Anggota polisi mengawal mobil ambulans di jalan masuk Pondok Pesantren Darussalam Blokagung, Banyuwangi, Jawa Timur, Rabu (2/9). (ilustrasi) | BUDI CANDRA SETYA/ANTARA FOTO
29 Sep 2020, 05:00 WIB

Klaster Pesantren Masih Terjadi

Ribuan santri dan pengelola Pondok Pesantren Husnul Khotimah mengikuti tes swab massal pada Selasa (29/9)

TASIKMALAYA – Kasus positif Covid-19 di lingkungan pesantren masih terus ditemukan di beberapa daerah. Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, mencatat, terdapat 12 orang positif yang berasal dari lingkungan salah satu pesantren di daerah itu. 

Untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19 yang lebih luas, kegiatan pendidikan di pesantren tersebut dihentikan untuk sementara waktu. Kepala Subbagian Tata Usaha Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Tasikmalaya, Yayan Herdiana, mengatakan, seluruh kegiatan di pesantren tersebut dihentikan sementara. Saat ini, petugas masih melakukan pelacakan kepada kontak erat 12 pasien.

“Kegiatan pesantren di-lockdown, tidak ada yang masuk dan keluar,” kata dia kepada Republika, Senin (28/9). Yayan menyebutkan, telah dilakukan tes kepada 208 orang kontak erat. Hasilnya, ada 14 santri yang dinyatakan reaktif berdasarkan hasil rapid test. Sementara untuk 12 santri yang positif, kini telah dirawat di RSUD dr Soekardjo.

Di Kuningan, Jabar, ribuan orang yang terdiri atas santri, guru, dan pegawai di lingkungan Pondok Pesantren Husnul Khotimah, direncanakan mengikuti tes swab massal pada Selasa (29/9). Hal itu dilakukan setelah ditemukannya 46 santri yang terkonfirmasi positif Covid-19 pada akhir pekan kemarin.

Terkait

Jubir Ponpes Husnul Khotimah, Ustaz Sanwani, kepada Republika, Senin (28/9), mengatakan, untuk santri jumlahnya sekitar 3.600 orang. Sedangkan untuk guru dan pegawai, kurang lebih ada 600 orang. Untuk 46 santri yang dinyatakan positif Covid-19, Sanwani mengatakan, mereka diisolasi di dalam ponpes dan tidak dirawat ke rumah sakit. Sebab, mereka hanya mengalami gejala ringan.

Bagi santri sehat, saat ini kegiatan belajar dan mengajar (KBM) diliburkan selama 14 hari, terhitung sejak 25 September 2020. Meski demikian, para santri tetap berada di dalam pesantren. Aktivitas KBM santri pun diganti dengan ibadah mandiri seperti tilawah dan menghafal Alquran, banyak berdoa, olahraga maupun mendengarkan ceramah-ceramah agama. Mereka juga diberi asupanan makanan bergizi yang dapat meningkatkan imunitas tubuh. 

Pemprov Jabar melakukan koordinasi terkait protokol kesehatan Covid-19 dengan para pemilik pesantren dan 500 kiai. Menurut Gubernur Jabar Ridwan Kamil, Pemprov Jabar pekan ini akan memfokuskan pengetesan Covid-19 ke pesantren.

Menurut Emil, saat ini, Pemprov Jawa Barat tengah fokus terhadap satu klaster penyebaran Covid-19 di sejumlah pesantren di Kabupaten Kuningan. “Sekarang, di Jawa Barat ada klaster pesantren di Kuningan, yang pekan ini kita akan melakukan pengetesan massal sesuai pola, yaitu di wilayah Ciayumajakuning. Karena di beberapa wilayah tersebut terjadi yang namanya peningkatan kasus Covid-19,” katanya.

Santri pondok pesantren di Watumas Kelurahan Purwonegoro Kecamatan Purwokerto Utara, Jawa Tengah, yang terkonfirmasi positif Covid-19 bertambah 63 orang. Data tambahan itu menyusul hasil pelacakan dan dilakukan tes usap, setelah ditemukannya 127 santri.

Bupati Purwokerto Achmad Husein mengatakan, dengan adanya tambahan ini, keseluruhan santri di Watumas yang terkonfirmasi positif Covid menjadi 190 orang. “Kami masih menunggu hasil pemeriksaan tes swab yang belum keluar,” kata dia.

Saat ini, kata dia, seluruh santri yang diketahui positif telah dilakukan karantina di gedung Diklat Pemkab Banyumas di Baturraden. Kecuali seorang balita, anak dari pengasuh pesantren yang tidak dikarantina karena belum bisa dipisahkan dari orang tuanya. “Semuanya dalam kondisi sehat atau tidak menunjukkan gejala sakit,” katanya. 

Sebelumnya, Direktur Sekolah Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Sri Wahyuni mengatakan, disiplin protokol kesehatan menjadi kunci pesantren tak menjadi klaster baru. Disiplin menjadi satu-satunya kunci agar lingkungan pesantren terbebas dari virus tersebut.

Meski demikian dia mengakui, kultur pembelajaran di pesantren berbeda dengan kultur sekolah formal pada umumnya, namun tidak ada jalan lain selalin mematuhi pedoman kesehatan. Seperti pedoman menggunakan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak (3M).

"Di pesantren memang kulturnya berbeda, pembelajaran biasanya dilakukan secara tatap muka. Maka harus ada upaya maksimal dari elemen-elemen lingkungan pesantren untuk mematuhi protokol kesehatan, tidak ada cara lain,” kata Sri Wahyuni dalam webinar bertajuk Program Sekolah dan Pesantren Sehat di Era Adaptasi Kebiasaan Baru, Kamis (24/9).

Meski demikian dia mengakui, sulit untuk menjaga jarak sosial di dalam kultur pesantren. Hanya saja, elemen lainnya seperti mencuci tangan, memakai masker, serta protokol kesehatan lainnya harus dipatuhi dengan maksimal. 

Dia pun mengungkapkan, Kemendikbud berupaya untuk mencegah sekolah menjadi klaster-klaster baru Covid-19. Begitu pun pesantren, meski bukan berada di bawah tupoksinya namun dia meyakini bahwa menjalankan disiplin protokol kesehatan dapat menyelamatkan pesantren masuk ke dalam klaster Covid-19.


,
×