Ustaz Dr Amir Faishol Fath | Republika

Khazanah

06 Nov 2021, 18:39 WIB

Kemuliaan Manusia

Manusia adalah makhluk yang paling Allah muliakan.

DIASUH OLEH USTAZ DR AMIR FAISHOL FATHPakar Tafsir Alquran, Dai Nasional, CEO Fath Institute

 

Manusia adalah makhluk yang paling Allah muliakan, “Walaqad karramnaa banii aadama.” (QS al-Isra’: 70). Syeikh Abul A’la al-Maududi menegaskan bahwa tema pokok Alquran adalah tentang manusia.

Dalam surah al-Fatihah sebagai pembuka Alquran ada kata “al alamiin”, maksudnya manusia. Surah terakhir penutup Alquran adalah surah an-Naas artinya manusia.

Di berbagai surah menyebar panggilan untuk manusia, “Yaa ayyuhannas” dan panggilan untuk manusia yang beriman, “Yaa ayyuhalladziina aamanuu”. Belum lagi adanya surah khusus dengan nama al-insaan, dan nama-nama para nabi, seperti surah Hud, Ibrahim, Yusuf, Muhammad, juga nama selain nabi seperti, surah Lukman, Maryam, dan sebagainya. Semua itu menunjukkan betapa mulainya manusia dalam Alquran. 

Allah SWT menyebutkan bahwa dalam diri manusia ada sebagain ruh-Nya: “Wanafakhtu fiihi min ruuhi.” (QS Shad: 72). Artinya, manusia secara fitrah memang sudah membawa keagungan Allah SWT.

Maka, tidak pantas manusia menghinakan dirinya dengan cara menyembah makhluk apalagi menyembah setan yang dilaknat oleh Allah SWT. Karena itu kita diajarkan agar selalu memohon perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk, “A’uudzu billaahi minsysyaithaanirrajiim”. 

Kata ar-rajiim artinya terkutuk, sebab setan pekerjaannya hanya membuat kerusakan di muka bumi. Sementara manusia bertugas membangun bumi, “Inni jaailun fil ardhi khalifah” (QS al-Baqarah: 30). Maka, jelas bahwa setan memang musuh bagi manusia.

Allah berfirman: “Alama a’laa a’had ilaikum yang banii aadama allaa ta’budusy syaithaan, innahuu lakum ‘aduwwun mubiin.” (Bukan aku telah berjanji kepadamu wahai anak Adam, janganlah sekali-kali menyembah setan karena setan itu adalah musuh yang nyata bagimu) (QS Yaasin: 60).

Isyarat yang paling kuat atas ketinggian derajat manusia adalah diperintahkannya malaikat bersujud kepada Nabi Adam, manusia pertama, “Usjuduu li aadama, fasajuduu illah iblis.” (Bersujudlah kepada Adam, maka para malaikat bersujud kecuali iblis) (QS al-Baqarah: 34).

Maksudnya sujud penghormatan bukan sujud ibadah. Ini untuk menunjukkan betapa tingginya derajat manusia di sisi Allah SWT. Maka, tidak ada pilihan bagi manusia kecuali harus menuhankan Allah, bukan menuhankan makhluk. 

Dalam ayat “illaa iblilis” (kecuali iblis) tampak bahwa iblis tidak mau bersujud kepada nabi Adam, mengapa? Sebab, ia ingin dirinya dimuliakan dengan alasan karena ia diciptakan dari api, sementara Nabi Adam diciptakan dari tanah. “Khalaqtanii min naarin wa khalaqtahuu min thiin.”

Padahal, kemuliaan itu bukan pada bahan penciptaan, melainkan pada ketakwaan dan ilmu, "Wa ‘allamaa aadamal asamaa kullaha.” (QS al-Baqarah: 31) dan “Iinna akramakum ‘indallahi atqaakum.” (QS al-Hujurat: 13). 


×