Sejumlah massa yang tergabung dalam Gerakan Rakyat Anti Komunis (Gertak) berunjuk rasa di Taman Apsari, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (30/9). Aksi itu mengangkat tema | ANTARA FOTO

Khazanah

28 Sep 2020, 08:37 WIB

Perilaku PKI Merusak Keutuhan Bangsa

Generasi millenial dianjurkan menonton film pemberontakan G30S/PKI

JAKARTA -- Generasi milenial yang lahir pada rentang 1980 – 2000-an perlu memahami tonggak-tonggak penting dalam perjalanan sejarah nasional Indonesia secara utuh. Untuk memahami sejarah itu, mereka harus melalui cara penyajian yang jernih dan bebas dari beban sejarah atau dendam masa lalu. Karena itu, ia berpendapat, generasi milenial juga perlu  menonton film Pengkhianatan G30S/PKI. Harapannya, generasi muda Indonesia tidak mengikuti pola dan perilaku komunis.

Karena itu, Sekretaris Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama (Kemenag) M Fuad Nasar mengimbau  generasi milenial perlu menonton film Pengkhianatan G30S/PKI, sehingga generasi muda Indonesia tidak mengikuti pola dan perilaku komunis.  “Jangan sampai terjadi kita menolak PKI tetapi mengikuti pola dan perilaku komunis,” ujar Fuad.

Dalam mencapai tujuan untuk berkuasa dan mempertahankan kekuasaannya, komunisme selalu menghalalkan segala cara, menyebar fitnah, teror, adu domba, aksi kekerasan, pembunuhan, serta kegaduhan di dalam pemerintahan dan masyarakat. Karena itu, menurut dia, bangsa ini harus belajar dari sejarah masa lalu.

“Bangsa Indonesia harus pandai-pandai belajar dari masa lalu,” ucapnya.

photo
Sejumlah massa yang tergabung dalam Gerakan Rakyat Anti Komunis (Gertak) membakar spanduk saat berunjuk rasa di Taman Apsari, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (30/9). Aksi itu mengangkat tema Menolak Lupa Pengkhianatan G30S/PKI dan menyerukan tentang bahaya laten Komunisme - (ANTARA FOTO)

Selain itu, generasi muda sebagai pemilik masa depan tidak seyogyanya tersandera dengan dendam sejarah masa lalu. Namun, kata dia, orang yang berpikiran maju tidak akan melupakan sejarah dan masa lalu.

“Ada pelajaran yang dapat dipetik dari setiap peristiwa,”kata pria kelahiran Padang Panjang ini.

Fuad menambahkan, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila adalah warisan para pejuang, sehingga tidak boleh disia-siakan oleh generasi penerus. “Literasi sejarah adalah sesuatu yang amat penting. Agar kita bisa menempatkan sesuatu teks dan narasi peristiwa di masa lalu di dalam konteksnya,” jelasnya.

Film G30S/PKI sudah menjadi bagian dari sejarah bangsa ini. Namun, dalam melihat peristiwa itu generasi muda harus menggunakan nalar yang positif. Literasi sejarah adalah sesuatu yang sangar penting, sehingga generasi muda bisa menempatkan sesuatu teks dan narasi peristiwa di masa lalu di dalam konteksnya. Menurut dia, sejarah G30S/PKI itu juga bisa dijadikan sebagai pedoman untuk menghadapi masa depan.

“Kita harus jadikan sejarah sebagai pedoman dalam menghadapi masa depan,” ucapnya.

Untuk memahami sejarah G30S/PKI, generasi muda bisa menonton film yang dibuat oleh Arifin C Noer dan G Dwipayana. Film yang dibuat pada 1984 ini membeberkan peristiwa sejarah diculiknya sejumlah jendral TNI AD pada akhir September 1965.

Film penghianat G30S/PKI ini juga ditayangkan oleh salah satu televisi nasional di akhir pekan ini. Namun, pemutaran film tersebut  justru menjadi pro kontra di tengah masyarakat. Padahal, tidak ada larangan untuk menonton film tersebut.

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud MD juga mengaku heran dengan adanya keributan tentang pemutaran film G30S/PKI. Padahal, ia menegaskan tidak ada pihak yang melarang menonton atau menayangkannya di televisi.

"Mengapa soal pemutaran film Pengkhianatan G 30 S/PKI diributkan? Tidak ada yang melarang nonton atau menayangkan di televisi," ujar Mahfud lewat akun Twitter pribadinya, @mohmahfudmd, dikutip Ahad (27/9).

Sebelumnya, Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Muhyiddin Junaidi juga menganjurkan seluruh umat Islam dan bangsa Indonesia menyaksikan film Pengkhianatan G30S/PKI. Hal ini agar seluruh bangsa Indonesia paham dan mengerti bagaimana kebiadaban dan kezaliman yang dilakukan PKI pada 1948 dan 1965.

"Hal ini sangat penting agar seluruh bangsa Indonesia memahami sejarah bangsanya di masa yang lalu, karena sebuah bangsa yang tak paham akan sejarahnya maka bangsa tersebut akan mengalami disorientasi dan kegelapan akan masa depannya," kata Kiai Muhyiddin kepada Republika, Jumat (25/9).

Anggota Komisi VIII DPR RI, Maman Imanulhaq menilai film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI perlu direvisi. Menurutnya banyak fakta dan bukti dalam film yang dibuat pada era orde baru itu tidak sesuai dengan yang terjadi. Memang menurutnya perlu kejujuran dan keberanian untuk mengungkap fakta yang sebenarnya terjadi pada peristiwa itu. 

"Film G 30 S PKI adalah sebuah tafsir sejarah yang ditulis oleh nalar penguasa ketika itu, tentu sejarah itu perlu di revisi. Karena berbagai macam bukti dan fakta tidak sesuai dengan apa yang terjadi. Maka alih-alih kita nonton produk film yang sudah kadaluwarsa, saya justru berharap ada karya-karya seni yang lain yang lebih jujur, lebih berani dan tentu diharapkan menjadi pijakan moral agar Indonesia lebih bisa melihat ke depan, jangan terlalu terpaku pada tafsiran sejarah sepihak. Kita butuh sebuah tafsiran yang lebih realistis, apalagi generasi milenial hari ini lebih membutuhkan sesuatu yang jujur, yang lebih konstruktif untuk melihat masa depan yang akan datang," kata Maman.

Politisi PKB itu justru mendorong pelaku perfilman dan pemerintah untuk membuat produk film yang menguatkan nasionalisme dan persatuan. Ditengah kegaduhan tentang isu kebangkitan PKI gaya baru, menurut Maman, bangsa Indonesia saat ini justru harus lebih fokus pada penanganan Covid-19.

"Seruan Jenderal Gatot adalah sesuatu yang sangat naif terkesan tidak sensitive, tidak memiliki sanse of pandemic, saya dari pada mengumumkan setengah tiang, justru hari ini kita harus mengobarkan semangat kebersamaan untuk menghadapi covid 19 ini bersama sama. Musuh kita bukan bayangan hantu masa lalu, musuh kita adalah realita tentang bagaimana kita menghadapi covid 19 ini,"katanya. 


×