Priyantono Oemar | Daan Yahya | Republika

Kisah Dalam Negeri

30 Jan 2022, 03:30 WIB

Ujaran Kebencian di Masa Pergerakan Nasional

Banyak ujaran kebencian di koran-koran Belanda di Batavia yang tidak diapa-apakan oleh pemerintah.

OLEH PRIYANTONO OEMAR

Di Belanda pada 1927, Hatta dan kawan-kawan ditangkap karena dianggap menghasut atau menyebarkan kebencian terhadap pemerintah. Pengacara Belanda JEW Duijs pun membela Hatta dan kawan-kawan di pengadilan.

Dalam pembelaannya, ia menyebut banyak ujaran kebencian di koran-koran Belanda di Batavia yang tidak diapa-apakan oleh pemerintah. Ujaran-ujaran kebencian oleh pers Belanda itu dijadikan alasan oleh Duijs untuk melihat perilaku perlawanan yang diberikan oleh orang Indonesia. Lebih tepat disebut sebagai pembelaan diri melalui pers Indonesia, bukan penyebaran kebencian.

“Sesungguhnya, seorang baru dapat menilai isi karangan dalam pers bumiputra secara tepat, jikalau diketahui, bagaimana pers Belanda memperlakukan dan menjelek-jelekkan orang Indonesia. Setelah itu tidak perlu diherankan kalau dia berpendapat bahwa apa pun yang dikatakan dan ditulis orang-orang bumiputra dalam persnya, masih harus dianggap patut,” ujar Duijs dalam pembelaannya berjudul De Vervolging Tegen De Indonesische Studenten.

Duijs lantas mengurai banyaknya ujaran kebencian di pers Belanda yang ada di Batavia maupun di Belanda. Duijs memperlihatkan sebuah ironi dari perlakuan Belanda terhadap pribumi sebagai rakyat budak. Bahwa bagi orang Belanda, perlakuan yang manusiawi untuk budak adalah dengan pukulan.

 
Duijs lantas mengurai banyaknya ujaran kebencian di pers Belanda yang ada di Batavia maupun di Belanda.
 
 

Ia mengutip tulisan Fabricus di majalah Suikerbond: “Pribumi tidak dapat melakukannya tanpa pukulan dari tuannya. Anjing harus diperlakukan sebagai anjing. Seorang kuli mengerti perlakuan yang lebih manusiawi.”

“Perhatikan ironi di dalamnya,” ujar Duijs seraya melanjutkan mengutip Fabricus: “Mereka memberikannya kepadanya. Maksud saya, seorang kuli mengerti tentang rotan. Biarkan dia melayani."

Ia juga mengutip tulisan di Nieuws van den Dag van Nederlandsch-Indie: “Menurut pendapat kami, orang Jawa adalah seorang anak-anak: nakal, tidak tahu apa maunya, menyebalkan dan malas, tidak dapat dipercaya dan kejam. Dia tidak sanggup mengurus dirinya sendiri dan tidak mampu melakukan sesuatu pekerjaan dengan sungguh-sungguh.

Penduduk asli adalah seorang sais yang sangat kejam, pekerja yang tidak tahu aturan, seorang petani yang terbelakang dan bandel, mandor yang malas, seorang bawahan yang tidak tertib, seorang atasan yang sangat keras. Dia percaya pada setan-setan, tidak dapat dipercaya, pendusta, bodoh dan pelupa, kekanak-kanakan, penindas dan berjiwa badak.”

Tulisan yang lain, ia ambil dari tulisan K Wijbrands, pemimpin redaksi Nieuws van den Dag van Nederlandsch-Indie, ketika menanggapi penyelesaian pemogokan buruh kereta api tahun 1923: “Saya hanya mengenal satu jenis ‘bahan objektif’ dalam persoalan ini, yaitu sepotong kayu pemukul yang kuat. Berbicara tentang perdamaian pada masa ini, pada saat kebrutalan pekerja-pekerja penduduk asli sudah melampaui batas… Tuhan yang Baik, apakah begitu banyaknya pengecut di kalangan kami!”

