vp,,rm
Hikmah hari ini | Republika

Hikmah

Menjaga Ibadah Sunnah

Di antara ibadah sunnah yang mesti kita jaga shalat sunnah Rawatib dan shalat Dhuha.

 

OLEH IMAM NUR SUHARNO

 

 

Ibadah sunnah memiliki keutamaan yang besar, sehingga tidak selayaknya bagi seorang muslim mudah meninggalkannya. Sebab, dalam melaksanakan ibadah wajib, masih banyak kekurangan yang kita lakukan.

Di sinilah fungsi ibadah sunnah, yaitu untuk menyempurnakan atau menambal kekurangan dalam pelaksanaan ibadah wajib.

Sesungguhnya perkara pertama kali yang dihisab pada hari kiamat dari amal seorang hamba ialah shalat. Jika shalatnya baik, maka sungguh ia beruntung dan selamat. Jika shalatnya buruk, maka sungguh ia celaka dan rugi.

Jika terdapat suatu kekurangan pada shalat wajibnya, Allah berfirman, 'Periksalah, apakah hamba-Ku memiliki ibadah sunnah yang dapat menyempurnakan ibadah wajibnya yang kurang?' Lalu, setiap amal akan diperlakukan sama seperti itu.” (HR Tirmidzi dan Nasai).

Seorang Muslim yang ingin menjadi kekasih pilihan Allah, hendaknya mendekatkan diri kepada-Nya dengan ibadah sunnah, selain ibadah wajib.

"Allah SWT berfirman, 'Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku mengumumkan perang terhadapnya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dibandingkan amal yang Aku wajibkan kepadanya. Tidaklah hamba-Ku terus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amal-amal sunnah, sampai Aku mencintainya.

Jika Aku sudah mencintainya, Aku menjadi pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar; menjadi penglihatan yang ia gunakan untuk melihat; menjadi tangan yang ia gunakan untuk memegang; dan menjadi kaki yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, sungguh akan Aku beri. Jika ia meminta perlindungan kepada-Ku, sungguh akan Aku lindungi'." (HR Bukhari).

Apabila seseorang memahami fungsi ibadah sunnah, maka ia tidak akan memudah-mudahkan untuk meninggalkannya. Bahkan, ia akan sangat menyesal jika tidak melaksanakan.

Di antara ibadah sunnah yang mestinya kita jaga pelaksanaannya adalah ibadah shalat sunnah Rawatib dan shalat Dhuha. Dalam dua ibadah sunnah ini banyak keutamaan bagi mereka yang istiqamah menjalankannya.

 
 
Dalam dua ibadah sunnah ini banyak keutamaan bagi mereka yang istiqamah menjalankannya.
 

 

 

Pertama, keutamaan shalat Rawatib. Shalat sunnah Rawatib mengiringi shalat lima waktu. Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya seseorang ketika selesai dari shalatnya hanya tercatat baginya sepersepuluh, sepersembilan, seperdelapan, sepertujuh, seperenam, seperlima, seperempat, sepertiga, separuh dari shalatnya.” (HR Abu Dawud dan Ahmad).

Sesungguhnya amalan yang pertama kali akan diperhitungkan dari manusia pada hari kiamat dari amalan-amalan mereka adalah shalat. Kemudian Allah mengatakan pada Malaikat-Nya dan Ia lebih Mengetahui segala sesuatu, 'Lihatlah kalian pada shalat hamba-Ku, apakah sempurna ataukah memiliki kekurangan?

Jika shalatnya sempurna, maka akan dicatat baginya pahala yang sempurna. Namun, jika shalatnya terdapat beberapa kekurangan, maka lihatlah kalian apakah hamba-Ku memiliki amalan shalat sunnah? Jika ia memiliki shalat sunnah, maka sempurnakanlah pahala bagi hamba-Ku dikarenakan shalat sunnah yang ia lakukan. Kemudian amalan-amalan lainnya hampir sama seperti itu'.” (HR Abu Dawud).

“Barangsiapa merutinkan shalat sunnah 12 rakaat dalam sehari, maka Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di surga. Dua belas rakaat adalah empat rakaat sebelum Zhuhur, dua rakaat sesudah Zhuhur, dua rakaat sesudah Maghrib, dua rakaat sesudah Isya, dan dua rakaat sebelum Subuh." (HR Tirmidzi).

“Dua rakaat sunnah fajar (qabliyah Subuh) itu lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR Muslim).

Kedua, keutamaan shalat Dhuha. Banyak orang yang belum memahami keutamaan shalat Dhuha. Jika mengetahuinya, maka seseorang akan berupaya mengkontinuitaskan. Shalat Dhuha senilai sedekah dengan seluruh persendian, memudahkan urusan hingga akhir siang, serta menyamai pahala haji dan umrah secara sempurna.

 
 
Banyak orang yang belum memahami keutamaan shalat Dhuha.
 

 

 

Pada pagi hari diharuskan bagi seluruh persendian di antara kalian untuk bersedekah. Setiap bacaan tasbih (subhanallah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahmid (alhamdulillah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahlil (laa ilaha illallah) bisa sebagai sedekah, dan setiap bacaan takbir (Allahu akbar) juga bisa sebagai sedekah.

Begitu pula amar makruf (mengajak kepada ketaatan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran) adalah sedekah. Ini semua dapat dicukupi (diganti) dengan melaksanakan shalat Dhuha dua rakaat." (HR Muslim).

“Allah berfirman, 'Wahai anak Adam, janganlah engkau tinggalkan empat rakaat shalat di awal siang (di waktu Dhuha). Maka itu akan mencukupimu di akhir siang." (HR Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi dan Ad-Darimi).

“Barangsiapa yang melaksanakan shalat Subuh secara berjamaah lalu ia duduk sambil berzikir pada Allah hingga matahari terbit, kemudian ia melaksanakan shalat dua rakaat, maka ia seperti memperoleh pahala haji dan umrah.” Beliau pun bersabda, “Pahala yang sempurna, sempurna dan sempurna.” (HR Tirmidzi).

Semoga Allah SWT membimbing kita kaum Muslimin agar mampu menjaga amalan ibadah sunnah setelah menyempurnakan ibadah yang bersifat wajib. Amin.

Bekerja di Tempat Maksiat, Apa Hukumnya?

Islam menyuruh umatnya untuk memerangi kemaksiatan.

SELENGKAPNYA

Memburu Ridha Allah

Suatu bukti bahwa puncak kehambaan kepada Allah adalah memburu ridha-Nya

SELENGKAPNYA

Zikir Al-Mufarridun

Betapa besar dan pentingnya zikir bagi kehidupan setiap Muslim.

SELENGKAPNYA