Ahmad Syafii Maarif | Daan Yahya | Republika
12 Oct 2021, 03:45 WIB

Pengusaha Itu Bernama KH

Segala rintangan dihadapi sebagai peluang untuk maju dan maju sambil belajar terus memperbaiki strategi bisnis.

OLEH AHMAD SYAFII MAARIF

Saya belum tentu orang baik tetapi orang baik dari berbagai status sosial dan jabatan sering mengunjungi saya selama beberapa tahun terakhir ini.

Ada menko, menteri, jenderal, mayjen, Kolonel, dirut bank, ketua BPK, gubernur, sekda, ketua parpol, komjen, irjen, kombes, AKBP, IPTU, AIPTU, para aktivis, pengusaha, rakyat jelata, pemungut sumbangan, dan juga para peminta sedekah.

Maksud kunjungannya macam-macam: silaturahim, curhat, minta masukan, dan sebagainya. Biasanya tamu-tamu itu diterima di rumah Nogotirto tetapi kadang-kadang di Perumahan Pesona Regency, Trihanggo, Yogyakarta, tergantung situasi.

Terkait

Pada 29 September 2021, antara pukul 11.30-12.35 WIB, tamu yang datang di Pesona Regency agak istimewa. Dia pengusaha bernama KH (singkatan nama Jepang), usia 61 tahun.

Selama satu jam lebih, KH bercerita panjang tentang silsilahnya, perusahaan crane (alat berat)nya yang berpusat di Cilegon (Tangerang) dan cabang-cabangnya di Indramayu, Bojonegoro, dan Papua.

 
Kesibukan KH mengurus perusahaannya sangat luar biasa. Dia memulai perusahaannya dari bengkel kecil yang ditanganinya sendiri.
 
 

KH pertama kali menemui saya di Bandara Soekarno-Hatta sekitar 2010. Setelah pertemuan itu, persahabatan berlanjut. Bahkan selama beberapa tahun, KH memberi sumbangan tiap bulan untuk Maarif Institute.

Kedatangannya ke Yogyakarta, dalam perjalanan ke Bojonegoro, mengurus cabang perusahaannya di sana. Dia sendirian membawa mobilnya, lengkap dengan peralatan prokes yang menyertainya. Sopir pribadinya lagi terpapar Covid-19.

Saya pesankan kepadanya agar hati-hati dalam perjalanan. Apalagi, KH tak bisa membaca petunjuk arah yang sudah lengkap tersedia di mobilnya, yaitu GPS (Global Positioning System). Ternyata mekanik semisal KH gagap menggunakan peralatan modern ini, apalagi saya.

Masalahnya terletak mau belajar apa tidak. Tidak sulit sama sekali. Penyakitnya sebagai orang tua hanya karena malas. Kesibukan KH mengurus perusahaannya sangat luar biasa. Dia memulai perusahaannya dari bengkel kecil yang ditanganinya sendiri.

Berkat ketekunan dan kerja keras, perusahaannya selama beberapa tahun berkembang menjadi besar dengan karyawan sudah dalam angka ribuan. Memang, keberhasilan hanyalah teruntuk mereka yang tekun ditopang semangat tinggi pantang menyerah.

Segala rintangan dihadapi sebagai peluang untuk maju dan maju sambil belajar terus memperbaiki strategi bisnis. Tidak saya tanyakan sudah berapa triliun nilai aset perusahaannya sekarang.

 
Segala rintangan dihadapi sebagai peluang untuk maju dan maju sambil belajar terus memperbaiki strategi bisnis. Tidak saya tanyakan sudah berapa triliun nilai aset perusahaannya sekarang.
 
 

Tidak lama setelah pertemuan di bandara di atas, saya dan Direktur Maarif Institute Fajar Zia Ul Haq diundang ke lokasi pusat perusahaannya di Cilegon. Dibangun di atas tanah yang cukup luas. Ditata rapi.

Karyawannya sudah terlatih disiplin tinggi. Pernah juga perusahaannya mengalami kesulitan likuiditas. KH meminta saya agar dihubungkan dengan dirut Bank BNI yang kala itu dipegang Achmad Baikuni, yang kebetulan saya kenal.

Saat singgah di Yogyakarta itu, KH masih menyebut tentang hal itu. Siapa KH ini sebenarnya? Wajah Jepangnya sangat kentara, sekalipun ibunya perempuan Mandailing marga Lubis. KH menjadi Muslim sejak kecil.

Dalam balasan WA-nya kepada saya, 2 Otkober 2021, KH menyebutkan, ayahnya bernama Minoru Hirota berasal dari Pulau Shikoku, Provinsi Kochi. Mulai bertugas di Pabatu, Tebing Tinggi, Sumatra Utara, pada 1942.

Pada 1946, ayahnya dengan nama Syamsudin itu bergabung dengan Angkatan Laut Indonesia sampai wafat di negeri ini. Minoru mendapatkan bintang gerilya dari Republik Indonesia.

Sebagai mantan tentara Jepang semasa PD (Perang Dunia) II, Minoru telah  bertempur di berbagai negara dalam ekspansi ambisius gerakan Asia Timur Raya Jepang.

KH berulang kali pergi ke Jepang untuk tapak tilas nenek moyangnya yang hanya dikenalnya sampai generasi kakeknya. Di atas itu sudah tidak bisa ditelusuri lagi. KH mahir berbahasa Jepang, sedangkan anak-anaknya sudah tidak paham lagi.

 
Penting untuk diketahui publik tentang perjalanan hidup KH tidak saja sebagai pengusaha berhasil yang berangkat dari nol, tetapi juga karena perjalanan hidupnya yang penuh warna.
 
 

Sewaktu ditanyakan siapa yang akan meneruskan perusahaannya ini. KH geleng-geleng kepala. Anak-anaknya tidak seorang pun yang berminat. Bahkan anak perempuannya menikah dengan pria Skotlandia dan telah diboyong ke negara itu.

Dengan demikan, darah keturunan KH ini sudah bercampur aduk dari berbagai gen. Istri KH campuran darah Minang dan Cilacap. Tidak saya tanyakan apakah anak-anaknya berwajah Jepang atau sudah wajah campuran.

Dalam perjumpaan itu, saya minta KH agar secepatnya menulis autobiografi. Bisa dengan meminta seorang penulis cakap melalui pendiktean.

Saya katakan, ini penting untuk diketahui publik tentang perjalanan hidup KH tidak saja sebagai pengusaha berhasil yang berangkat dari nol, tetapi juga karena perjalanan hidupnya yang penuh warna. Pasti menarik untuk diketahui orang banyak.

Dengan mengikuti kisah KH ini, siapa tahu naluri kewirausahaannya menular kepada anak negeri yang sebagian besar masih “merengek” ingin jadi pegawai negeri, seperti perjalanan hidup saya sendiri, sebuah mentalitas yang jauh dari sifat seorang pengusaha yang berjiwa merdeka dan kreatif. Pengusaha itu pemberi kerja, bukan pencari kerja! 


×