Ilustrasi mengenai asteroid besar yang kemudian pecah di kawasan antara Mars dan Jupiter. | Reuters
30 Nov 2020, 05:14 WIB

Asteroid Besar akan Tabrak Bumi Saat Ramadhan?

Sebenarnya ada puluhan asteroid yang melintas dekat bumi.

OLEH NUR HASAN MURTIAJI 

Beredar informasi di media sosial bahwa pada Ramadhan nanti ada asteroid berukuran besar yang bakal menabrak bumi. Asteroid seukuran gunung Himalaya itu akan menumbuk bumi pada akhir April 2020.

Disampaikan pula akibat dari tumbukan itu menyebabkan terjadinya malapetaka berskala global. Asteroid tersebut masuk ke atmosfer bumi lalu membakar langit dan terjadilah kiamat. Bumi hancur dan semua kehidupan ikut musnah. Bencana katastropis itu meluluhlantakkan bumi.

Bencana ini terjadi ketika pandemi Covid-19 diprediksi belum berakhir, sedangkan umat Islam menunaikan puasa Ramadhan. Benarkah demikian?

Terkait

Data Center for Near Earth Object Studies (CNEOS) mengungkapkan, sejatinya memang ada 13 asteroid pada 19-30 April 2020 yang akan mendekat bumi. Data CNEOS menunjukkan bahwa ukran asteroid tersebut beragam. Ada yang berdiameter 4,5 meter hingga 4,1 kilometer. Semua data ini bisa diakses melalui laman cneos.jpl.nasa.gov.

Tabel 13 asteroid dari lembaga yang menjadi bagian dari Jet Propulsion Laboratory dan Badan Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA) itu juga menunjukkan jarak terdekat dengan bumi berada pada 0,00276 astronomical unit (au) hingga 0,04782 au. "Ada beberapa asteroid yang akan melintas dekat orbit bumi dalam waktu dekat ini. Tetapi semuanya dalam batas aman," kata Kepala Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional (Lapan) Prof Thomas Djamaluddin kepada Republika, Sabtu (18/4).

Apa itu astronomical unit? Ini adalah satuan jarak dalam ilmu astronomi. Dikarenakan jarak antar benda-benda di ruang angkasa yang super berjauhan dalam ukuran di bumi, dibuatlah satuan jarak au. Satu au itu setara 1,496x10^8 kilometer atau sekitar 150 juta kilometer. Jarak rata-rata bumi-matahari yang 150 juta kilometer inilah yang menjadi ukuran 1 au.

Jika ada wahana antariksa yang kecepatannya 300 ribu kilometer per detik (satu detik mencapai jarak sejauh 300 ribu kilometer), maka bumi-matahari ditempuh dalam waktu 8,3 menit. Artinya, asteroid yang dalam lintasannya mendekat bumi pada jarak 0,00276 au setara dengan 414 ribu kilometer. Sedangkan, asteroid yang jarak terdekatnya 0,04782 au setara dengan 7,173 juta kilometer.

Jarak bumi-bulan rata-rata adalah 384.400 kilometer. Bila mengacu pada jarak bumi-bulan ini, maka asteroid yang terdekat dalam lintasannya dengan bumi (414 ribu kilometer) masih berada di luar garis edar bulan mengitari bumi. Dengan demikian, jarak bumi-asteroid masih lebih jauh dari bumi-bulan. Sudah begitu, taksiran diameter asteroidnya hanya 4,5-10 meter. "Pada lintasan lebih jauh dari jarak bumi-bulan, asteroid itu sama sekali tidak mengancam bumi," papar Thomas.

 
Pada lintasan lebih jauh dari jarak bumi-bulan, asteroid itu sama sekali tidak mengancam bumi.
PROF THOMAS DJAMALUDDIN, Kepala Lapan
 

Adapun asteroid 52768 (1998 OR2) yang dikabarkan menabrak bumi pada 29 April 2020 berada pada jarak 7,173 juta kilometer dari bumi. Bandingkan jarak bumi-bulan yang 384.400 kilometer. Apalagi, taksiran diameternya relatif kecil dalam ukuran satuan astronomi, yakni 1,8 - 4,1 kilometer.

