Novelis Asma Nadia berpose untuk Harian Republika di sela-sela kegiatan Workhsop Kepenulisan pada gelaran Festival Republik 2019, di Masjid At-Tin, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Ahad (29/12). | Thoudy Badai_Republika

Resonansi

04 Apr 2020, 02:00 WIB

Aku Bangga Jadi Rakyat Indonesia

"Kita perlu bergerak dalam ritme yang sama."

 

Oleh Asma Nadia

Aku bangga terhadap rakyat Indonesia.  Sejak wabah merebak, mereka terus bergerak, aktif, dan berinisiatif mencari informasi, lalu berikhtiar untuk menjaga diri dan keluarga dari terpapar virus korona. Termasuk menjadi perpanjangan tangan info-info terkait korona dan terus mengedukasi.

Tidak hanya di kota, bahkan hingga desa dan kampung-kampung, segenap lapisan rakyat melakukan langkah antisipatif, memastikan tidak sembarangan orang keluar-masuk. Seorang istri meminta suaminya untuk menyendiri dulu selama dua minggu sebelum masuk ke rumah di kampung setelah menempuh perjalanan jauh dari Jakarta. Bukan tidak peduli, melainkan ini wujud kesadaran yang layak diapresiasi. Bahkan, masyarakat yang jauh dari gegap gempita informasi sebagaimana mereka yang di kota, sudah mengerti arti menjaga jarak secara fisik untuk memutus mata rantai penyebaran virus korona. 

Mereka sadar bahwa setiap orang Indonesia mungkin saja telah menjadi salah satu yang membawa virus dalam dirinya. Sekalipun tidak punya alat deteksi, mereka mengambil inisiatif untuk  lebih dulu menentukan langkah-langkah  aman, swakarantina. Saya pribadi optimistis wabah akan berakhir lebih cepat, dan Indonesia tercinta pulih segera jika semua pihak menerapkan hal yang sama. Sayangnya, memang belum.

Aku bangga menjadi rakyat Indonesia. Di beberapa kompleks dan perkantoran penghuninya secara mandiri menyiapkan bilik disinfektan. Menyadari  beberapa cairan yang disemprotkan bukan berasal dari komposisi ideal, mereka mencari bahan alternatif yang lebih tepat dan aman.  Bagaimanapun kreativitas ini menunjukkan kesungguhan rakyat yang tak menunggu subsidi, mengerjakan apa yang bisa dikerjakan, ketika tidak ada tempat bersandar.

Aku salut dengan generasi muda Indonesia. Anak-anak muda yang tidak mudah dibuai oleh informasi menyimpang. Benar beberapa hoaks sudah tersebar, bahkan tidak sedikit disampaikan oleh institusi resmi dan figur yang seharusnya kompeten. Syukurlah generasi kita pandai memilih. Mana berita yang harus dipercaya, mana yang harus diabaikan, dan bertindak tepat tanpa terpengaruh propaganda. 

Sungguh, aku takjub dengan bangsa Indonesia. Secara ekonomi mungkin sebagian besar anak bangsa ini serbakekurangan, terlebih pada masa krisis wabah yang mengikis sumber penghasilan. Akan tetapi, ketimpangan ini dengan cepat direspons, begitu banyak rakyat menunjukkan kepedulian. Berbagai lembaga kemanusiaan menggagas kantung-kantung bantuan, teman-teman selebritas dan tokoh publik, termasuk komunitas artis hijrah, Kajian Musyawarah yang dalam waktu singkat mengumpulkan dan menyalurkan lebih dari 200 juta rupiah bagi kebutuhan APD tenaga kesehatan dan mereka yang terdampak ekonomi. Uniknya, berbagai LSM ataupun forum masyarakat turut bergerak. 

Berbagai video viral menunjukkan di ruas-ruas jalan, tidak sedikit masyarakat membagikan makanan, kebutuhan pokok, dan bukan seluruhnya dari kalangan yang berkelimpahan, melainkan semua ingin berbagi. Semangat sedekah yang luar biasa semoga terus berdenyut memasuki bulan Ramadhan nanti. Seorang sopir ojol bercerita setiap hari selalu saja mendapatkan makanan gratis di jalan. Entah ke barat, timur, utara, atau selatan Jakarta. 

