Warga antre untuk menerima paket makanan berisi nasi dan lauk pauk serta minuman di Warung Sedekah, Jalan Sunan Kudus, Kauman, Kudus, Jawa Tengah, Sabtu (16/4/2022). | ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho/wsj.

Opini

29 Jun 2022, 03:45 WIB

Ibadah Ritual Versus Amal Sosial

Jika ibadah ritual dianggap penting, mengapa kasus korupsi yang melanda negeri tercinta terus meningkat?

BIYANTO; Guru Besar UIN Sunan Ampel dan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur

Semua agama mengajarkan pentingnya menjaga keselarasan ibadah ritual dan amal sosial. Jika ada orang rajin beribadah ritual sementara amal sosialnya buruk, sejatinya orang itu tidak memahami substansi ajaran agama secara utuh.

Hal itu berarti, setiap orang penting memahami dimensi sosial dari setiap ibadah ritual.

Meski ibadah-ibadah ritual itu dilakukan dalam rangka membangun hubungan baik dengan Allah SWT (hablun minallah), tujuan akhirnya adalah agar seseorang memperbaiki akhlaknya pada sesama (hablun minannas).

Pesan ini penting agar tidak terjadi kesenjangan antara ibadah ritual dan amal sosial. Dalam perspektif psikologi ditegaskan, orang yang melaksanakan ibadah ritual dengan baik, tetapi amal sosialnya buruk, berarti dia mengalami kepribadian terbelah (split of personality).

 
Dalam perspektif psikologi ditegaskan, orang yang melaksanakan ibadah ritual dengan baik, tetapi amal sosialnya buruk, berarti dia mengalami kepribadian terbelah.
 
 

Dalam tingkat tertentu, praktik keagamaan model ini tumbuh subur di tengah-tengah masyarakat. Sebagai contoh, ada orang rajin bersedekah, tetapi setelah ditelisik, ternyata sedekah itu bersumber dari harta hasil korupsi. Orang seperti ini layak disebut sakit mental (mental illness).

Dalam kasus lain, ada juga orang rajin beribadah ke Tanah Suci. Uniknya, ongkos perjalanan ke Tanah Suci ternyata bersumber dari uang haram.

Inilah contoh potret ritual terbelah yang digambarkan Moeslim Abdurrahman dalam On Hajj Tourism: In Search of Piety and Identity in the New Order Indonesia (2000). Orang dapat melaksanakan perbuatan baik dan buruk secara bersamaan.

Padahal, agama apa pun pasti tidak membenarkan pemeluknya berkepribadian terbelah. Semua agama pasti memerintahkan pemeluknya menjadi orang terbaik dalam pandangan Tuhan dan sesama.

Adanya kecenderungan orang memisahkan kesalehan ritual dan sosial juga dapat dibaca dalam penelitian Global Advisor bertajuk Views on Globalization and Faith (Juli 2011). Di antara negara yang menjadi sasaran penelitian adalah Indonesia.

 
Padahal, agama apa pun pasti tidak membenarkan pemeluknya berkepribadian terbelah. Semua agama pasti memerintahkan pemeluknya menjadi orang terbaik dalam pandangan Tuhan dan sesama.
 
 

Pertanyaan penelitian yang diajukan, seputar pentingnya menjalankan berbagai ibadah ritual keagamaan.

Umumnya, responden memandang penting menjalankan ibadah ritual dalam kehidupan sehari-hari. Hampir tidak ada responden yang menyatakan ibadah ritual tidak penting. Semua ibadah ritual penting sehingga wajib ditunaikan.

Jawaban tersebut sejalan dengan meningkatnya gairah umat untuk beribadah. Termasuk gairah umat beribadah selama Ramadhan. Dalam kondisi pandemi sekalipun, gairah umat untuk beribadah sungguh luar biasa.

Gairah umat untuk beribadah juga tampak melalui jumlah antrean calon jamaah haji yang semakin mengular hingga puluhan tahun. Bahkan, di sejumlah daerah antrean jamaah untuk menunaikan ibadah haji lebih dari 30 tahun.

Semua fenomena ini menunjukkan, telah terjadi peningkatan religiositas di kalangan umat. Pertanyaannya, jika ibadah ritual dianggap penting, mengapa kasus korupsi yang melanda negeri tercinta terus meningkat?

Rasanya tak ada instansi pemerintah yang benar-benar bersih dari kasus korupsi dengan semua ekspresinya. Bahkan, sewaktu-waktu kita juga harus siap dikejutkan dengan insiden operasi tangkap tangan, yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap pejabat publik.

 
Semua fenomena ini menunjukkan, telah terjadi peningkatan religiositas di kalangan umat. Pertanyaannya, jika ibadah ritual dianggap penting, mengapa kasus korupsi yang melanda negeri tercinta terus meningkat?
 
 

Selama pandemi, kita juga menyaksikan sejumlah pejabat publik ditangkap KPK karena terlibat kasus korupsi.

Karena itulah, tidak mengherankan jika emosi publik begitu membuncah tatkala melihat ada pejabat, yang begitu tega melakukan korupsi di tengah rakyat sedang kesulitan hidup akibat pandemi.

Padahal, korupsi merupakan dosa kemanusiaan yang luar biasa besar dampaknya bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Lebih ironis lagi, yang dikorupsi itu ternyata adalah dana bantuan sosial, yang semestinya disalurkan untuk masyarakat terdampak pandemi.

Pertanyaannya, bukankah pelakunya merupakan pemeluk agama yang semestinya memandang penting dimensi kemanusiaan dari ajaran agamanya? Jawabnya, sangat mungkin mereka memahami ajaran agama secara parsial.

 
Peringatan keras Allah layak direnungkan agar kita tidak termasuk orang yang mendustakan agama.
 
 

Mereka berpandangan, beragama merupakan urusan pribadi hamba dengan Tuhannya. Mereka juga tidak menyadari, ada keterkaitan antara ibadah ritual dan amal sosial. Pemahaman seperti ini harus diluruskan karena ajaran agama selalu menekankan pentingnya nilai-nilai kemanusiaan.

Ditegaskan dalam Alquran, Allah SWT mengutuk orang yang shalat, tetapi lalai dengan maknanya. Allah juga mencela orang yang tidak tulus (riya) dan tidak mau menolong orang lain (QS Al-Ma’un: 5-7). Allah menyebut mereka sebagai pendusta agama.

Peringatan keras Allah layak direnungkan agar kita tidak termasuk orang yang mendustakan agama. Para pendusta agama dalam konteks ini adalah mereka yang tidak mampu menyelaraskan ibadah ritual dengan amal sosial.


Jokowi Ajak G-7 Atasi Krisis Pangan

Rantai pasok global yang terimbas perang Ukraina-Rusia harus segera dipulihkan. 

SELENGKAPNYA

Polisi Bidik Pihak Manajemen Holywings

Polisi mengincar tersangka di pihak manajemen.

SELENGKAPNYA

MyPertamina Jadi Syarat Beli Pertalite dan Solar

Kebijakan syarat MyPertamina ini mendapatkan ragam komentar dari masyarakat.

SELENGKAPNYA
×