Puluhan kapal tradisional bersandar di KEK Pantai Kuta Mandalika, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Selasa (3/12). | Harviyan Perdana Putra/ANTARA FOTO

Opini

11 Sep 2020, 02:00 WIB

Membangun Distrik Kreatif

Indonesia bisa belajar dari Korea Selatan ataupun Cina dalam mengembangkan distrik kreatif.

ANDRE NOTOHAMIJOYO, Pemerhati Pembangunan Nasional, Doktor Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia

Kala pandemi Covid-19, pertumbuhan ekonomi nasional yang melambat menyebabkan ancaman resesi.

Kebijakan pemerintah di berbagai sektor perlu ditinjau kembali manfaatnya, baik dari sisi perkembangan ekonomi regional, pengurangan angka kemiskinan, maupun penyerapan tenaga kerja.

Pemerintah saat ini, berupaya melakukan pergeseran dari ekonomi berbasis sumber daya alam ke ekonomi berbasis sumber daya manusia (SDM), antara lain, melalui pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif. 

Sektor ini diharapkan menjadi tulang punggung perekonomian nasional di masa depan. Salah satu rencana besar pemerintah adalah membangun distrik kreatif. Distrik ini diberi nama Bekraf Creative District atau Be Creative District (BCD).

 
Pemerintah saat ini, berupaya melakukan pergeseran dari ekonomi berbasis sumber daya alam ke ekonomi berbasis sumber daya manusia (SDM).
 
 

Pembangunan BCD diharapkan, dapat mengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional dari sektor ekonomi kreatif berdasarkan subsektor yang dibangun di distrik tersebut.

Pemerintah telah menetapkan Perpres Nomor 18 Tahun 2020 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, yang ditandatangani Presiden Joko Widodo pada 17 Januari 2020. 

Pemerintah memasukkan BCD dalam Daftar Proyek Prioritas Strategis RPJMN 2020-2024. Dukungan dana APBN untuk BCD sebesar Rp 10,2 triliun. Diharapkan, BCD dapat menarik investasi Rp 90 triliun dan menciptakan dua juta lapangan kerja.

Ada tiga lokasi yang dipilih calon lokasi BCD, yaitu Maja, Rangkasbitung, dan Karawang.

BCD diharapkan, dapat berkembang di ketiga lokasi tersebut, seiring pembangunannya pada masa mendatang. Salah satu calon lokasi BCD, yaitu Maja mulai dilirik investor sebagai kawasan permukiman baru, bertumpu pada stasiun kereta Maja untuk transportasi penghuni. 

Sebagaimana halnya Maja, Rangkasbitung bertumpu pada akses transportasi stasiun kereta yang ada. Pengembangan Maja dan Rangkasbitung merupakan perluasan dari wilayah Serpong yang saat ini berkembang pesat dan menjadi kawasan permukiman baru.

Lokasi BCD yang ditetapkan di ketiga lokasi itu perlu ditinjau lebih lanjut melalui studi kelayakan, yang harus berpijak pada prinsip pembangunan berkelanjutan dengan aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan. 

Terlebih, salah satu lokasi yang dipilih adalah Karawang, Jawa Barat, yang merupakan lumbung padi nasional. BCD dapat mengganggu stabilitas pangan nasional bila dipaksakan dibangun di lokasi tersebut tanpa studi kelayakan yang cermat dan menyeluruh.

Pembangunan dan pengembangan distrik kreatif di berbagai negara dapat menjadi contoh yang bagus bagi Indonesia, seperti di Korea Selatan dan Cina. Korea Selatan membangun Dongdaemun Design Plaza (DDP), sebagai pusat budaya dan distrik bersejarah di Seoul.

Mega-infrastruktur tersebut dibangun sebagai dedikasi bagi pengembangan desain dan industri kreatif. DDP memiliki luas 86.574 m² dan terdiri atas museum desain, balai seni, laboratorium desain, hingga perpustakaan dan fasilitas pendidikan.

 
Sejak Oktober 2006, Cina mampu menciptakan lapangan kerja kreatif baru dengan lahirnya 5.473 studio animasi, 477 departemen animasi, dan 1.230 universitas yang menawarkan studi tentang animasi.
 
 

DDP dirancang Zaha Hadid, arsitek terkenal kelas dunia kelahiran Irak. DDP menyebabkan Seoul tumbuh pesat tidak hanya sebagai ibu kota Korea Selatan, tetapi juga menjadi jantung kancah desain nasional dengan 73 persen desainer Korea terkonsentrasi di kota ini.

Dalam lima tahun terakhir, lebih dari 170 ribu pekerjaan dihasilkan industri desain tersebut. Seoul berkembang menjadi rumah bagi ribuan spesialis periklanan, arsitek, perancang gim, dan pengembang konten digital.

Sementara itu, Cina mengembangkan distrik kreatif untuk industri animasi. Beberapa tahun terakhir, Cina menjadi produsen utama produk animasi dunia. Pemerintah Cina memberikan dukungan, baik finansial maupun nonfinansial, termasuk kemudahan perizinan.

Ini mendorong munculnya berbagai kawasan industri animasi baru di Cina, seperti Beijing, Shanghai, dan Tanjin.

 
Kekeliruan pemilihan lokasi, kesalahan analisis, studi kelayakan yang serampangan, hingga kepentingan politik menjadi penyebab kegagalan KEK menarik investasi.
 
 

Sejak Oktober 2006, Cina mampu menciptakan lapangan kerja kreatif baru dengan lahirnya 5.473 studio animasi, 477 departemen animasi, dan 1.230 universitas yang menawarkan studi tentang animasi (Xiang: 2006).

Indonesia bisa mempelajari pengalaman Korea Selatan ataupun Cina dalam mengembangkan distrik kreatif.

Pemerintah harus belajar dari pengalaman sebelumnya dalam mengembangkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), kawasan dengan batasan tertentu yang memiliki keunggulan geoekonomi dan geostrategis wilayah dengan fasilitas dan insentif khusus, yang diberikan untuk mendorong pertumbuhan bisnis.

KEK dibagi menjadi dua, yaitu KEK industri dan KEK pariwisata. Hingga saat ini, hanya sedikit KEK yang dapat beroperasi. Masalahnya adalah ketiadaan investasi. Penyebabnya, ketidaktertarikan investor. 

Kekeliruan pemilihan lokasi, kesalahan analisis, studi kelayakan yang serampangan, hingga kepentingan politik menjadi penyebab kegagalan KEK menarik investasi. Sudah cukup banyak pelajaran yang dapat dipetik dari berbagai kasus tersebut.

Pemilihan lokasi dan subsektor ekonomi kreatif melalui studi kelayakan yang cermat, juga akan memengaruhi kesuksesan distrik kreatif. Jangan sampai distrik kreatif hanya akan menyusul kegagalan yang dialami sebagian besar KEK. 


×