Warga menunjukkan status vaksinasi sebelum memasuki pusat perbelanjaan di Berlin, Jerman, Selasa (21/12/2021). | AP/Michael Sohn

Internasional

23 Dec 2021, 03:45 WIB

WHO: Eropa Harus Siaga

Omikron sebagian besar disebarkan kaum muda berusia antara 20 dan 30 tahun.

JENEWA – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan Eropa untuk bersiap menghadapi lonjakan kasus Covid-19 varian omikron. Varian tersebut telah menjadi dominan di beberapa negara Benua Biru itu.

“Kita dapat melihat badai lain datang. Dalam beberapa pekan, omikron akan mendominasi di lebih banyak negara di kawasan ini,” kata Direktur Regional WHO untuk Eropa Dr. Hans Kluge dalam konferensi pers di Wina, Austria, Selasa (21/12).

Dia mengungkapkan, omikron telah terdeteksi di setidaknya 38 dari 53 anggota WHO di kawasan Eropa. Omikron bahkan telah menjadi varian dominan di Inggris, Denmark, dan Portugal.

Menurut Kluge, dari semua kasus omikron yang terdeteksi di Eropa, 89 persen di antaranya memiliki gejala seperti varian lainnya, antara lain batuk, sakit tenggorokan, dan demam.

Kluge mengatakan, varian tersebut sebagian besar telah disebarkan kaum muda berusia antara 20-30 tahun. Kendati banyak yang belum diketahui tentang omikron, Kluge menduga varian itu lebih menular dibandingkan varian Covid-19 lainnya.

“Pemerintah Eropa harus terus meningkatkan kampanye vaksinasi mereka, memperkenalkan langkah-langkah tambahan untuk memperlambat penyebaran vaksin, dan mempersiapkan infrastruktur penting seperti sistem perawatan kesehatan untuk lonjakan (kasus) yang akan datang,” kata Kluge.

Kluge mengatakan, 27 ribu orang Eropa meninggal akibat Covid-19 pekan. Kawasan itu pun melaporkan 2,6 juta kasus tambahan. Meski jumlah kasus itu mencakup semua varian, tapi Kluge mencatat angka itu 40 persen lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

“Volume infeksi baru Covid-19 dapat menyebabkan lebih banyak rawat inap dan gangguan luas pada sistem kesehatan serta layanan penting lainnya,” ujarnya.

Saat ini sejumlah negara Eropa sudah memberlakukan pembatasan ketat. Belanda bahkan telah memberlakukan lockdown nasional mulai 19 Desember hingga 14 Januari.

Sementara para ahli kesehatan Jerman menyatakan, pembatasan yang saat ini berlaku mungkin tidak cukup membendung penularan omikron. Namun, mereka mengakui langkah yang disambil sudah benar.

"Aturan itu mungkin tidak akan mampu membendung bahaya yang disebabkan omkron," kata Janosch Dahmen, ahli kesehatan di koalisi yunior Partai Green, kepada televisi Deutschlandfunk.

Pada Selasa (21/12), Jerman memutuskan untuk membatasi pertemuan pribadi atau keluarga, menutup klub malam dan disko, serta melarang penonton di pertandingan sepak bola. Langkah itu akan diberlakukan mulai 28 Desember.

Jerman menghadapi sekitar 46 ribu kasus baru pada Rabu (22/12). Sedangkan angka kematian mencapai 510 orang.

Kepada televisi ARD, Menteri Kesehatan Jerman Karl Lauterbach mengatakan, "Yang telah diputuskan saat ini akan berlaku segera. Namun, saya tidak menyampingkan kemungkinan bahwa lockdown ketat mungkin harus dibahas jika jumlah kasus meningkat."

photo
Warga berjalan di sekitar pusat perbelanjaan di Berlin, Jerman, Selasa (21/12/2021). - (AP/Michael Sohn)

Australia waspada

Sementara itu, Perdana Menteri Australia Scott Morrison melakukan pertemuan khusus dengan para pemimpin negara bagian pada Rabu. Pertemuan ini digelar ketika negara bagian terpadat Australia memecahkan rekor lonjakan kasus baru Covid-19.

Australia telah memerangi varian omicron selama sekitar empat minggu.  Namun, kasus terus meningkat di negara bagian New South Wales dan Victoria yang padat penduduk. Victoria melaporkan 1.503 kasus pada Rabu. Dari jumlah tersebut, sekitar 60 di antaranya dilaporkan terkait dengan varian omicron.

Morrison mengatakan, mengenakan masker di dalam ruangan sangat disarankan. Morrison meminta seluruh warga untuk tetap tenang dan selalu mengikuti protokol kesehatan jelang liburan Natal dan Tahun Baru.

“Pesan saya adalah tetap tenang, ikuti langkah-langkah protokol kesehatan saat Anda memasuki (liburan) Natal,” kata Morrison.

Sumber : Reuters/Associated Press


×