 
Tan Malaka memiliki cerita bahwa pukulan yang diberikan kepada pribumi tak hanya ketika pribumi sedang bersalah.
 
 

Tan Malaka memiliki cerita bahwa pukulan yang diberikan kepada pribumi tak hanya ketika pribumi sedang bersalah. Bahwa orang-orang dari Belanda yang didatangkan untuk bekerja di kebun sama sekali tak memiliki pengetahuan tentang perkebunan. Tapi mereka bisa cepat belajar dengan cara kasar.

“Dengan kulit putih, tongkat yang besar dan dua tiga patah kata Melayu pasar dan 13 godverdomme (pukulan, pen) mereka bisa mendapatkan semua pengetahuan dan pengalaman itu dari hopmandor (kepala mandor, pen) atau mandor biasa,” ujar Malaka di buku Dari Penjara ke Penjara.

Ketika Sukarno masih belajar di Hogere Burger School (HBS) Surabaya, ia hanya memiliki teman sesama pribumi (inlander) sebanyak 19 orang. Jadi ada 20 siswa pribumi termasuk dirinya, dari 300 siswa yang dimiliki HBS. Sisanya adalah siswa-siswa Belanda.

Sukarno tamat dari HBS pada 1921. “Setiap hari didera oleh tindakan rasisme Belanda yang terpampang di papan pengumuman kolam renang: Anjing atau pribumi dilarang masuk,” tulis Wilfred T Neil di buku Twentieth-Century Indonesia.

Muh Tabrani, mantan pemred Hindia Baroe, masih mengalami perlakuan rasial pada awal dia tiba di Belanda pada 1927. Peristiwanya terjadi pada saat ia berbincang dengan wartawan De Telegraaf.

“Kemudian kami berbicara sedikit tentang perjalanan itu, tentang kesan pertamanya di Belanda dan pada saat itu seorang anak laki-laki Utrecht datang dan berdiri di depan meja kafe kami. Anak laki-laki itu menatap rekan saya dengan perhatian yang tidak tersamar. Ketika saya meminta anak laki-laki yang berpakaian rapi itu menjauh, dia berkata dengan tegas, ‘Negro’," tulis Telegraaf, 4 Oktober 1927.

Tetapi, Tabrani tak menggubrisnya. Ia digambarkan tetap tenang dan kejadian itu kemudian mendorong wartawan De Telegraaf bertanya soal pemuda Hindia.

Pada akhir dekade 1930-an, diskriminasi itu ternyata masih bisa dijumpai. Dahlan Ranuwihardjo mengalami diskriminasi itu pada 1939 ketika belajar di Yogyakarta setamat dari HIS.

Di dekat sekolah milik Muhammadiyah itu ada pabrik gula. Karyawan pabrik yang orang Belanda tinggal di perumahan. Di jalan masuk kompleks itu ada papan peringatan “Verboden voor Inlanders”.

Bersama beberapa temannya, Dahlan yang saat itu berusia 15 tahun ingin menerobos jalan menuju kompleks itu. Semangat mereka sebagai orang Indonesia yang didapat dari Sumpah Pemuda sedang menggebu-gebunya, seperti tergambar di buku Bungai Rampai Soempah Pemoeda.

“Begitu kami berlima memasuki jalan yang terlarang untuk inlanders itu, muncullah seorang bule (Belanda) berbadan tinggi besar dan nyerocoslah dia menghardik kami, ‘Weten jullie niet dat deze weg verboden is voor inlanders?’ (Tidak tahukah kalian bahwa jalan ini terlarang untuk orang-orang pribumi?),” tulis Dahlan.

Mewakili teman-temannya, Dahlan menyatakan bukan inlander, melainkan orang Indonesia. Si bule pun melotot, lalu menghardik. ”Godverdomme, hoe durf je mij tegen te spreken, begitulah seingat saya yang artinya: Bedebah, berani ya kamu membantah saya. Saya menjadi ketakutan juga sehingga satu kata pun tidak keluar lagi dari mulutku, sedang empat kawanku diam karena mereka tidak tahu bahasa Belanda,” ujar Dahlan.


×