Baraa Bolat | facebook
28 Sep 2021, 03:45 WIB

Vloger Muslimah Austria Berkisah Serangan Rasis

Austria belakangan menjadi negara yang kurang ramah terhadap Muslim.

OLEH RIZKY JARAMAYA, MEILIZA LAVEDA

Baraa Bolat dikenal sebagai vloger Muslimah di Austria. Pemakai hijab ini ternyata pernah menjadi sasaran serangan rasis di Wina, Austria.

"Ini benar-benar mengecewakan bagi saya, saya tidak tahu bagaimana harus bereaksi karena ini adalah pertama kalinya saya berada dalam situasi seperti itu," kata Bolat, dilansir Anadolu Agency, Senin (27/9).

Serangan itu terjadi di dalam bus kota. Bolat mengatakan, seorang wanita mendekati lalu menyuruh dirinya untuk kembali ke Turki, karena mengenakan hijab. "Dia berprasangka seperti itu, meskipun saya bukan dari Turki," ujar Bolat, warga Austria berdarah Tunisia.

Terkait

Bolat mengatakan, dia mengabaikan pernyataan rasis tersebut dan berjalan ke depan bus. Namun, pelaku tetap melontarkan pernyataan yang menghina dan rasis.

“Saya mengabaikannya sampai dia meludahi saya. Saya kemudian turun, dia mengikuti saya dan menyerang hijab saya, menariknya dengan sangat keras. Saya berteriak, tetapi dia tidak berhenti sampai saya mengeluarkan ponsel saya dan mulai mengambil gambar (dia), dia kemudian menyeberang ke sisi lain jalan," ujar Bolat.

Bolat membagikan kejadian tersebut di media sosial. Bolat mengatakan, dia harus mengambil sikap terhadap insiden ini. Menurutnya, pelecehan bersifat rasis tidak boleh dibiarkan.

“Saya harus mengambil sikap terhadap insiden ini, dan semua orang harus mempelajarinya. Terlepas dari mengenakan hijab atau tidak, apapun warna kulit, atau etnisnya, tidak ada yang boleh mengalami insiden semacam ini, dan ini tidak boleh diabaikan dalam hal apapun," kata Bolat.

Setelah video kejadian itu viral di media sosial, banyak orang menghubungi Bolat untuk memastikan dia dalam kondisi baik. Bolat telah mengajukan laporan ke otoritas polisi setempat. Bolat mengatakan bahwa penyerang rasis itu  sebelumnya menargetkan beberapa orang lain dengan cara yang sama.

“Saya bukan orang pertama yang diserang, diludahi oleh orang ini, sayangnya banyak wanita berhijab mengalami serangan serupa oleh orang yang sama. Jadi, dia harus menanggung akibatnya. Jika dia secara psikologis terganggu, maka dia harus dirawat di rumah sakit atau solusi lain harus ditemukan. Sungguh tak bisa diterima bahwa ada orang seperti itu di luar sana dan merugikan orang lain," kata Bolat.

Bolat menyesali bahwa ketika serangan rasis itu terjadi, tidak ada penumpang bus yang menolongnya. Menurut Bolat, mereka semua hanya menjadi penonton.

Bolat menambahkan, harus ada lebih banyak upaya dan kesadaran untuk membantu orang lain yang membutuhkan, terlepas apakah mereka memiliki latar belakang berbeda. 

Austria belakangan ini memang jadi negara yang kurang ramah terhadap Muslim. Bulan lalu, pengadilan Austria mengungkapkan pada Kamis penggerebekan yang dilakukan polisi pada tahun lalu terhadap aktivis dan akademisi Muslim guna memerangi terorisme adalah tindakan yang melanggar hukum.

Juru bicara Pengadilan Tinggi Graz Elisabeth Dieber mengatakan pihaknya mendapat pengaduan dari sembilan orang yang rumahnya digeledah oleh polisi pada 9 November 2020. Polisi beralasan bahwa para aktivis Muslim telah memberikan dukuangan finansial untuk terorisme dan memiliki hubungan dengan organisasi teroris.

Namun, tindakan tersebut dibenarkan oleh pengadilan. Dieber menyebut penggerebekan itu tidak sah. Pengadilan juga menyinggung tuduhan jaksa yang mengatakan aktivis Muslim adalah anggota kelompok Palestina Hamas dan Ikhwanul Muslimin. Padahal kelompok Ikhwanul Muslimin tidak dianggap sebagai organisasi teroris di Austria.

Sebelumnya, polisi Wina pada 9 November menggerebek 60 alamat dan menahan 30 aktivis dan akademisi Muslim dalam operasi yang dijuluki Operasi Luxor dengan tuduhan mendirikan organisasi teroris, dukungan keuangan untuk terorisme, pembentukan kejahatan terorganisir, dan pencucian uang.

Dikutip Daily Sabah, Kamis (5/8), polisi yang menggunakan kekuatan yang tidak proporsional terhadap orang-orang yang dikenal masyarakat dan memperlakukan mereka sebagai teroris. Hal ini tentu menimbulkan reaksi dari berbagai kelompok. Banyak organisasi nonpemerintah, jurnalis, dan penulis menyerukan agar masalah ini segera diklarifikasi.

Kekuatan polisi yang berlebihan selama penggerebekan telah meninggalkan bekas pada anggota keluarga yang menjadi sasaran kekerasan oleh aparat keamanan. Lebih dari sepuluh anak mulai menerima perawatan kesehatan mental setelah operasi. Sementara 30 orang yang ditahan dan keluarganya itu juga mengalami kesulitan keuangan selama dua bulan terakhir karena rekening bank mereka diblokir. 

 


×