Petugas Asuransi melakukan pelayanan kepada custumer di Graha Takaful, Jakarta, Kamis (13/7). Republika/Rakhmawaty La | Dokrep/Rakhmawaty La

Ekonomi

Industri Asuransi Syariah Optimistis

 

JAKARTA -- Meski terjadi tekanan pada ekonomi domestik, industri asuransi syariah optimistis bisa tetap tumbuh positif. Secara umum, pertumbuhan kontribusi, manfaat, dan hasil investasi masih baik.

Industri asuransi syariah Indonesia mencatat kenaikan total aset sebesar 8,33 persen dari Rp 41,91 triliun pada akhir 2018 menjadi Rp 45,45 triliun pada akhir 2019. Termasuk di antaranya pertumbuhan asuransi jiwa syariah sebesar 8,74 persen menjadi Rp 37,48 triliun, asuransi umum tumbuh 5,02 persen menjadi Rp 5,9 triliun, dan reasuransi tumbuh 13,35 persen menjadi Rp 2,0 triliun.

Direktur Eksekutif AASI Erwin Noekman mengatakan, tahun ini industri masih optimistis bisa tumbuh aset double digit atau sekitar 10 persen. Karena terlepas dari segala perlambatan ekonomi, industri asuransi syariah masih cukup sehat.

Terlihat di asuransi jiwa syariah, mayoritas dari aset adalah investasi, yakni sebesar 88 persen. Sehingga, secara industri ini lebih aman dan likuid.

"Proyeksi di atas 10 persen mungkin terlalu ambisius, tapi di kisaran pas 10 persen kita bisa masuk," kata Erwin dalam konferensi pers kinerja asuransi syariah 2019 di Jakarta, Kamis (12/3).

Ketua Umum Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) Ahmad Sya'roni menyampaikan, penurunan terbesar terjadi di asuransi umum. Hal itu sebagai dampak dari perlambatan ekonomi dunia yang dampaknya berimbas langsung pada asuransi kendaraan bermotor.

"Seiring perlambatan industri ekonomi baik secara makro maupun mikro, asuransi kendaraan bermotor mengalami penurunan," kata Sya'roni.

Proporsi asuransi kendaraan bermotor pada portofolio industri asuransi syariah mencapai 36,26 persen. Ini merupakan portofolio terbesar, diikuti oleh kecelakaan diri, kesehatan, dan asuransi jiwa sebesar 23,49 persen.

Sementara itu, pertumbuhan kontribusi (premi) total industri tercatat sebesar 8,69 persen dari Rp 15,36 triliun pada 2018 menjadi Rp 16,70 triliun pada 2019. Manfaat atau klaim tercatat tumbuh 39,87 persen dari Rp 7,58 triliun menjadi Rp 10,60 triliun pada Desember 2019.

"Tren kontribusi memang turun satu persen, tapi klaim turun tujuh persen, jadi tetap ada peningkatan bisnis," katanya.

Total investasi tumbuh secara total sebesar 7,78 persen dari Rp 36,97 triliun di akhir 2018 menjadi Rp 39,84 triliun pada akhir 2019. Hasil investasi tumbuh secara total sebesar 3.223 persen menjadi Rp 2,1 triliun. "Hasil investasi khususnya untuk jiwa naik karena sesuai dengan nature bisnisnya yang jangka panjang," kata Sya'roni.

Asuransi jiwa lebih banyak menempatkan investasi di pasar modal, seperti sukuk dan saham. Sehingga, fluktuasi harga saham sangat berpengaruh ke nilai hasil investasi. Sementara itu, asuransi umum mayoritas ditempatkan di deposito.

Komposisi investasi untuk asuransi jiwa, dari total Rp 34,3 triliun, sebanyak Rp 30 triliun ditempatkan di sukuk dan saham syariah, dan sisanya deposito. Terkait porsi investasi dari total aset industri per Desember 2019 tercatat 87,66 persen. ed: fuji pratiwi