi.

Dokter tumbuh kembang anak, Dr dr Ahmad Suryawan, SpA (K) mengatakan salah satu hal yang penting juga adalah mengamankan  periode perkembangan otak anak. Terlebih saat menginjak usia dewasa tidak ada lagi perkembangan otak yang dialami. "Sehingga sistem kekebalan tubuh punya dua arti, yaitu proteksi melindungi tubuh dari penyerang asing serta mempertahankan fungsi tubuh dan perkembangan otak anak," kata Ahmad.

Faktor yang memengaruhi kekebalan tubuh, meliputi infeksi, nutrisi, imunisasi maupun penerapan protokol kesehatan. Jangan sampai, lanjut Ahmad, anak terpapar polutan-polutan.  Sistem infeksi bisa dicegah dengan imunisasi. Dia menganjurkan anak-anak tetap di rumah saat masa normal baru. Hindari dulu membawa anak ke tempat umum atau penitipan anak.

"Saya heran. Ke sekolah khawatir, tapi ke CFD (hari bebas kendaraan) tidak khawatir. Jika dibawa ke luar karena mendesak pun harus dengan pendampingan orang tua dan tetap jaga jarak. Usia 1-12 tahun boleh pakai masker, face shield, menjauhi orang sakit, serta mencuci tangan," tambahnya.

Hindari pula kontak tangan ke mata, mulut dan hidung. Penggunaan masker belum tentu melindungi. Karena itulah perlindungan terbaik adalah tetap berada di rumah saat ini.

photo
Anak belajar sambil bermain (ilustrasi) - (Zabur Karuru/Antara)

 

 Empat Tipe Kepribadian

Agar cara belajar lebih menyenangkan, orang tua juga harus mengetahui kepribadian anak dan menyesuaikan metode pengajaran berdasarkan karakteristik anak. Ini karena manusia mempunyai karakter yang berbeda-beda dan unik. Karakter atau kepribadian manusia bisa dipelajari dan manusia pun memiliki kesamaan karakter antara satu dengan yang lainnya.

"Kepribadian manusia telah dikaji dan dirangkum menjadi empat jenis. Keempatnya masuk dalam teori proto-psikologis," kata Ajeng Raviando, seorang psikolog keluarga.

Diharapkan karakter ini dapat dikenali dan disesuaikan dengan sistem pengajaran agar dapat menciptakan sistem pengajaran di rumah yang menyenangkan dan membawa kegembiraan bagi anak-anak.

Karakter anak dibagi dalam empat tipe kepribadian mendasar, yaitu Sanguinis (hidup, optimis, ringan, dan riang), Koleris (cerdas, analitis, logis, dan sangat praktis), Melankolis (analitis, bijak dan tenang), dan Plegmatis (santai dan cinta damai). Bagaimanakah ciri khas dari tiap tipe tersebut?

  • Sanguinis (hidup, optimis, ringan, dan riang)

Anak dengan karakter sanguinis cenderung ekspresif  ceria, ingin menjadi pusat perhatian dan cukup senang bicara karena ekstrovert. Kepribadiannya biasanya ramah dan senang bergaul serta menyenangkan orang. Karakter ini juga dinilai cocok berkarier di dunia hiburan, meski begitu seringkali karakter ini dianggap bisa menjadi pemimpin.

Kelemahan dari karakter ini diketahui punya emosi cukup labil atau moody. Orang tua sebaiknya memahami saat anak dengan karakter sanguinis sedang dalam kondisi mood tidak bagus, sebaiknya tidak dipaksakan melainkan berikan perhatian dan bersenang-senang dulu. Ortu bisa membantu mood-nya lebih stabil dengan memberikan perhatian dan kasih sayang yang dibutuhkan, termasuk selama belajar.

 

  • Koleris (cerdas, analitis, logis, dan sangat praktis)

Karakter koleris biasanya punya keinginan kuat, cerdas, pekerja keras dan tujuan yang jelas. Sehingga karakter ini dianggap bisa menjadi pemimpin karena bisa selalu menjadi yang terdepan dan tidak sungkan berbicara. Mereka mau berupaya keras meraih apa yang diinginkan.

Akan tetapi kelemahannya, karakter ini dapat mengeluarkan emosi yang meluap-luap bahkan untuk hal yang kebanyakan dianggap sepele. Anak dengak karakter ini bisa langsung marah walaupun kemudian kemarahannya cepat mereda. Orang tua sebaiknya memahami ketika anak sedikit marah, baru setelah itu diberitahu agar tidak marah berlebihan atau mengatasi kekecewaan dengan sehat.

 

  • Melankolis (analitis, bijak dan tenang)

Anak dengan karakter ini sedikit pendiam, tidak banyak bicara. Mereka akan mempelajari dan mendalami sendiri karena senang observasi baru kemudian berani mengatakan pendapat mereka. Mereka juga perfeksionis, serta berorientasi pada sistematika, tekun dan teoritis. Jika pekerjaan dilakukan sangat lama, biasanya karena mereka orangnya sangat detil. Kelemahannya adalah mereka agak perasa dan kaku. Kendati begitu, mereka juga bisa bersikap tenang dan bijak menghadapi sesuatu. Orang tua dapat membantu proses belajar anak dengan turut memberikan data-data karena akan lebih mudah diterima anak.

 

  • Plegmatis (santai dan cinta damai)

Karakter plegmatis cenderung kalem, cuek, efisien, teratur, kurang peduli dengan apa yang terjadi karena cinta damai dan membenci konflik, sehingga mereka biasanya menjadi penengah.

Namun di sisi lain karakter ini suka menunda. Jadi, tidak heran kalau karakter ini bisa menunda mengerjakan pekerjaan rumah atau mengerjakan hal lainnya. Mereka perlu didorong untuk pelan-pelan mulai mengerjakannya serta didorong berani berpendapat atau berbicara karena mereka biasanya pemalu dan takut salah.

 

 

 
Kepribadian manusia telah dikaji dan dirangkum menjadi empat jenis. Keempatnya masuk dalam teori proto-psikologis.
 

 

Ajeng Raviando, seorang psikolog keluarga
 

 

 


×