IKHWANUL KIRAM MASHURI | Daan Yahya | Republika
08 Nov 2021, 03:43 WIB

Saudi-Lebanon Gonjang-ganjing, Gegara Menteri Penerangan

Sikap pribadi Qardahi membawa Lebanon pada keadaan bahaya dalam hubungannya dengan negara Teluk.

OLEH IKHWANUL KIRAM MASHURI

Pernyataan Menteri Penerangan Lebanon membuat murka Kerajaan Arab Saudi. Hubungan kedua negara pun panas. Bahkan pernyataan si menteri memicu gonjang-ganjing politik berkepanjangan. Bukan hanya antara Saudi dan Lebanon, tapi juga menyeret UEA, Kuwait, Bahrain, dan lainnya.

George Fouad Qardahi, menteri Penerangan Lebanon, menyatakan dalam acara televisi ‘Parlemen Rakyat’, "Kelompok Houthi di Yaman membela diri terhadap agresi dari luar." Ia menjawab pertanyaan pewawancara perempuan tentang perang di Yaman.  

Ketika ditanya lebih lanjut, apakah ia percaya yang dilakukan Saudi dan UEA adalah serangan terhadap Yaman, Qardahi mengatakan, "Jelas itu serangan. Perang di Yaman sia-sia dan harus dihentikan."

Terkait

Hanya itu yang dikatakan Qardahi tentang Yaman, dalam wawancara panjang berdurasi lebih dari satu jam, mengenai banyak hal. Namun, justru kata-katanya tentang perang di Yaman itu yang mambuat murka penguasa di Riyadh.

Pernyataan Qardahi itu sebenarnya berlangsung sekitar sebulan sebelum ia diangkat menteri penerangan dalam pemerintahan PM Najib Mikati, 10 September 2021. Video petikan wawancara Qardahi viral di media sosial sepekan terakhir ini

Bagi Saudi, perang di Yaman masalah sensitif. Keterlibatannya bermula saat memimpin ‘koalisi negara Arab’ menyerang Houthi. Serangan udara ‘Operasi Badai Penentu’ dilancarkan 25 Maret 2015, merespons permintaan Presiden Yaman Abd Rabbuh Mansour Hadi. Koalisi militer itu, antara lain, terdiri atas UEA, Kuwait, Bahrain, Mesir, Maroko, Yordania, dan Somalia, selain Saudi sendiri.

Presiden Mansour Hadi, sebelumnya wakil presiden (1994-2012). Pada 2012 saat Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh digulingkan revolusi rakyat, dikenal dengan Arab Spring, Hadi menggantikannya sebagai presiden.

 
Pernyataan Menteri Penerangan Lebanon membuat murka Kerajaan Arab Saudi. Hubungan kedua negara pun panas. 
 
 

Pada pemilu tahun yang sama, ia terpilih lagi sebagai presiden. Pada waktu itulah muncul Houthi melawan kekuasaan Hadi. Bahkan kelompok yang didukung Iran ini pada awal 2015 menguasai Sanaa dan mengepung istana presiden.

Presiden Mansour Hadi sempat mengundurkan diri saat menjadi tahanan rumah di istana presiden di Sanaa. Ketika berhasil menyelamatkan diri ke Aden pada Februari 2015, ia mencabut pengunduran dirinya, yang tidak pernah diproses parlemen itu. Berikutnya, ia meminta bantuan ‘Koalisi Negara Arab’, yang ia katakan, untuk menumpas kelompok pemberontak Houthi.

Operasi militer Koalisi Arab semula diperkirakan singkat, nyatanya lama. Hingga kini belum jelas bagaimana akhirnya perang di Yaman. Namun yang pasti, selama enam tahun perang, korban berjatuhan, termasuk warga sipil. Di sinilah mengundang banyak kritik.

 
Operasi militer Koalisi Arab semula diperkirakan singkat, nyatanya lama. Hingga kini belum jelas bagaimana akhirnya perang di Yaman.
 
 

Bagi Saudi dan negara Teluk lain, Yaman termasuk strategi menciptakan stabilitas di kawasan. Bagi mereka, kritik terhadap perang di Yaman tidak bisa diampuni.

Apalagi kritik itu dari seorang menteri sebuah negara yang mereka sebut sebagai ‘negara saudara sekandung’. Apalagi negara ini telah lama banyak dibantu ekonominya. Dan, masih banyak sederet apalagi lainnya.

Sebagai bentuk kemarahan, Saudi dan beberapa negara Teluk lainnya  menarik dubes mereka dari Beirut dan mengusir dubes Lebanon dari negara mereka. Negara-negara Teluk menghentikan semua impor barang dari Lebanon, juga melarang warganya ke Lebonon.

Mereka menuntut pemecatan Menteri Penerangan Qardahi, sebagai syarat normalisasi hubungan negara Teluk dengan Lebanon.

Qardahi (71 tahun), yang sepanjang kariernya malang-melintang di dunia pers, menolak mundur. Ia menganggap pernyataannya sebagai kebebasan berpendapat di alam demokrasi. Sikap Qardahi didukung Hizbullah.

Wakil Sekjen Hizbullah Lebanon Naim Qassem menilai, tindakan Saudi tak bisa dibenarkan. Ia menganggap sikap Saudi sebagai intervensi masalah dalam negeri Lebanon. Ia justru meminta Saudi untuk meminta maaf kepada Lebanon.

Di lain pihak, PM Lebanon Najib Mikati (66 tahun) tak secara tegas meminta George Fouad Qardahi mundur. Beberapa kali, ia hanya mengatakan agar Qardahi menggunakan hati nuraninya demi kepentingan nasional Lebanon.

Dalam pidato Kamis lalu, Mikati mengatakan, sikap pribadi Qardahi membawa Lebanon pada keadaan bahaya dalam hubungannya dengan negara Teluk.

Mikati baru menjabat pada 10 September 2021. Penunjukan politisi dan pengusaha kaya sebagai PM ini setelah Lebanon mengalami krisis dalam beberapa tahun terakhir. PM silih berganti dan sering tak mampu membentuk kabinet, akibat pertikaian politik.

 
Menurut perkiraan PBB, 80 persen warga Lebanon berjumlah 6,8 juta jiwa kini menjadi miskin hanya dalam beberapa tahun akibat berbagai krisis.
 
 

Bersamaan dengan itu, ekonomi pun nyaris ambruk. Berbagai aksi unjuk rasa marak dan keamanan masyarakat terganggu. Menurut perkiraan PBB, 80 persen warga Lebanon berjumlah 6,8 juta jiwa kini menjadi miskin hanya dalam beberapa tahun akibat berbagai krisis.

Penunjukan Mikati, ia pernah dua kali menjadi PM, diharapkan membawa Lebanon keluar dari berbagai masalah, utamanya kemiskinan. Apalagi Mikati yang Suni dikenal dekat penguasa negara-negara Teluk yang kaya.

Namun, pernyataan Qardahi membuat semuanya berantakan. Barang kali PM Mikati bisa meminjam peribahasa masyarakat Indonesia untuk mengingatkan menteri penerangannya: ‘Mulutmu adalah harimaumu!’


×