Petugas memotret patung pahlawan revolusi di Monumen Kesaktian Pancasila, Jakarta, Selasa (29/9). Tempat tersebut adalah bukti kekejaman komunisme di Indonesia. | Republika/Putra M. Akbar

Khazanah

29 Sep 2020, 23:36 WIB

Generasi Muda Harus Waspadai Bahaya Komunisme

FPAG mengimbau 900 pesantren dalam naungannya untuk selalu mewaspadai kebangkitan komunisme.

JAKARTA — Pesantren dari berbagai daerah di Indonesia berkomitmen untuk terus melawan komunisme. Caranya dengan mengangkat sejarah Partai Komunis Indonesia (PKI) yang membantai umat Islam di berbagai tempat.

Di wilayah Magetan misalkan, kiai dan santri Pesantren Sabielul Muttaqien menjadi korban pembantaian PKI. Juga banyak  Para korban dikubur hidup-hidup di beberapa tempat, seperti di Desa Kresek Madiun Jawa Timur. Terdapat 17 orang dikubur di sana. Pemerintah mengabadikan kekejaman PKI dengan membangun Monumen Kresek sehingga menjadi tempat wisata masyarakat berbagai generasi.

Pondok Modern Darussalam Gontor juga menjadi target gerombolan PKI Musso 1948. Mereka masuk ke lingkungan Pondok mencari kiai. Saat itu para santri dan Kiai Imam Zarkasyi (1910-1985) dan KH Ahmad Sahal  (1901-1977) sudah mengungsi ke arah selatan. Mereka akhirnya tertangkap dan hendak dibunuh bersama ulama dan tokoh politik lawan PKI ketika itu di Kota Ponorogo. Untungnya Pasukan Siliwangi datang dan menyelamatkan mereka semua

Anggota Badan Wakaf Pondok Modern Darussalam Gontor Prof Dr KH Amal Fathullah Zarkasyi menjelaskan bahwa pada masa itu situasi Ponorogo mencekam. PKI dengan para pengikutnya tak sungkan menghabisi nyawa siapa pun yang berseberangan sikap dan pendapat dengan mereka.

“Kekejaman mereka sudah umum, terjadi di mana-mana. Saya pernah baca sebuah penelitian, korban jiwa  komunisme mencapai 100 juta orang, termasuk di Indonesia,” ujar putra KH Imam Zarkasyi ini dalam diskusi virtual mewaspadai komunisme baru yang diselenggarakan Forum Pesantren Alumni Gontor (FPAG) pada Selasa (29/9).

Dia mengimbau siapa pun untuk selalu mengimbau masyarakat bahwa PKI ini berbahaya. Belakangan ini, ada upaya membangun narasi bahwa PKI adalah korban. Dengan begitu, dunia diarahkan untuk mengasihani para anggota partai komunis yang sudah dibubarkan sejak 1966 tersebut 

Narasi ini didengungkan dengan berbagai cara, di antaranya melalui konten digital berupa video dan tulisan. Kemudian juga melalui kegiatan luring berupa diskusi dan buku. “Ini berbahaya. Jangan sampai bangsa ini melupakan bagaiamana dulu mereka membantai ulama dengan sangat biadab di berbagai daerah,” kata Rektor Universitas Darussalam Gontor ini.

photo
Diorama proses peristiwa G30S/PKI di Monumen Kesaktian Pancasila, Jakarta, Selasa (29/9). Tempat tersebut nantinya akan dijadikan lokasi upacara untuk peringatan Hari Kesaktian Pancasila sekaligus mengenang korban dalam peristiwa G30S/PKI khususnya tujuh pahlawan revolusi pada 1 Oktober mendatang - (Republika/Putra M. Akbar)

Ketua Forum Pesantren Alumni Gontor (FPAG) KH Zulkifli Muhadli mengkhawatirkan ada upaya membangkitkan PKI. Bisa jadi PKI bangkit bukan lagi dalam bentuk partai, tapi menyebarkan anggotanya ke berbagai partai. “Ini sama dengan yang diajarkan Tsun Zu dalam The Art of War, bunuhlah musuhmu dengan pisau orang lain. Artinya gunakanlah perangkat lain untuk menyuarakan perlawanan mereka,” imbuhnya 

Strategi kedua adalah mengecoh lawan. Ketiga datang ke medan perang lebih awal untuk menguasai logistik dan tempat strategis. Dengan begitu mereka unggul dan kuat untuk bertahan menghadapi lawan. Terakhir adalah memecah belah lawan. Buat mereka tidak menyatu sehingga menjadi lemah dan tercerai berai.

