Masjid Assyafaah di Singapura terbilang unik. Sebab, bentuknya sekilas lebih menyerupai gedung perkantoran, alih-alih sebuah masjid. | DOK REDDIT

Arsitektur

07 Nov 2021, 21:19 WIB

Masjid Assyafaah: Nuansa Modern, Visi Transendental

Lahan Masjid Assyafaah berada dahulunya diisi dua masjid.

OLEH HASANUL RIZQA

Singapura terkenal sebagai sebuah negeri yang majemuk. Negara yang diapit Indonesia dan Malaysia itu merupakan rumah bagi masyarakat multietnis. Selain itu, ada banyak umat beragama yang hidup dengan relatif rukun di sana.

Kaum Muslimin menjadi salah satu elemen yang signifikan di Negara Kota Singa. Tidak mengherankan bila ada banyak masjid di negeri berpenduduk 5,6 juta jiwa itu. Salah satu tempat ibadah umat Islam yang cukup unik di sana ialah Masjid Assyafaah.

Dikatakan begitu karena wujud bangunannya tidak tampak seperti masjid-masjid pada umumnya. Penampilannya cenderung menyerupai sebuah kantor swasta. Barulah ketika diamati saksama, terdapat simbol-simbol keislaman di sana, semisal lambang bulan-sabit bintang dan kaligrafi teks Alquran beraksara Arab.

Aspek sejarah Masjid Assyafaah juga tak kalah menarik. Arsitek yang merancang tempat ibadah ini ialah Tan Kok Hiang. Direktur pendiri firma Forum Architects Pte Ltd itu merupakan seorang non-Muslim. Walaupun begitu, hasil karyanya ini membuktikan, ia mampu “menerjemahkan” konsep modern kontemporer ke dalam konteks keislaman.

Menukil dari laman Forum Architects, rancangan masjid tersebut memang sarat akan simbol-simbol religius. Sebagai contoh, deretan kerawang alumunium yang terdapat pada sisi sebagian tembok.

photo
Masjid Assyafaah dirancang oleh Tan Kok Hiang. Pendiri PT Forum Architecs itu, walaupun non-Muslim, terbukti bisa menghadirkan banyak nuansa simbol keislaman di sini. - (DOK Beautiful Mosque)

Pada pagi atau siang hari, sinar mentari dapat menelusup masuk melalui celah-celah itu. Bayangan yang terbentuk pada bagian dasar bercitra abstrak. Hal itu seakan-akan mengingatkan jamaah pada nilai-nilai transendental.

Tak jauh dari sana, terdapat struktur busur beton yang melengkung. Bentuknya kokoh menopang langit-langit. Formasi itu mengingatkan pengunjung pada kenyataan, setiap makhluk hendaknya selalu tunduk, bukannya justru mendongak pongah saat berjalan di muka bumi-Nya

Bagian dalam atau interior Masjid Assyafaah terkesan lapang. Nuansa itu ditunjang dengan langit-langit, terutama di ruangan utama, yang mengawang ke atas. Kok Hiang sengaja merancangnya demikian bukan hanya untuk alasan sirkulasi udara yang lebih sejuk. Struktur itu memancarkan skala. Siapapun yang terduduk di dalam ruang shalat akan merasa dirinya teramat kecil.

Begitulah keahlian sang arsitektur dalam menyajikan pesan-pesan islami yang tersirat, tanpa harus “mengarabkan” sebuah masjid. Menurutnya, bangunan ini memang dilandasi semangat multikultural.

Ia mengandaikan, seorang jamaah yang beretnis Cina datang ke sebuah tempat ibadah dengan nuansa kearaban yang kental. Bisa jadi, orang itu tidak serasa di rumah. Begitu pula yang terjadi kalau ada orang Timur Tengah, umpamanya, datang ke sebuah tempat ibadah dengan corak khas Tionghoa.

Maka, jalan tengahnya ialah menghadirkan suasana bangunan yang bisa “diterima” semua kelompok etnis masyarakat. Ini pun sejalan dengan karakteristik Singapura sebagai negara yang menghargai kebinekaan. Alhasil, konteks budaya yang beragam mesti terwakilkan dalam desan Masjid Assyafaah.

photo
Masjid Assyafaah dahulunya merupakan gabungan dari dua masjid di lokasi yang sama. - (DOK Beautiful Mosque)

Alih-alih mencampur-baurkan unsur-unsur kultural yang berbeda di sana, Kok Hiang menerapkan gagasan yang lebih “jauh.” Dalam arti, ia ingin agar jamaah tidak lagi memikirkan identitas budaya atau bahkan kedirian mereka saat di dalam masjid. Yang hendaknya menjadi pikiran ialah hubungan antara makhluk dan Tuhannya. Jadi, arahnya lebih ke nuansa transendental. Masjid adalah rumah Allah; di dalamnya semua orang sama, yakni sebagai hamba-Nya.

Kini, masjid yang beralamat di persimpangan Jalan Canberra dan JalanAdmiralty, Singapura utara, itu telah 19 tahun berdiri. Peletakan batu pertama masjid ini dilakukan pada 6 April 2002. Pembangunannya tuntas dua tahun kemudian.

photo
Masjid Assyafaah menghadirkan corak arsitektur modern kontemporer. - (DOK Beautiful Mosque)

Masjid yang terdiri atas empat lantai ini awalnya merupakan dua masjid, yaitu Masjid Naval Base dan Masjid Jumah Sembawang. Keduanya lantas dihancurkan. Di atas lahan masjid-masjid itu kemudian dibangun sebuah masjid baru yang lebih luas dan modern. Itulah Masjid Assyafaah.

Bangunan masjid terdiri dari ruang shalat utama, tempat wudhu, ruang kelas, ruang administrasi, ruang serbaguna, tempat shalat yang bisa diperluas, dan area parkir basement. Masjid yang pernah dipamerkan di Paviliun Singapura dalam pameran Venice Biennale 2004 ini memiliki luas bangunan 3.350 meter persegi dan mampu menampung hingga 4.000 orang jamaah. Majilis Ugama Islam Singapura (MUIS) merupakan pihak pengelolanya.

Masjid Assyafaah tidak hanya menjadi tempat pelaksanaan ibadah-ibadah wajib. Muslimin lokal pun menjadikannya pusat pelbagai kegiatan keislaman, seperti pengajian, syiar dakwah, dan lain-lain. MUIS juga kerap menerima orang-orang yang hendak menjadi mualaf di sana.

photo
Salah satu sudut dalam ruangan utama Masjid Assyafaah. - (DOK Beautiful Mosque)


×