Internasional
Trump Takut Kalah Pemilu, Larang Israel Serang Iran
Iran menjanjikan pembalasan besar-besaran bila ada serangan baru.
TEL AVIV — Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mendorong dimulainya kembali serangan militer berskala besar terhadap Iran. Rencana ofensif yang disebut telah disiapkan militer Israel itu mencakup fasilitas nuklir, pembangkit listrik, dan sejumlah sasaran yang berkaitan dengan pemerintahan Teheran.
Namun, rencana tersebut tertunda setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menentang eskalasi perang menjelang pemilihan paruh waktu AS pada 3 November 2026. Laporan Financial Times pada Rabu (21/10/2026) mengungkap, militer Israel sebelumnya telah menyiapkan operasi pengeboman selama beberapa hari yang direncanakan berlangsung mulai akhir pekan 10 Oktober.
Mengutip sejumlah sumber yang mengetahui persoalan tersebut, FT melaporkan, serangan yang direncanakan itu berpotensi lebih intensif dibandingkan operasi gabungan AS-Israel terhadap Iran pada Februari lalu. Israel juga disebut telah memperbarui daftar target berdasarkan informasi intelijen terbaru.
Rencana tersebut tidak hanya menyasar fasilitas militer dan nuklir, tetapi juga infrastruktur sipil, termasuk pembangkit listrik. Jika dilaksanakan, serangan terhadap infrastruktur energi berpotensi memperbesar dampak perang terhadap kehidupan masyarakat Iran.
Gedung Putih menyampaikan kepada FT bahwa Amerika Serikat tidak akan menyerang Iran sebelum pemilu paruh waktu. Trump berupaya menghindari konflik baru yang berisiko memperburuk situasi politik dalam negeri, terutama ketika biaya energi menjadi salah satu persoalan yang membebani pemerintahannya.
Meski demikian, penundaan serangan tidak berarti ancaman militer terhadap Iran telah berakhir. Netanyahu tetap mendorong serangan lanjutan, sementara Washington dan Tel Aviv masih mempertahankan tekanan terhadap Teheran.
Rencana serangan tersebut muncul ketika Netanyahu menghadapi pemilihan parlemen Israel pada 27 Oktober. Sementara itu, Trump bersiap menghadapi pemilu paruh waktu AS sepekan kemudian.
Kedua pemimpin memiliki kepentingan politik domestik yang membuat keputusan untuk melanjutkan perang menjadi semakin sensitif. Bagi Netanyahu, eskalasi militer dapat memengaruhi persepsi publik terhadap kepemimpinannya. Namun, serangan baru juga berisiko memicu pembalasan Iran dan memperluas konflik di kawasan.
Bagi Trump, keterlibatan kembali dalam perang dapat menimbulkan konsekuensi politik dan ekonomi. Konflik yang meluas berpotensi menyeret pasukan AS serta negara-negara Teluk, sekaligus meningkatkan tekanan terhadap harga energi.
Ketegangan tersebut juga berlangsung di tengah persoalan strategis di Selat Hormuz, jalur pelayaran penting bagi perdagangan minyak dunia. Gangguan lebih lanjut di kawasan itu dapat menambah kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
Laporan FT memperlihatkan bahwa keputusan untuk melanjutkan serangan terhadap Iran tidak semata-mata ditentukan pertimbangan militer. Jadwal pemilu dan kalkulasi politik dalam negeri turut menjadi faktor yang memengaruhi kebijakan kedua pemimpin.
Di tengah penundaan operasi, kemungkinan serangan lanjutan masih membayangi Iran. Trump dan Netanyahu tetap mengisyaratkan bahwa opsi militer belum sepenuhnya ditutup apabila Teheran tidak mengubah sikapnya.
Situasi tersebut membuat kawasan Timur Tengah tetap rentan terhadap eskalasi baru. Serangan terhadap fasilitas nuklir dan energi Iran berpotensi memicu pembalasan, memperluas cakupan konflik, serta meningkatkan risiko terhadap jalur perdagangan strategis.
Bagi masyarakat internasional, perkembangan ini menjadi pengingat bahwa penundaan operasi militer belum tentu membuka jalan bagi perdamaian. Tanpa kesepakatan yang mampu meredakan ketegangan, kawasan tersebut masih menghadapi kemungkinan kembali terjerumus dalam konfrontasi terbuka.
Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa merupakan “impian” Iran agar perang dengan AS terus berlanjut hingga melewati pemilihan paruh waktu bulan November.
Saat berbicara dalam sebuah kampanye di Greenville, Carolina Utara, presiden AS tersebut mengatakan kepada para pendukungnya: “Yah, perang itu akan berakhir dengan sangat cepat. Begitu perang berakhir—dan perang itu pasti akan berakhir dengan satu atau lain cara dalam waktu dekat—harga minyak akan anjlok drastis.”
Trump menambahkan bahwa kenaikan harga minyak merupakan “harga yang sangat kecil untuk dibayar demi mencegah negara yang menjadi sponsor utama terorisme di dunia agar tidak memiliki senjata nuklir”.
Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran telah memperingatkan bahwa setiap serangan baru terhadap negara tersebut akan dibalas dengan “tanggapan yang lebih keras”.
Sebagaimana dilaporkan oleh Press TV, dalam kunjungannya ke sebuah fasilitas militer pada hari Selasa, Mayor Jenderal Ali Abdollahi memuji perluasan kemampuan produksi pesawat nirawak (drone) Iran.
“Apa yang saya lihat hari ini di salah satu dari sekian banyak fasilitas produksi drone—yang dikembangkan melalui upaya rekan-rekan saya di Angkatan Darat Republik Islam Iran—mencerminkan kesiapan, motivasi, dan kemampuan inovatif” dari angkatan bersenjata Iran, ujarnya.
Abdollahi menyatakan bahwa peralatan yang dikembangkan dan ditingkatkan oleh para ahli Iran jauh lebih canggih dibandingkan model-model sebelumnya.
Ia menambahkan, pengalaman dari berbagai konflik terkini yang melibatkan AS dan Israel telah membuat Iran “lebih siap” dalam merespons serangan di masa depan, seraya menegaskan bahwa “tekad untuk melawan” yang dimiliki Teheran tidaklah melemah.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
