Foto dokumentasi tentang sejarah Muhammadiyah dan KH Ahmad Dahlan. | Dok GAHETNA NL

Tema Utama

07 Jun 2020, 07:08 WIB

Menggali Sejarah Lokal Muhammadiyah

Tumbuh berkembangnya Muhammadiyah di daerah juga didukung tokoh-tokoh lokal.

 

OLEH MUHYIDDIN

KH Ahmad Dahlan (1868-1923) mendirikan Persyarikatan Muhammadiyah pada 8 Dzulhijjah 1330 H, bertepatan dengan 18 November 1912 di Yogyakarta. Mengutip buku Sejarah Islam dan Kemuhammadiyahan, sosok yang lahir dengan nama Muhammad Darwisy itu terinspirasi prinsip amar ma'ruf nahi munkar, sebagaimana yang terkandung dalam surah Ali Imran ayat 104. Artinya, "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung."

Kini, organisasi masyarakat (ormas) Islam itu menjadi salah satu yang terbesar dan tertua di Tanah Air --bahkan dunia global. Sejak pembentukannya sekitar satu abad lalu, kiprahnya terus mengemuka dalam memajukan dan mencerdaskan kehidupan kaum Muslimin serta bangsa Indonesia pada umumnya.

Muhammadiyah telah menapaki sejarah lebih dari satu abad lamanya hingga kini. Sejumlah tokoh, akademisi, dan pemerhati Muhammadiyah pun menyoroti berbagai aspek tentang historiografi ormas Islam itu.

photo
KH Ahmad Dahlan - (DOK Wikipedia)

Intelektual muda Muhammadiyah, Prof Ahmad Najib Burhani berpandangan, kesejarahan Muhammadiyah memang menjadi objek penelitian banyak periset hingga kini. Akan tetapi, lanjut dia, riset-riset yang ada cenderung didominasi topik elitis atau sejarah tentang tokoh-tokoh Muhammadiyah yang menasional.

Maka dari itu, ia mengajak kaum peneliti untuk lebih menyoroti aspek lokalitas dalam historiografi Muhammadiyah. Sejauh ini, tren penulisan sejarah lokal disambut cukup baik oleh kalangan akademisi. Najib mencontohkan, belum lama ini dirinya menjadi penguji sebuah disertasi di Universitas Indonesia (UI) yang berbicara tentang kesejarahan Muhammadiyah di Betawi (Jakarta).

"Saya kira, ini contoh yang menarik. Bagaimana dinamika sejarah lokal kemudian diangkat menjadi sebuah disertasi. Saya kira, disertasi kemarin itu sangat bagus di UI," ujar dia dalam bincang-bincang online bertajuk "Mencari Jejak Sejarah Lokal Muhammadiyah" beberapa waktu lalu.

Dengan melacak sejarah perkembangan Muhammadiyah di berbagai daerah, lanjut dia, masyarakat umum, khususnya warga Muhammadiyah, pun dapat memetik hikmahnya. Sebagai contoh, mereka bisa mengenal tokoh-tokoh lokal yang mungkin selama ini belum terlalu disorot kiprahnya dalam membesarkan Muhammadiyah.

Sebab, menurut penulis buku Muhammadiyah Jawa itu, suatu ormas menjadi besar tidak hanya disebabkan kontribusi para tokoh nasionalnya. Figur-figur lokal pun sesungguhnya menjadi motor yang turut mengembangkan organisasi.

"Jadi, poin yang kita angkat mungkin adalah mengangkat sesuatu yang di luar daripada keumuman. Itu hal yang menarik ketika berbicara tentang sejarah lokal Muhammadiyah," ujar Najib.

Penjabaran dari peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu diamini Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muchlas Arkanudin. Dia mengatakan, penulisan sejarah lokal Muhammadiyah di tiap-tiap daerah patut didukung.

Apalagi, pada bulan ini Museum Muhammadiyah rencananya akan diresmikan. Bangunan itu, menurut rencana yang ada, berlokasi di dalam kompleks Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta.

Muchlas menjelaskan, pendirian Museum Muhammadiyah bertujuan untuk menghadirkan perspektif yang segar tentang peran Muhammadiyah dalam pentas sejarah nasional dan dunia. Ia berharap, adanya museum tersebut dapat membuka cakrawala publik dalam melihat berbagai peristiwa historis di masa lalu-- atau yang diistilahkannya merebut tafsir sejarah.

"Untuk museum Muhammadiyah itu sendiri diharapkan menjadi sarana, wadah untuk merebut tafsir sejarah," kata Muchlas Arkanudin.

