Pekerja memotret layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (9/5/2022). | ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A

Tajuk

22 Sep 2022, 03:45 WIB

Proyeksi Ancaman Global

Perekonomian nasional bertumbuh cukup solid sehingga membawa keberlanjutan pada sisa 2022.

Kabar baik datang dari Bank Pembangunan Asia (ADB), pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan naik dari prediksi semula. Namun, prediksi suram pun disampaikan ADB mengenai proyeksi pertumbuhan ekonomi global, termasuk Indonesia pada tahun depan.

Semula, ADB memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini 5,2 persen. Namun pada Rabu (21/9) ADB merevisi, ekonomi Indonesia akan tumbuh 5,4 persen setahun penuh 2022. Proyeksi ini didasarkan pada momentum bagus sepanjang semester I 2022.

Perekonomian nasional bertumbuh cukup solid sehingga membawa keberlanjutan pada tengah tahun sisa 2022. Dampak krisis akibat pandemi Covid-19 yang kembali pulih diprediksi menggairahkan perekonomian nasional.

Konsumsi masyarakat mulai meningkat sehingga memacu aktivitas jual-beli produk dan jasa. Perdagangan kembali marak, baik di sektor ritel maupun korporasi. Kembali normalnya aktivitas perekonomian masyarakat, mendorong investor menanamkan modalnya di Indonesia.

 
Perekonomian nasional bertumbuh cukup solid sehingga membawa keberlanjutan pada tengah tahun sisa 2022.
 
 

Investor domestik maupun asing tertarik membenamkan dananya dan menjadikan Indonesia pusat produksi produk domestik maupun global. Kondisi ini tentu bakal membuka tenaga kerja dan menambah kesempatan kerja baru.

Tantangannya terkait ketidakpastian kondisi geopolitik global. Perang Rusia-Ukraina yang tak menunjukkan ujung dikhawatirkan mengganggu akvititas perdagangan global. Geliat perekonomian dunia pun menjadi tersendat akibat dampak perang ini.

Stabilitas kesehatan masyarakat dan perekonomian mendorong mobilitas orang dan barang. Pergerakan orang yang tak terbatasi lagi menjadikan tempat-tempat wisata ramai dikunjungi warga. Wisatawan domestik dan asing pun meningkat.

Demikian pula pusat-pusat perbelanjaan dan perdagangan yang dipenuhi masyarakat. Permintaan domestik diprediksi tetap tinggi kendati inflasi memperlihatkan tren kenaikan hingga akhir 2022.Belanja pemerintah juga menjadi pendorong perekomian nasional.

Kontribusi positif dari belanja pemerintah ini, berdampak pada upaya konsolidasi fiskal yang diperkirakan berlanjut hingga tahun depan. Kabar baik terkait geliat ekonomi tahun ini bersisian dengan prediksi suram pada tahun depan.

 
Stabilitas kesehatan masyarakat dan perekonomian mendorong mobilitas orang dan barang. Pergerakan orang yang tak terbatasi lagi menjadikan tempat-tempat wisata ramai dikunjungi warga.
 
 

Bank Dunia yang mengawali prediksi akan adanya ancaman resesi global pada 2023. Bank Dunia memprediksi sejumlah negara maju berpotensi resesi. Salah satu penyebabnya, banyak bank sentral menaikkan suku bunga global.

Kenaikan suku bunga ini sebagai antitesis atas inflasi yang diprediksi terus melonjak sepanjang 2023. Meskipun solusi kenaikan suku bunga ini tetap tak dapat menurunkan suku bunga global sebagaimana sebelum pandemi Covid-19.

Kendati perekonomian negara berkembang dinilai cenderung lebih aman, tapi meningkatnya resesi perekonomian negara maju itu bisa merembet pada arus modal hingga kinerja perdagangan.

Krisis keamanan dan ketidakstabilan geopolitik membuat aktivitas perdagangan saling mengunci sehingga tak bisa bergerak. Padahal, sejumlah negara sejatinya saling menggantungkan pada produk dan jasa. Ini dikhawatirkan berdampak pada negara berkembang.

Tiga negara dengan perekonomian terbesar dunia, yakni AS, Cina, dan kawasan Eropa diprediksi Bank Dunia melambat tajam. Kondisi ini membawa mereka pada jurang resesi.

Di satu sisi, ADB memprediksi ekonomi negara berkembang di kawasan Asia menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada tahun depan. Bahkan, angka pertumbuhannya diprediksi melebihi Cina.

 
Tiga negara dengan perekonomian terbesar dunia, yakni AS, Cina, dan kawasan Eropa diprediksi Bank Dunia melambat tajam. Kondisi ini membawa mereka pada jurang resesi.
 
 

Kondisi yang menandai pertama kalinya dalam 30 tahun ekonomi negara berkembang di Asia diprediksi tumbuh lebih cepat dari Cina pada 2023. Terakhir kali prediksi serupa terjadi pada 1990 ketika ekonomi Cina melambat menjadi 3,9 persen, sedangkan di wilayah lain meningkat 6,9 persen.

Tentu kita berharap prediksi ADB dan Bank Dunia terhadap perekonomian global yang suram pada tahun depan bisa dicarikan solusinya. Proyeksi buruk bisa diantisipasi dengan melakukan pencegahan.

Adapun proyeksi positif mesti dipertahankan agar data yang ada tetap pada jalurnya. Demikian pula dengan prediksi perekonomian Indonesia. Sinyalemen ADB bahwa perekonomian Indonesia menguat positif pada tahun ini, mesti disambut dengan program kebijakan yang kondusif. ';

Bercadar, Wajib, Sunah, atau Mubah?

Terdapat berbagai pandangan para fuqaha (ahli fikih) tentang cadar

SELENGKAPNYA

Perempuan dan Peradaban

Dua perempuan yang teguh menyiapkan generasi untuk tegaknya peradaban, yaitu istri Imran dan Maryam binti Imran.

SELENGKAPNYA

Ratu Siti Aisyah We Tenriolle, Penyelamat Epos La Galigo

Siti Aisyah berjasa mengumpulkan naskah La Galigo dan menulis ulang ke dalam bahasa bugis kuno

SELENGKAPNYA
×