Ust Oni Syahroni | dok republika
26 Nov 2020, 02:27 WIB

Kapan Berutang?

 

 

 

Asssalamualaikum wr wb.

Berutang menjadi realitas sebagian masyarakat, baik untuk kebutuhan asasi seperti rumah maupun untuk gaya hidup. Bagaimana cara menentukan kondisi-kondisi yang dibolehkan berutang? Kapan dibolehkan untuk berutang? Mohon penjelasan, Ustaz!

Terkait

Dewi, Bekasi
 

 

Waalaikumussalam wr wb.

Dalam kondisinya, berutang itu diperkenankan atau bahkan menjadi pilihan, jika tidak bertentangan dengan syariah (seperti pembiayaan di lembaga keuangan syariah atau LKS), mampu menunaikan utangnya, dan untuk memenuhi hajatnya (tidak melalaikan hajat lain yang lebih prioritas). Kesimpulan ini sebagaimana dijelaskan dalam poin-poin berikut.

Pertama, teknis jawaban atas pertanyaan tersebut menjadi ranah para ahli perencanaan keuangan. Namun, menurut fikih, idealnya seluruh kebutuhan dipenuhi secara tunai tanpa berutang. Oleh karena itu, idealnya membeli seluruh kebutuhan ini setelah tersedia kemampuan finansial yang cukup. Seperti memenuhi hajat-hajat dalam keluarga, membeli keperluan rumah tangga: rumah, kendaraan, biaya pendidikan, dan sejenisnya itu dilakukan secara tunai.

Kedua, sangat mungkin terjadi kondisi-kondisi yang tidak memungkinkan personal atau keluarga memenuhi kebutuhannya secara tunai. Oleh karena itu, ada beragam alasan sehingga seseorang berutang, di antaranya karena musibah dan biaya pengobatan yang besar, kebutuhan anak masuk perguruan tinggi, dan kesempatan bisnis.

Ketiga, dalam kondisinya, berutang itu diperkenankan atau bahkan menjadi pilihan. Di antara kondisi yang diperkenankan tersebut adalah (a) terhindar dari cara berutang yang bertentangan dengan prinsip syariah, seperti kredit berbunga. Di mana si kreditor mendapatkan komisi (fee) atas jasa pinjamannya kepada debitur tanpa underlying asset dan bermodalkan jual beli alat tukar yang menzalimi debitur.

(b) Berutang untuk memenuhi hajat-hajatnya yang primer seperti kebutuhan akan rumah, biaya pendidikan, dan kebutuhan-kebutuhan sejenis yang tidak bisa diperoleh dengan cara tunai.

(c) Memiliki iktikad dan kemampuan untuk menunaikan utangnya sesuai kesepakatan. Oleh karena itu, tidak diperkenankan berutang dalam kondisi tidak mampu atau tidak ada iktikad untuk menunaikan kewajiban tersebut.

(d) Berutang menjadi pilihan terbaik, tanpa melalaikan hajat lain yang lebih prioritas. Sebagaimana kaidah fikih aulawiyat dan fikih muwazanah bahwa yang wajib dan primer didahulukan dari yang sunah dan sekunder. Sebagaimana firman Allah SWT: "Apakah yang memberi minuman orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjid al-Haram kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah...." (QS at-Taubah: 19).

Keempat, ikhtiar agar bisa melunasi kewajibannya, di antaranya dengan; (a) Jika berutang menjadi pilihan, kredit/transaksi tangguh harus sesuai syariah, di antaranya pembiayaan melalui lembaga keuangan syariah, di mana seluruh pembiayaan di lembaga keuangan syariah itu memiliki underlying asset.

(b) Memenuhi setiap kebutuhannya dengan wajar (sederhana/tidak berlebihan) agar tidak menyebabkan defisit dan berutang karena hidup sederhana adalah keteladanan Rasulullah SAW dan para sahabat. Di antara maknanya adalah memenuhi hajat hidupnya sesuai kebutuhan, tanpa berlebihan, dan berbelanja karena kebutuhan, memiliki sesuatu karena kebutuhan.

Sebaliknya, berbelanja tanpa kebutuhan atau yang tidak dibutuhkan itu bukan bagian dari adab Islam. Hal ini yang ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam banyak hadisnya, di antaranya: Rasulullah Saw bersabda, "Jauhilah gaya hidup mewah. Sesungguhnya hamba-hamba Allah itu bukan orang-orang yang bermewah-mewahan". (HR Ahmad). Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya hidup sederhana termasuk bagian dari iman." (HR Jama?ah).

(c) Totalitas dalam mengais maisyah dan nafkah agar berkecukupan sehingga bisa memenuhi seluruh kebutuhan-kebutuhannya. Wallahu a'lam. n


,
×