 
Museum Muhammadiyah jadi sarana untuk merebut tafsir sejarah.
MUCHLAS ARKANUDIN, Ketua Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah
 

Pelbagai dokumentasi sejarah nantinya akan ditampilkan di Museum Muhammadiyah. Ia berharap, galeri sejarah itu dapat menunjukkan, sejauh mana dan aneka rupa peran Muhammadiyah dalam perjalanan bangsa Indonesia sejak abad ke-19. "Dengan adanya museum itu kita bisa memberikan suatu ekspresi aktivitas dan peran Muhammadiyah di dalam sejarah Indonesia," ucapnya.

Maka dari itu, ia sangat mendukung upaya-upaya dalam mengangkat lokalitas sejarah Muhammadiyah. Dengan demikian, publik akan semakin tercerahkan tentang kontribusi ormas Islam ini, yang meliputi banyak daerah di Nusantara. Menurut Muchlas, sejauh ini ada cukup banyak buku atau artikel yang memaparkan hasil riset tentang sejarah Muhammadiyah di berbagai daerah.

Sebagai contoh, ada buku yang mengulas tentang sejarah persyarikatan ini di Yogyakarta, Kalimantan Barat, atau Bengkulu. Masing-masing juga berupaya menggali peran dan kontribusi tokoh-tokoh lokal dalam membesarkan Muhammadiyah di level wilayah.

"Penelitian-penelitian (lokal) seperti itu pun layak diapresiasi untuk membuat Muhammadiyah semakin kaya sejarah. Kami berharap, hasil diskusi ini dapat menjadi suatu inspirasi bagi penyusunan sejarah (Muhammadiyah) di tiap daerah," kata dia.

 
Penelitian (lokal) layak diapresiasi untuk membuat Muhammadiyah semakin kaya sejarah.
 
 

Sementara itu, dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Nurul Humaidi mengapresiasi upaya MPI PP Muhammadiyah dalam menggali historiografi lokal Muhammadiyah. Ia menuturkan pengalamannya sewaktu menulis disertasi tentang Muhammadiyah. Ternyata, masih banyak rumpang yakni topik-topik yang bisa dikaji lebih dalam oleh para peneliti.

"Memang, banyak ruang kosong yang bisa dieksplorasi untuk memperkaya khazanah Muhammadiyah. Saya sendiri menulis tentang topik pesantren Muhammadiyah, dan itu sangat langka (topik) di bidang itu," ujar dia.

Apalagi, lanjut Nurul, cukup banyak tokoh lokal yang sesungguhnya berjasa signifikan bagi Muhammadiyah. Namun, mereka tak terlalu disorot kalangan sejarawan atau akademisi. Betapapun masyarakat setempat sudah mengenal atau mengakui perannya sepanjang hayat.

"Karena itu, saya sangat senang menyambut hal ini untuk mengompilasi kembali sejarah lokal Muhammadiyah," katanya.

Muktamar Muhammadiyah dan 'Aisyiyah ke-48 mendatang dapat menjadi momentum. Ia berharap, segenap warga Muhammadiyah --khususnya yang berperan di bidang akademisi dan periset-- dapat menggiatkan penelitian sejarah lokal Muhammadiyah. Dengan begitu, penyelenggaraan muktamar mendatang dapat memiliki warna lokal yang lebih beragam dan kaya.

Terlebih lagi, rapat akbar itu yang sedianya diselenggarakan pada Juli 2020 akhirnya diundur menjadi 24-27 Desember 2020. Sebab, adanya pandemi Covid-19 mengubah kondisi dan situasi di Tanah Air.

Museum Muhammadiyah

Wakil Ketua MPI PP Muhammadiyah Wiwid Widyastuti mengatakan, visi di balik pendirian Museum Muhammadiyah. Salah satunya, mendokumentasikan seluruh historiografi dan catatan atau artefak sejarah yang berkaitan dengan Muhammadiyah. Ia mengakui, cukup banyak riset saat ini yang berfokus pada persyarikatan tersebut. Akan tetapi, lanjutnya, terkadang penulisan sejarah yang ada lebih banyak mengedepankan aspek peristiwa tanpa adanya suatu simpulan.

"Nah, ini yang saya pikir menjadi PR (pekerjaan rumah) kita ke depan, berkaitan dengan merepotasir sejarah Muhammadiyah," kata perintis Museum Muhammadiyah itu.

Pihaknya juga telah mengupayakan pengumpulan benda-benda bersejarah. Misalnya, beberapa waktu lalu PP Muhammadiyah sudah berhasil mendapatkan satu rangkaian perangko yang bertemakan organisasi ini. Setidaknya, ada lima seri perangko ihwal Muhammadiyah sejak 1941 hingga kini. Hal ini merupakan apresiasi tersendiri bagi peran Muhammadiyah bagi bangsa dan negara.

