Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2021-2026 Yahya Cholil Staquf memberikan sambutan saat penutupan Muktamar NU ke-34 di UIN Raden Intan, Lampung, Jumat (24/12/2021). Pada Muktamar NU ke-34 itu terpilih Yahya Cholil Staquf sebagai Ke | ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/wsj.

Laporan Utama

01 Jan 2022, 04:40 WIB

Bangkitkan Muruah NU

NU diharapkan bisa kian bermuruah di bawah kepemimpinan duet kiai ini.

OLEH IMAS DAMAYANTI

Muktamar NU telah melahirkan kepengurusan baru di bawah duet kepemimpinan Rais Tanfidziah-Rais Aam, KH Yahya Cholil Staquf dan KH Miftachul Akhyar. Beragam tantangan telah menanti kepengurusan ini baik dari umat maupun bangsa ke depan. Ormas Islam terbesar di Indonesia ini pun diharapkan bisa kian bermuruah di bawah kepemimpinan duet kiai ini.

 

Muktamar ke-34 Nahdlatul Ulama (NU) di Lampung yang berlangsung pada 22-24 Desember 2021 berjalan dengan khidmat. Salah satu warga Nahdliyin yang menghadiri Muktamar NU di Lampung, Ustazah Izza Farhatin Ilmi menjelaskan,  suasana muktamar berlangsung dengan tradisi NU yang kental.

Dia menjabarkan, selain pokok agenda suksesi yang disuguhkan dalam muktamar, terdapat juga forum-forum ilmiah yang disajikan dalam muktamar. Contohnya, ujar Ustazah Izza, forum ilmiah Bahtsul Masail yang meliputi Maudhuiyyah, Wakiiyah, hingga Qonuniyah.

“Jadi forum-forum ilmiah ini, yang saya hadiri kebetulan di siang hari. Malamnya, baru suksesi. Sehingga selain dilangsungkannya suksesi, muktamar itu juga ada forum-forum ilmiahnya. Fatayat NU, Muslimat NU, Lakpesdam, semua berkumpul di sana dan membuat forum-forumnya tersendiri. Muktamar bagi warga NU itu seperti ‘lebaran’-nya lah,” kata Ustazah Izza.

Pemilihan ketua umum berlangsung dalam Sidang Pleno V Muktamar ke-34 NU di Gedung Serbaguna Universitas Lampung (Unila), Bandar Lampung, Jumat (24/12) pagi.

Pemilihan ketua umum menggunakan mekanisme voting atau pemungutan suara. Dalam proses penghitungan suara, Gus Yahya memperoleh 337 suara, sedangkan calon ketum PBNU pejawat KH Said Aqil Siroj mendapatkan 210 suara.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

Terpilihnya Gus Yahya menaruh asa bagi segenap warga Nahdliyin. Rais Syuriyah Pengurus Cabang Istimewa NU (PCINU) Australia-Selandia Baru Nadirsyah Hosen berharap NU yang didapuk duet Kiai Yahya dan Kiai Miftach tidak hanya kuat di wilayah Jawa, tapi juga di luar Jawa.

Dia pun menekankan pentingnya kiprah NU di lingkup global. “Kiprah NU di lingkup global harus diperkuat,” kata dia kepada Republika

Di sisi lain dia menambahkan, sebagai sebuah organisasi besar yang menaungi mayoritas kelompok Islam di Indonesia, organisasi NU harus mulai memikirkan kemandirian dana dengan mulai membuka iuran anggota.

NU tak cawe-cawe

Salah satu wacana yang digaungkan Kiai Yahya saat mencalonkan diri sebagai Ketua Umum PBNU adalah tidak menjadikan NU sebagai alat politik. Pengamat Politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Adi Prayitno menyampaikan bahwa hal tersebut dapat dilihat bahwa NU hendak bersikap apolitis. NU hendak dijauhkan dari sikap politik elektoral meski secara realita hal demikian dinilai cukup rumit.

photo
Ketua Umum PBNU terpilih Yahya Cholil Staquf (kiri) berpelukan dengan mantan Ketua Umum PBNU Said Aqil Siroj (kanan) usai pemilihan Ketua Umum PBNU pada Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-34 di Universitas Lampung, Lampung, Jumat (24/12/2021). Yahya Cholil Staquf terpilih sebagai Ketua Umum PBNU periode 2021-2026 pada Muktamar NU ke-34 mengalahkan Said Aqil Siradj. - (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/foc.)

“Ya kecenderungannya, NU kan apolitis ya, ingin menjauhkan diri dari politik elektoral. Atau simpelnya, NU tidak cawe-cawe dalam urusan politik. Tapi bagaimana caranya? Ini yang agak rumit,” kata Adi saat dihubungi Republika, Rabu (29/12).

Dia menyebut bahwa pernyataan mengenai kembalinya NU ke khittahnya perlu dilakukan secara kebijakan, tidak cukup hanya pernyataan semata. Hingga saat ini pihaknya menilai, publik tengah menyorot kiprah dan juga arah kebijakan Gus Yahya dalam menakhodai NU sebagai sebuah ormas Islam besar di Indonesia.

Untuk itu, kata dia, apabila Gus Yahya menginstruksikan atau membuat sebuah kebijakan yang melarang kadernya untuk menjadi capres maupun cawapres, hal demikian seharusnya pun dilakukan apabila kadernya terlibat politik di tingkat pilkada.

“Kembali ke khittah, apakah kembalinya cuma setengah hati? Misalnya ikut capres-cawapres boleh, tapi jadi pejabat daerah masih. Ini yang kita masih lihat setengah hati,” kata dia.

 
Kembali ke khittah, apakah kembalinya cuma setengah hati? Misalnya ikut capres-cawapres boleh, tapi jadi pejabat daerah masih. Ini yang kita masih lihat setengah hati.
 
 

Dia menambahkan, NU sebagai ormas Islam yang besar di Indonesia harus mengembalikkan tujuan awal NU didirikan. NU mesti memberikan pemberdayaan dan pelayanan dalam bidang pendidikan, dakwah, hingga ekonomi umat.

Di sisi lain, dia menilai NU juga dihadapkan tantangan yang cukup besar agar dapat lepas dari bayang-bayang satu partai politik tertentu atau lebih. Namun demikian dia berharap NU dapat melakukan perwujudan garda terdepan suara umat Islam dan memberi pemberdayaan kepada kaum Nahdliyin, terutama yang berada di pedesaan yang selama ini tidak tersentuh.

';

Gus Yahya, dari Krapyak Menuju PBNU

Terpilihnya Gus Yahya sebagai Ketua Umum PBNU menarik untuk disimak.

SELENGKAPNYA
×