ilustrasi bank wakaf mikro. | Antara
12 Sep 2020, 08:19 WIB

Dai Diminta Khotbah tentang Wakaf

Wakaf menjadi strategi membangkitkan ekonomi umat.

 

 

JAKARTA -- Badan Wakaf Indonesia (BWI) meminta para dai berkhutbah tentang wakaf agar literasi wakaf masyarakat meningkat. BWI prihatin karena indeks literasi wakaf masyarakat Indonesia hanya di angka 56 yang artinya rendah literasinya.

"Para dai itu cobalah khutbah materi wakaf, dai-dai kita jarang sekali cerita tentang perwakafan," kata Ketua BWI Prof Mohammad Nuh saat bersilaturahim ke kantor Harian Republika, Kamis (10/9).

Terkait

Menurut dia, rendahnya literasi wakaf antara lain disebabkan tidak adanya materi tentang wakaf dalam pelajaran agama Islam di sekolah dan kampus. Akibatnya, para siswa dan mahasiswa tidak tahu tentang wakaf karena memang belum diajarkan. Mereka hanya belajar zakat, infak, dan sedekah.

Karena itu, Nuh berharap ada pelajaran wakaf di sekolah dan kampus supaya semakin banyak yang memahami wakaf. Sebab, lima sampai sepuluh tahun kemudian generasi muda ini akan menjadi orang-orang yang melakukan wakaf atau wakif.

"Karena itu, kita punya program khusus, yaitu Wakaf Goes to Campus, kita ajak anak-anak mahasiswa karena mereka sebentar lagi akan menjadi wakif," ujarnya.

Nuh juga menginformasikan tentang akan diselenggarakannya Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) BWI di Hotel Sultan, Jakarta, 14 September 2020. Melalui forum ini, BWI akan meluncurkan Gerakan Wakaf Indonesia yang bertujuan memperkuat literasi wakaf dan membangkitkan wakaf produktif.

"Insya Allah, 14 September 2020 kita akan menyelenggarakan Rakornas BWI, akan diikuti oleh seluruh perwakilan BWI, baik di tingkat pusat, provinsi, maupun kabupaten/kota," kata dia. 

Rakornas ini juga akan dihadiri para pemangku kepentingan, seperti Lembaga Keuangan Syariah Penerima Wakaf Uang (LKS-PWU). 

"Jadi, rakornas ini mengajak seluruh bank syariah, Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Kementerian Agama (Kemenag), Bank Indonesia (BI), dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK)," kata dia. 

Nuh menerangkan, melalui Gerakan Wakaf Indonesia, BWI ingin menguatkan literasi wakaf yang indeks literasinya masih rendah. Kemudian BWI akan menggerakkan para nazir atau pihak yang menerima harta benda wakaf.

"Para nazir adalah kuncinya di lapangan, karena para nazir yang akan menangkap masyarakat supaya mereka berwakaf," ujar mantan mendiknas dan menkominfo ini.

Ia mengingatkan, para nazir juga harus bisa mengelola aset wakaf dengan baik. Kemampuan mereka dalam mengelola harta wakaf akan menumbuhkan kepercayaan masyarakat terhadap nazir.

Setelah kepercayaan masyarakat terhadap nazir tumbuh, diharapkan masyarakat akan gemar berwakaf. Seiring waktu berjalan, menurut dia, wakaf bisa menjadi tradisi. Anak-anak diajari dan dibiasakan berwakaf. Di era digital sekarang ini, masyarakat bisa wakaf dengan memanfaatkan teknologi, sehingga dana sebesar Rp 5.000 atau Rp 10 ribu juga bisa diwakafkan.

"Kalau itu (wakaf) sudah menjadi budaya dan menjadi tradisi, maka saya yakin bangsa ini akan menjadi bangsa yang luar biasa kekuatannya, karena kekuatan (bangsa) itu ada di memberi, bukan di menerima, kita ingin membangun bangsa yang suka memberi," ujar dia. 

Nuh juga menyampaikan, potensi wakaf di Indonesia sangat besar, sehingga manfaat dari wakaf ini bisa untuk kebaikan dan kesejahteraan masyarakat.


×