Dengan adanya penulisan sejarah lokal Muhammadiyah, menurut dia, kedepannya diharapkan semua artefak dan arsip sejarah bisa terdoku mentasikan lebih baik lagi untuk menjadi tranformasi informasi dan tranformasi nilai.

"Ini yang penting dilakukan di era saat ini bagamaimana kemudian benda atau dokumentasi apapun bisa kita berikan nilai yang kemudian bisa kita transfer ke anak-anak muda atau generasi yang akan datang," jelasnya.

photo
Foto dokumentasi tentang sejarah Muhammadiyah dan KH Ahmad Dahlan - (Dok Muhammadiyah)

 

'Mencari' Muhammadiyah di Indonesia timur 

Jurnalis Republika, Muhammad Subarkah, memandang, historiografi Muhammadiyah di wilayah Indonesia timur cenderung sepi. Menurut dia, banyak sekali sejarah di kawasan tersebut yang sampai saat ini masih gelap.

"Saya berulang kali pergi ke Papua dan wilayah-wilayah Maluku, di pulau-pulau terpencil. Banyak sekali sejarah-sejarah yang 'hilang' di sana," ujar Subarkah dalam diskusi pada pekan lalu.

Ia menuturkan, peninggalan sejarah Islam di Indonesia bagian timur cenderung hanya berupa artefak-artefak, semisal langgar tua atau mushaf Alquran. Itu pun nyaris tak tercatat dalam penulisan sejarah nasional. Hal ini menunjukkan, historiografi terkait kawasan itu masih belum cukup diterangkan kaum akademisi hingga saat ini.

"Kami banyak bertanya juga tentang Muhamamdiyah di Papua, Islam di sana seperti apa. Yang kecil-kecil inilah yang tidak pernah tercatat dan belum ada yang menuliskannya," ucap penulis buku Lelaki Buta Melihat Ka'bah itu.

"Jadi, kami seringkali kehilangan cermin untuk melihat ke masa lalu. Seperti apa dan bagaimana persyarikatan ini tumbuh dan membesar," lanjut dia.

Sejauh ini, dirinya telah menemukan sejumlah fakta yang menarik tentang kapan Muhammadiyah eksis di Tanah Papua. Data ini diperolehnya dari seorang akademisi Universitas Papua (Unipa) Dr Mulyadi Djaya. Akademisi tersebut juga merupakan ketua Pengurus Wilayah (PW) Muhammadiyah Papua Barat.

Mengutip Mulyadi, lanjut dia, sejarah awal kedatangan Islam di Papua diakui masih sumir. Apalagi, sejarah awal Muhammadiyah. Hal ini tampak terutama pada masa kolonialisme Belanda.

Satu petunjuk yang penting soal eksistensi Muhammadiyah di Papua ditandai dengan adanya shalat Idul Fitri bersama di lapangan. Dan ini juga masuk akal karena para ulama dan aktvis Muhammadiyah kala itu memang getol mengubah kebiasaan masyarakat yang selama ini menggelar shalat Id di dalam masjid dengan menggantinya di luar ruang atau di lapangan terbuka. Alasan utamanya, untuk syiar Islam.

 
Satu petunjuk soal eksistensi Muhammadiyah di Papua ditandai shalat Idul Fitri bersama di lapangan.
 
 

Penggeraknya adalah para tokoh Muslim yang dibuang oleh Belanda ke Digul. Kala Idul Fitri tiba, mereka mengubah kebiasaan umat Islam lokal yang sebelumnya menyelenggarakan shalat Id di dalam masjid atau mushala.

Sejak dirintis mereka, shalat setahun sekali itu pun dihelat di lapangan terbuka. Itu terjadi pada 1926, ketika tokoh asal Aceh, Teuku Bujang Selamat mengerahkan umat Islam di Merauke untuk merayakan hari raya di tanah lapang.

"Mungkin ini bisa menjadi salah satu indikasi mengenai awal spirit atau sosok organisasi Persyarikatan Muhammadiyah eksis di tanah Papua," kata Subarkah menirukan Dr Mulyadi.

Teuku Bujang juga tercatat mendirikan madrasah pertama di Merauke. Bahkan, madrasah itu kini termasuk lembaga pendidikan Islam tertua di Papua. Ia juga membangun sebuah masjid --kini bernama Masjid Nurul Huda-- di sana. Ini menjadi masjid berikutnya setelah yang pertama dibangun di wilayah tersebut pada 1915.

"Dan sekiranya dapat ditengarai dari situlah cikal bakal berdirinya pergerakan Muhammadiyah," ujar Subarkah.

photo
Suasana jamaah di salah satu masjid di Indonesia timur. - (Dok Antara/Anang Budiono)


×