Seorang warga mengembala ternaknya di lahan pertanian yang kering di Desa Lulut, Nambo, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (3/9/2020). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Barat (Jabar) mencatat bencana kekeringan mulai terjadi di seju | ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya
10 Sep 2020, 08:18 WIB

Malu Meminta Air Bersih Terus-menerus

Sudah lama warga Kampung Lebak SIrna Ciampea Bogor menanti kiriman air dari pemkab yang tak kunjung datang.

Tak ada tahun yang dilewati tanpa kesulitan air bersih kala musim kemarau tiba. Begitu yang dirasakan Purwoko (52 tahun). Selama 30 tahun lebih tinggal di RT 01, RW 07, Kampung Lebak Sirna, Desa Ciampea, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, kekeringan selalu melanda wilayah perkampungan ini.

Bantuan memang ada dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor maupun perangkat Desa Ciampea. Sayangnya, bak penampungan air bersih yang dibangun tepat di pelataran rumahnya tak mampu memenuhi kebutuhan warga yang terdampak kekeringan.

Alasannya sederhana. Bukan hanya keluarga Purwoko yang membutuhkan air bersih. Masih ada ratusan kepala keluarga (KK) yang berebut air bersih dalam bak penampungan hasil bantuan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor ini. "Itu dipakek ratusan orang satu RT ini. Pagi, siang, sore orang-orang pada ke sini. Pakek pikulan, ember, jeriken," kata Purwoko saat ditemui di kediamannya, Rabu (9/9).

Kekeringan tahun ini sudah dirasakan sejak akhir Juli 2020. Memasuki Agustus, warga mulai mengeluhkan sulitnya mendapatkan pasokan air. Tapi, siang itu, tak ada satu pun warga yang mengantre di bak penampungan air bersih berkapasitas 8.000 liter. Hampir dua pekan, tak ada lagi kiriman air dari BPBD Kabupaten Bogor.

Terkait

Dia menuturkan, air bersih dari BPBD tak akan datang apabila warga tak meminta. Warga harus terlebih dahulu mengajukan ke pemerintah desa, baru mendapatkan kiriman. "Pengajuan dengan proposal ke pak kades (kepala desa) dulu baru ke BPBD," jelas Purwoko.

Mantan ketua RT 01 ini menjelaskan, kekeringan sudah pasti terjadi saat kemarau tiba. Hanya saja, ia mengeluhkan, mengapa warga masih harus meminta-minta demi mendapatkan kuota bantuan air bersih. "Kita mah perasaan juga minta-minta air terus. Kan sudah pasti ini kekeringannya."

photo
Petugas Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menunjuk peta potensi kekeringan di kepulauan Nusantara hasil penginderaan Satelit Palapa C2 di Laboratorium BMKG Serang, Banten, Senin (3/8/2020). BMKG merilis peringatan waspada menghadapi puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia (kecuali sebagian Papua dan Maluku) yang diprediksi terjadi sepanjang bulan Agustus dampak aliran udara kering dan dingin dari Australia menuju Asia melalui Samudera Indonesia sehingga kadar air di udara sangat tipis - (ASEP FATHULRAHMAN/ANTARA FOTO)

Purwoko berharap, BPBD dapat menjadwalkan kiriman air bersih secara teratur. Setidaknya, satu pekan sekali BPBD memberikan pasokan air bersih. Meskipun demikian, sambung dia, Pemerintah Desa Ciampea telah menginisiasi layanan air bersih keliling. Bantuan tersebut untuk mengantisipasi warga yang sangat membutuhkan air bersih. "Kalo bisa, langsung dikasih paling lama sepekan sekali gitu dari BPBD," kata Purwoko.

Di Desa Ciampea terdapat dua tandon air berkapasitas 8.000 liter, tepatnya di Kampung Lebak Sirna dan di belakang Balai Desa Ciampea. Kades Ciampea, Suparman, menyampaikan, kekeringan air bersih tahun ini sebenarnya tak terlalu parah. Pasalnya, layanan air bersih keliling yang disediakan hanya enam rit (bolak-balik) dalam harinya. "Karena kalo kemarau panjang itu bisa sampai 30 rit dalam sehari. Warga juga jarang yang minta," kata Suparman.

Desa Ciampea terdiri atas 10 RW. Setiap tahunnya, kata dia, setidaknya sembilan RW mengalami kekeringan. Sejak periode kedua menjabat sebagai kades, Suparman mengaku, telah memberikan layanan air bersih keliling. Dua mobil bak miliknya diterjunkan untuk membantu warga yang terdampak kekeringan. Mobil itu mengangkut air bersih dengan kapasitas 1.000 liter dari sumber air pegunungan.

Selain itu, Suparman mengatakan, sejak enam bulan lalu, pihaknya telah mempersiapkan sumur bor sedalam 125 meter yang berada di Kampung Tegal. Sumur tersebut dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan warga Desa Ciampea. "Rencananya, kita minta (Pemkab Bogor) untuk disalurkan ke warga untuk pipanisasi," katanya.

Suparman berharap, Pemkab Bogor dapat melakukan pengadaan sumur air di setiap titik yang mengalami kekeringan. Sehingga, kekeringan yang dihadapi setiap tahunnya dapat teratasi. "Semoga, ini tidak terjadi kemarau panjang saja sih," ucapnya.

Camat Ciampea, Chaerudin Felani, menyatakan, terdapat empat desa yang menjadi langganan kekeringan, yaitu Ciampea, Cibanteng, Cibadak, dan Bojong Rangkas. Saat ini, wilayah yang kekeringan sudah dilaporkan ke Pemkab Bogor. Felani mengatakan, BPBD telah memberikan 10 tangki air bersih. "Ke depan kita mengusulkan pembuatan sumur artesis ke DLH (Dinas Lingkungan Hidup). Sudah kita usulkan dalam Musrembang (Musyawarah Perencanaan Pembangunan)," kata Felani.

Berdasarkan Pusat Data dan Informasi BPBD Kabupaten Bogor, terdapat 36 desa yang tersebar di 13 kecamatan yang terdampak kekeringan. Yakni, Kecamatan Citeureup, Jasinga, Tenjo, Cariu, Ciampea, Cigudeg, Klapanunggal, Jonggol, Gunung Putri, Babakan Madang, Tanjungsari, Ranca Bungur, Leuwiliang. Kekeringan itu berdampak pada 61.104 jiwa atau 24.586 kepala keluarga (KK).

Bupati Bogor Ade Munawaroh Yasin menyampaikan, pihaknya telah mengantisipasi kekeringan di wilayahnya. Ade menyebut, telah menyiapkan armada truk air dari BPBD, PDAM Tirta Kahuripan, dan pemadam kebakaran untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Selain itu, jajaran pemkab juga berupaya memanfatkan sumber mata air yang ada di sekitar wilayah terdampak kekeringan. Sehingga, mata air itu dapat dialirkan ke warga. "Mudah-mudahan masih terkendali. Tapi, menang kekeringan sudah mulai ada," jelas Ade.


×