Pengungsi Afghanistan berunjuk rasa di Surabaya, Jawa Timur, Kamis (6/1/2022). Mereka menuntut kejelasan untuk berangkat ke negara ketiga setelah lama tinggal di pengungsian. | ANTARA FOTO/Didik Suhartono

Tajuk

10 Jan 2022, 03:11 WIB

Membantu Afghanistan

Tanpa dukungan komunitas internasional, kondisi di Afghanistan akan semakin berat.

Pemerintah Indonesia, Ahad (9/1) dini hari mengirimkan bantuan kemanusiaan untuk rakyat Afghanistan. Dua pesawat berisi bahan makanan dan nutrisi diterbangkan. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menegaskan, ini bagian komitmen Indonesia.

Indonesia memenuhi komitmen yang sebelumnya disampaikan untuk Afghanistan. Baik dalam bentuk bantuan kemanusiaan maupun kerja sama pembangunan. Afghanistan saat ini memang membutuhkan uluran tangan.

Setelah pemerintahan diambil alih Taliban, hingga kini persoalan pengakuan internasional belum usai. Akses dana juga masih dibekukan khsusunya oleh AS. Banyak warga eksodus karena khawatir pemerintahan Taliban memberangus kebebasan.

Hal lebih mendesak, perlu segera ditangani kondisi buruk masyarakat di sana, baik secara ekonomi maupun sosial. Menurut Retno dalam pernyataan resmi kemarin terkait bantuan kemanusiaan Indonesia, saat ini 23 juta penduduk Afghanistan terancam kelaparan.

Jumlah tersebut melebihi separuh total populasi negara tersebut. Selain itu, lebih dari tiga juta anak-anak turut terancam malnutrisi. Mengutip badan dunia, World Food Programme, menurut Retno, Afghanistan menjadi krisis kemanusiaan terbesar di dunia.

Tanpa dukungan komunitas internasional, kondisi di Afghanistan akan semakin berat. Butuh komitmen kuat dari semua pihak untuk meringankan beban dan menuntaskan persoalan yang dihadapi warga Afghanistan.

 
Butuh komitmen kuat dari semua pihak untuk meringankan beban dan menuntaskan persoalan yang dihadapi warga Afghanistan.
 
 

Jangan sampai, mereka menanggung beban penderitaan tak ada ujungnya. Komitmen negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) pun tentu ditunggu. Termasuk hasil pembahasan dalam pertemuan luar negeri OKI di Pakistan pada 19 Desember 2021.

Pertemuan luar biasa OKI ini memang bertujuan membahas situasi kemanusiaan di Afghanistan. Salah satu hasilnya adalah soal pembentuan dana perwalian kemanusiaan untuk Afghanistan, yang didirikan di bawah nauangan Bank Pembangunan Islam.

Pakistan saat itu menyatakan, membuka saluran keuangan dan perbankan penting bagi Afghanistan yang mengalami krisis parah. Tentu semua berharap, dana perwalian ini dapat segera menyalurkan bantuan dana kemanusiaan untuk Afghanistan.

Indonesia memang mendorong adanya pertemuan darurat di Pakistan itu karena khawatir kian memburuknya krisis kemanusiaan di Afghanistan. OKI yang beranggotakan negara-negara Muslim tentu memiliki kewajiban moral untuk membantu Afghanistan.

Langkah konkret dibutuhkan agar persoalan kemanusiaan di Afghanistan paling tidak sedikit berkurang dan lebih jauh kelak bisa terselesaikan. Tentu bukan hanya OKI yang dituntut untuk memainkan peran besar di Afghanistan.

 
Langkah konkret dibutuhkan agar persoalan kemanusiaan di Afghanistan paling tidak sedikit berkurang dan lebih jauh kelak bisa terselesaikan.
 
 

Komunitas internasional, secara keseluruhan pun dintutut berperan menyelesaikan persoalan Afghanistan. Apalagi negara-negara besar, mestinya mempertimbangkan kondisi kemanusiaan saat menetapkan kebijakan luar negerinya terkait Afghanistan.

Pertimbangkan jutaan warga termasuk anak-anak yang kekurangan makanan dan nutrisi. Jangan sampai ego besar negara-negara penentu arah kebijakan internasional, membuat sengsara jutaan rakyat Afghanistan.

Afghanistan, bagi mereka yang selama ini lantang mendengungkan soal kemanusiaan dan hak asasi manusia, tentu menjadi batu ujian apakah suara lantang itu sekadar suara tanpa tindakan atau bahkan menjadi pemicu berbuat lebih banyak untuk kemanusiaan.


×