“Alhamdulillah, ada saja yang membagikan makanan!” ujarnya dengan senyum yang saya yakin terkembang di balik masker yang dikenakan.

Sumpah, terkait masker ini, aku benar-benar dibuat terkesima dengan kreativitas intelektual Indonesia dan respons cepat mereka.  Menyikapi sulitnya menemukan masker di pasaran yang harganya melonjak berkali-kali lipat, ramai di media sosial yang membuat gerakan, menantang anak bangsa menyediakan seratus juta masker kain, dengan saku di bagian dalam yang bisa diselipkan lapisan tisu hingga lebih aman.  

Alhamdulillah, masih sangat bangga menjadi rakyat di Indonesia. Berbagai pihak tidak henti bergerak. Para ilmuwan dan teknisi terus mengembangkan riset untuk membuat ventilator memadai  dengan harga cepat dan murah, serta portabel. Gubernur Jakarta bahkan menyiapkan laboratorium yang bisa mendeteksi virus melalui tes dengan kecepatan 1.000 orang per hari. Kabarnya dibutuhkan cuma satu minggu untuk menyiapkan hal ini. 

Aku juga angkat topi tinggi-tinggi bagi para pengusaha Indonesia yang peduli. Naluri bisnis adalah mencari keuntungan. Akan tetapi, pada masa wabah,  tidak sedikit pengusaha produk lokal yang mendonasikan dana dalam jumlah yang fantastis. Sebagian mengalihfungsikan penginapan, hotel, serta gedung yang mereka miliki untuk dijadikan rumah sakit darurat. Para influencer bahu-membahu mulai dari membuat konten menghibur dan bermanfaat selama di rumah saja, juga menggunakan media sosial mereka untuk menyuarakan usaha kecil sesama rakyat yang sepi sejak virus korona merajalela.

Hal lain yang membuat bangga adalah upaya bersiap para pemerintah daerah yang berani mengambil tindakan tegas, tindakan antisipatif yang aktif. Mereka sadar ada risiko ekonomi jika melakukan pembatasan wilayah, tapi di sisi lain mereka pun tahu, jika pembatasan wilayah tidak dilakukan, selain nyawa taruhannya, risiko ekonomi lebih besar dan akan sangat berlarut-larut, menanti kita. Seandainya semua pihak mampu memahami urgensi hal ini.

Kita perlu bergerak dalam ritme yang sama. Solidaritas untuk menjaga jarak, mengenakan masker, bahkan meski cuma belanja di tukang sayur kompleks perumahan. Kekompakan untuk di rumah saja dan rajin cuci tangan. Ini hanya berhasil sempurna jika seluruh rakyat terlibat. 

Jika tidak dijalankan secara menyeluruh, bisa jadi pandemi akhirnya berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain.

Kebanggaanku menjadi rakyat Indonesia yang terakhir serta terpenting. Aku bangga, salut, terkesima, dan takjub pada komitmen dan perjuangan para tenaga medis yang bekerja siang malam tanpa lelah. Tanpa perlengkapan memadai mereka seolah dikirim ke medan tempur tanpa dipersenjatai memadai, tapi mereka tetap menjalankan tugas. Tanpa APD lengkap, tentu mereka tahu seperti berperang dengan perlindungan nihil, tetap mereka tak surut dan terus berusaha melayani sebaik yang mereka bisa. 

Tidak sedikit dari mereka meninggalkan kemewahan, juga keluarga di rumah. Dan tidak sedikit yang akhirnya meninggalkan keluarga untuk selamanya. Mereka adalah pahlawan sesungguhnya, pahlawan yang jejaknya akan terus terukir di hati rakyat.  Pada mereka yang berada di garda depan, tumpuan harapan bersandar.

Wabah ini tentu tidak ada yang mengharapkan kehadirannya. Namun, keberadaannya telah menyatukan berbagai lapisan anak bangsa, juga profesi, dan latar belakang sosial dan pendidikan, untuk berpikir di luar diri dan keluarga, semua bersatu untuk meringankan Indonesia yang terluka. n


×