Pada tahun ini, mengutip laman earthsky.org, asteroid 52768 (1998 OR2) menjadi objek langit berukuran terbesar dalam titik perjumpaan dekatnya dengan bumi. Astronom di Observatorium Arecibo di Puerto Rico mengungkapkan, kecepatan asteroid ini di ruang angkasa mencapai 31.320 kilometer per jam.

Radar pencitraan beresolusi tinggi yang berada di Arecibo memprediksi, lebar batu ini setidaknya 1,8 kilometer dengan panjang 4,1 kilometer. Bandingkan dengan kecepatan maksimum pesawat Boeing 737-900 ER yang 815 kilometer per jam.

Staf pengajar Kelompok Keilmuan Astronomi ITB Dr Budi Dermawan mengatakan, objek besar yang akan melintas itu bahkan lebih jauh dari jarak bumi-bulan. Kendati, jelasnya, asteroid 52768 (1998 OR2) itu masuk dalam kategori berbahaya karena jaraknya 18,6 kali jarak bumi-bulan.

Disepakati para astronom, benda langit yang melintas kurang dari 20 kali jarak bumi-bulan dikelompokkan sebagai objek berpotensi bahaya. "Sejarak itu kita sudah harus waspada untuk memitigasi lintasan objek pelintas itu," kata Budi.

Namun yang menyesatkan ketika informasi asteroid ini dianggap mengarah pada ranah katastropis. "Kalimat kuncinya, melintas berbeda dengan menabrak," katanya menambahkan.

 
Kalimat kuncinya, melintas berbeda dengan menabrak.
Dr BUDI DERMAWAN, Staf Pengajar Astronomi ITB
 

Sejatinya, ungkap Budi, objek ukuran menengah sekitar semeter hingga puluhan meter lebih banyak melintas, bahkan pada jarak kurang dari jarak bumi-bulan. Akan tetapi hal ini tidak diramaikan karena terlalu sering terjadi. Sejak Januari 2020, kata Budi, ada 29 objek ukuran menengah telah melintas bumi pada jarak kurang dari jarak bumi-bulan. "Kalau saja mereka menabrak, memang pengaruhnya kurang dari lokal sekalipun. Namun, kepedulian tetap perlu ditingkatkan. Kecil bukan berarti diabaikan," paparnya.

Menurut Judhistira Aria Utama dari Laboratorium Bumi dan Antariksa Departemen Pendidikan Fisika Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), asteroid 52768 (1998 OR2) ditemukan pada 24 Juli 1998 melalui program Near-Earth Asteroid Tracking dari NASA dan JPL menggunakan fasilitas teleskop di Obersevatorium Haleakala, Hawaii. Sejak ditemukan, ungkap Aria, asteroid ini pernah mengalami papasan dekat dengan bumi pada 12 Maret 2009. "Berikutnya pada 29 April 2020, 18 Mei 2031, dan 30 Mei 2042, kata Aria.

Menurutnya, peluang tabrakan asteroid itu dengan bumi dapat diabaikan. Kekhawatiran dan spekulasi yang beredar bahwa akan ada bencana katastropis akibat tumbukan asteroid pada pertengahan Ramadhan tahun ini dengan sendirinya gugur. "Kebolehjadian tabrakannya itu sangat kecil, hanya sekali berbanding tiga juta," kata Aria.

 
Kebolehjadian tabrakannya itu sangat kecil, hanya sekali berbanding tiga juta.
JUDHISTIRA ARIA UTAMA, Departemen Pendidikan Fisika UPI
 

Thomas menambahkan, di sekitar bumi memang masih banyak batuan sisa pembentukan tata surya. Objek tersebut biasa disebut near earth objects (NEOs) berupa asteroid beragam ukuran. Dari beberapa meter sampai beberapa kilometer. "Semakin besar ukurannya, semakin jarang kita jumpai. Dalam 100 tahun ke depan belum ada objek yang diprakirakan mengancam bumi," kata Thomas.


,
×