Foto udara permukiman dan kawasan pelabuhan di Jakarta, Selasa (19/10/2021). Ekonomi secara daring hanya bisa dilakukan dalam jangka pendek. | ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/aww.
26 Nov 2021, 03:45 WIB

Babak Belur Indonesia Akibat Pandemi Covid-19

Ekonomi secara daring hanya bisa dilakukan dalam jangka pendek.

JAKARTA -- Pandemi Covid-19 mempengaruhi seluruh dunia, termasuk Indonesia. Salah satu efeknya, sektor fiskal Indonesia yang terpengaruh.

Ekonom senior Didik J Rachbini menilai pamdemi Covid-19 membuat sektor fiskal terdampak. "Sektor fiskal kita itu babak belur dan proses pengambilan keputusannya kacau. Saya menyebutnya politik perbanditan," ujar Didik saat membuka diskusi publik 'Pandemi & Kebijakan Pemerintah: Evaluasi 2021', Rabu (24/11) malam.

Sebelum Covid-19 terjadi, pemerintah merencanakan obligasi sebesar Rp 650 triliun untuk membayar bunga pokok dan pembangunan. Kemudian, saat Covid-19 menghantam, kebijakan obligasi diubah menjadi Rp 1.220 triliun.

"Realisasinya sekarang Rp 1.500 triliun dan itu akibatnya buat (beban) presiden yang akan datang itu cukup berat, tidak semuanya bagus," kata pria yang juga menjabat sebagai rektor Universitas Paramadina tersebut.

Terkait

Didik memperhatikan sektor ritel yang juga babak belur dan akhirnya masyarakat beralih ke bidang e-commerce. Beruntung, kata dia, kini Covid-19 telah terkendali.

Di kesempatan yang sama, ekonom senior Bayu Krisnamurthi menambahkan, saat Covid-19 datang, sebenarnya tak ada orang yang tahu cara mengantisipasi Covid-19 dan tidak ada negara yang siap menghadapinya. Kemudian setelah dua tahun, Indonesia membuat potret, gambaran mengenai yang terjadi dalam dua tahun terakhir dari berbagai perspektif termasuk kebijakan pemerintah.

"Saat awal terjadinya Covid-19 atau tahap pertama, bidang kesehatan menghadapi Covid-19, mulai dari masalah oksigen, ruang isolasi, dokter, perawat, kemudian obat," katanya.

Dia melanjutkan, pemerintah melakukan isolasi atau karantina wilayah (lockdown) untuk menghentikan pergerakan warga. Setelah lockdown, yang tadinya dituju menghentikan mobilitas warga kemudian berdampak lebih signifikan pada krisis supply chain atau krisis logistik pergerakan barang. Sebab, truk yang mengantar barang tetap harus dikendarai oleh manusia. 

"Yang terjadi adalah krisis pasokan barang dan yang berimplikasi pada krisis ekonomi dan memasuki resesi. Jadi, sudah orang tak boleh bekerja, barang tak bisa bergerak, praktis ekonomi terhenti," ujarnya.

Ia mengatakan, memang aktivitas ekonomi bisa dilakukan secara online, tetapi itu sifatnya hanya jangka pendek. "Kemudian ini masuk ke tahap kedua dan resesi," kata pria yang juga mantan wakil Menteri Perdagangan tersebut.


×