Warga beraktivitas di area pemukiman padat penduduk di kawasan Tanah Abang, Jakarta, Senin (13/9/2021). Pada masa pandemi jumlah penduduk miskin kota yang mengalami kenaikan sebesar 0,01 persen atau 1,12 juta orang per Maret 2021. | Republika/Thoudy Badai

Internasional

27 Nov 2021, 03:45 WIB

IFRC: Ada Dampak Sekunder Pandemi

Varian baru membuat Eropa dan Asia memperketat perbatasan mulai Jumat.

JENEWA – Federasi Palang Merah Internasional dan Bulan Sabit Merah (IFRC) melaporkan masyarakat perkotaan atau yang sedang bermigrasi termasuk wanita mengalami dampak sosial-ekonomi pandemi Covid-19.

IFRC menunjukkan adanya konsekuensi sekunder pandemi Covid-19 pada pendidikan, angka pengangguran, kerentanan, kesempatan bagi anak-anak untuk berkarya, kesehatan mental, dan perekonomian dunia.

“Hasil riset menunjukkan dugaan dan kekhawatiran kita mengenai dampak sekunder yang dahsyat dari pandemi akan dirasakan masyarakat beberapa tahun mendatang. Individu akan semakin terpojok dengan dampak yang dirasakan dari perubahan iklim, kemiskinan, serta konflik," kata Presiden IFRC Francesco Rocca dalam siaran persnya, Jumat (26/11).

"Masyarakat yang awalnya dapat menghadapi semua ini akan berada pada posisi rentan dan membutuhkan bantuan kemanusian untuk pertama kalinya dalam hidupnya,” tambahnya.

Laporan ini turut memberi fokus lensa global pada  beberapa negara, yaitu Afghanistan, Kolombia, El Savador, Irak, Kenya, Lebanon, Filipina, Spanyol, Afrika Selatan, dan Turki. Secara keseluruhan, wanita dinyatakan mengalami dampak terbesar terhadap pendapatan, tingkat kerentanan yang lebih tinggi pada kekerasan berbasis gender, dan kesehatan mental dibanding pria.

photo
Seorang pedagang kaki lima yang beralih profesi menjadi badut jalanan mengamen di Perempatan Lokasana, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Selasa (24/8/2021). Badan Pusat Statistik Jawa Barat mencatat sebanyak 4,19 juta penduduk Jawa Barat mengalami kemiskinan secara finansial di masa pandemi Covid-19. - (ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/wsj.)

Pandemi juga meningkatkan kemiskinan masyarakat perkotaan lebih cepat jika dibandingkan dengan masyarakat yang tinggal di daerah. Individu yang bermigrasi kemungkinan akan kehilangan pekerjaan atau bekerja dengan waktu yang lebih sebenar dan diabaikan oleh perlindungan resmi untuk melindungi dirinya.

“Sebagai garda terdepan di masyarakat, Palang Merah dan Bulan Sabit Merah di seluruh dunia telah merespons untuk memberi bantuan yang dibutuhkan. Keahliannya dalam mengidentifikasi kebutuhan serta adanya ketidakadilan di tengah masyarakat membuat mereka berada pada posisi yang tepat untuk memberikan bantuan yang mendukung kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi diperlukan juga dukungan pada bidang finansial dan politik agar bantuan dapat dilakukan secara efektif,” kata Rocca.

Pada laporan ini juga dipaparkan tentang adanya ketidakadilan distribusi program vaksinasi. “Kita telah memperingatkan tentang ketidakadilan distribusi vaksin akan berdampak pada transmisi virus yang tinggi dan memperpanjang dampak dari pandemi ini,” katanya.

“Jika kita menomorduakan prinsip kemanusian dengan keuntungan finansial serta memberi kesempatan bagi negara kaya untuk memonopoli dosis vaksin maka kita tidak akan segera keluar dari pandemi ini,” kata Rocca menambahkan.

Menurut Rocca, dunia perlu membuka mata dan mengambil aksi konkret jika tidak maka pemulihan dari Covid-19 tidak akan menyeluruh.

Siaga varian Afrika

Negara-negara Eropa dan Asia memperketat perbatasan mulai Jumat. Ini terjadi setelah varian virus korona baru yang mungkin resisten terhadap vaksin terdeteksi di Afrika Selatan. Negara yang paling ketat menjaga perbatasan mereka antara lain Uni Eropa, Inggris, dan India.

Inggris melarang penerbangan asal Afrika Selatan dan sekitarnya. Warga Inggris yang baru bepergian dari kawasan tersebut diminta untuk menjalani karantina. Sedangkan Kepala Komisi Eropa Ursula bon der Leyen mengatakan, UE akan menghentikan perjalanan udara dari kawasan itu.

Badan Kesehatan Inggris mengatakan, varian baru ini memiliki duri protein yang amat berbeda dari varian awal virus korona yang vaksinnya dibuat. Akibatnya, muncul kekhawatiran bahwa vaksin yang saat ini ada dan sudah berhasil melawan varian delta, justru tidak akan mampu melawan varian Afrika Selatan ini. 

Sumber : Reuters


×