Tempat Pembuangan Sampah Suasana TPA Sumur Batu Bekasi, Jawa Barat, Kamis (18/10). TPA Sumur Batu adalah lokasi pembuangan akhir bagi sampah warga Bekasi | Republika/Adhi.W
11 Oct 2021, 10:44 WIB

Sampah di Kota Bogor Meningkat Sejak Mei

Permasalahan sampah harus menjadi perhatian bersama.

BOGOR -- Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bogor mencatat, volume sampah di Kota Bogor terus meningkat sejak Mei 2021. Diperkirakan, meningkatnya sampah disebabkan banyaknya orang yang bekerja dari rumah atau work from home (WFH).

Kabid Persampahan pada DLH Kota Bogor, Febi Darmawan, memaparkan, ada 480 ton hingga 500 ton produksi sampah per hari pada Mei 2021. 

“Dikarenakan mungkin banyak orang WFH, jadi sampah domestik dari rumah tangga sedikit meningkat dibanding dengan sebelumnya,” ujar Febi kepada Republika, Sabtu (9/10).

Tutupnya pusat perbelanjaan dan mal pada masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) pada awal Juli lalu, tidak memberi pengaruh signifikan terhadap timbulan sampah. Sebab, sampah paling besar berasal dari sampah rumah tangga.

Terkait

Febi menyebutkan, sampah-sampah tersebut nantinya diolah di 29 Tempat Pengelolaan Sampah Reuse, Reduce, dan Recycle (TPS3R) yang tersebar di Kota Bogor. Sebelumnya, sampah-sampah tersebut dipisahkan dulu antara sampah organik dan anorganik.

“Nanti residunya, sisanya, itu yang kita angkat. Sisanya yang terpilah bisa dimanfaatkan jadi organik untul budi daya maggot, kompos. Plastik kertas dimanfaatkan daur ulang sampah,” ucapnya.

Lebih lanjut, dia mengatakan, residu yang dihasilkan dari 29 TPS3R itu akan dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Galuga di Kabupaten Bogor. Di samping itu, DLH Kota Bogor juga tengah menyosialisasikan budi daya maggot kepada masyarakat. Sebab, dari ratusan ton sampah tersebut didominasi oleh sampah organik yang dapat diurai oleh ulat maggot.

Apalagi, 70 persen sampah yang dihasilkan masyarakat Kota Bogor berasal dari rumah tangga. Sementara itu, 30 sisanya merupakan sampah dari tempat usaha seperti pedagang, penyedia jasa, komersial, dan perkantoran.

“Sekarang kita lagi sosialisasikan budi daya maggot. Karena memang timbulan sampah yang dihasilkan itu paling banyak di Kota Bogor dari sampah organik,” jelas Febi.

Untuk rencana penggunaan Tempat Pemrosesan dan Pengolahan Akhir Sampah (TPPAS) Nambo, Febi mengatakan, Pemkot Bogor akan menggunakan TPPAS tersebut sebagai komitmennya kepada Pemprov Jawa Barat. Pemkot Bogor sendiri mendapat jatah atau kuota pembuangan dan pemrosesan sampah sebesar 400 ton per hari.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by DLH Kota Bogor (dlhkotabgr)

Namun, sambung Febi, belum ditentukan apakah Pemkot Bogor akan menggunakan seluruh kuota tersebut, atau tidak. Hal itu nantinya akan ditentukan ketika TPPAS Nambo benar-benar beroperasi pada 2022. Sambil menyiapkan anggaran untuk tipping fee, yang akan dibebankan di Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kota Bogor.

Tak hanya Bogor, sejumlah daerah lain pun mengalami peningkatan produksi sampah khususnya sampah rumah tangga. Di Jakarta Selatan, misalnya, pemerintah kota menargetkan dapat mengurangi produksi sampah sampai 300 ton per hari dari total produksi sampah yang kini mencapai 1.500 ton per hari.

Pelaksana tugas (Plt) Wali Kota Jakarta Selatan, Isnawa Adji, menyampaikan dari 1.500 ton produksi sampah setiap harinya sekitar 60 persen merupakan sampah organik. "Target itu harus dikeroyok bersama melalui upaya pengurangan sampah dari sumber. Kita masih di bawah tujuh sampai sepuluh ton per hari," kata Isnawa Adji.

Isnawa menuturkan, sejumlah upaya yang tengah digalakkan saat ini adalah dengan program 'Ayo Menabung Sampah' melalui bank sampah. Tidak hanya itu, Isnawa juga mengajak warga untuk menggiatkan pengelolaan sampah melalui eco enzime sebagai alternatif menekan produksi sampah organik dari rumah tangga.


×