KH Zulkifli yang kini mengasuh Pesantren al-Ikhlas Taliwang Sumbawa NTB tersebut mengimbau umat Islam untuk mengenali kawan dan lawannya. “Kita harus mempunyai strategi. Betul makar Allah adalah yang terbaik, tapi kita tak boleh diam. Harus bergerak, muhadharah kita sekarang ini adalah untuk mewaspadai kebangkitan PKI,” imbuhnya.

photo
Sejumlah massa yang tergabung dalam Gerakan Rakyat Anti Komunis (Gertak) membakar spanduk saat berunjuk rasa di Taman Apsari, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (30/9). Aksi itu mengangkat tema Menolak Lupa Pengkhianatan G30S/PKI dan menyerukan tentang bahaya laten Komunisme - (ANTARA FOTO)

Wakil Ketua MPR M Hidayat Nur Wahid mengungkapkan pengalaman orang tuanya ketika hidup dalam kengerian PKI. Dia tinggal di dekat Candi Prambanan. Keluarganya adalah Nahdlatul Ulama dan juga Muhammadiyah. Pada era 1940-an orang tuanya harus mengungsi ke berbagai tempat untuk menghindari serangan PKI. 

Sejarah mencatat PKI sebagai partai komunis terbesar kedua di Asia setelah Cina. Segala fitnah dan kebohongan mereka lontarkan untuk membenarkan dan memuluskan narasi yang mereka bangun. Namun pada kenyataannya, PKI hancur lebur karena mengancam kedaulatan dan keberlangsungan bangsa ini. “Makar Allah pasti yang terbaik. Itu keyakinan kita. Kami di parlemen konsisten untuk mengawal kemaslahatan bangsa ini dengan segala upaya yang ada,” katanya.

Pengasuh Pesantren Darel Azhar Rangkasbitung Banten KH Ikhwan Hadiyyin menjelaskan pihaknya selalu bersinergi dengan aparatur negara untuk mengenang kebiadaban PKI. Di antaranya adalah dengan TNI untuk menggelar berbagai kegiatan yang melibatkan santri. 

Bersama Forum Silaturahim Pondok Pesantren (FSPP) di Banten, pihaknya merangkul 4.140 pesantren untuk menyuarakan bahaya komunisme. “Kami berusaha menginspirasi umat untuk selalu mencegah komunisme bangkit di negeri ini,” katanya.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amin Prenduan Madura Jawa Timur KH Ahmad Fauzi Tijani juga menjelaskan bahwa pihaknya bersama ulama di sekitarnya berkomitmen untuk membentengi umat Islam dari bahaya komunisme. “Alhamdulillah kami selalu berkomunikasi. Semuanya satu suara untuk menguatkan iman dan takwa sehingga selalu mewaspadai ancaman seperti komunisme,” imbuhnya.

photo
Pengasuh Pondok Modern Tazakka, KH Anang Rikza Masyhadi. - (Republika)

Sekretaris Jenderal FPAG KH Anang Rikza Masyhadi mengatakan, bahwa harus ada narasi yang menginspirasi bangsa tentang bahaya komunisme. Narasi tersebut akan menggerakkan masyarakat untuk selalu berhati-hati dan mewaspadai komunisme. Dengan begitu, mereka akan bergerak dan berupaya tidak memberikan celah sedikit pun kepada komunisme untuk bangkit.

Pimpinan Pondok Modern Tazakka Bandar Jawa Tengah ini menjelaskan, secara kelembagaan, komunisme memang sudah tidak ada. PKI sudah dibubarkan setelah mereka memberontak dan hendak mengkudeta pemerintah negeri ini pada 1965. “Tapi gerakan-gerakan komunis itu bukan berarti tidak ada,” katanya.

Pihaknya mendapatkan laporan adanya kiai di beberapa pesantren dipersekusi, bahkan diancam. Alumnus al-Azhar Mesir ini menjelaskan bahwa hal tersebut jelas merupakan gaya PKI yang mengancam umat.

“Generasi muda Muslim jangan buta sejarah, ojo kepaten obor, jangan sampe obor kita mati sehingga kita masuk dalam kegelapan. Sejarah PKI adalah bagian dari obor yang terus kita nyalakan, sehingga umat ini bangsa ini tetap tercerahkan,” ujarnya.

FPAG sudah mengimbau 900-an pesantren yang berada dalam naungannya untuk menjadikan momentum untuk mengokohkan perlawanan terhadap ideologi komunisme. Beberapa pesantren menggelar nonton bersama film G30S/PKI. Ada pula yang menggelar ceramah, diskusi, bedah buku, dan lain sebagainya. 

“30 september harus menjadi momentum mengukuhkan di mata anak-anak kita para santri bahwa komunisme adalah musuh kita,” tegasnya.


×